BOROBUDURCHANEL – Ada nasihat seorang ayah yang barangkali lebih berharga daripada sebungkus uang saku, sepasang sandal baru, atau koper berisi pakaian ketika anaknya hendak berangkat mondok. Nasihat itu sederhana. Tidak memakai istilah pendidikan yang rumit, tidak pula mengutip sederet nama filsuf. Cukup sebuah sumur.
“Besok kamu sudah mau berangkat belajar ke pesantren. Bapak hanya bisa memberikan doa dan saran. Kamu mondok itu sama saja dengan menggali tanah untuk membuat sumur. Kalau yang kamu gali belum menemukan air, jangan sekali-kali pindah tempat. Galilah terus sampai airnya keluar dan bermanfaat.”
Begitulah kira-kira pesan seorang ayah kepada anaknya.
Saya kira, orang tua itu tidak sedang mengajari anaknya cara menggali tanah. Ia sedang mengajari cara menggali kehidupan.
Sebab, ada perbedaan antara menggali tanah dan menggali pengetahuan. Tanah yang digali memang bisa diukur kedalamannya. Sementara pengetahuan, siapa yang sanggup mengukur sampai di mana batasnya? Hari ini kita merasa sudah tahu, besok datang seseorang membawa pertanyaan yang membuat kita kembali merasa bodoh. Begitulah hidup. Semakin dalam kita menggali, semakin banyak pula yang belum kita ketahui.
Tetapi, ada satu perkara yang sering membuat orang berhenti di tengah jalan: tanah belum mengeluarkan air, lalu kita mengira tempatnya keliru.
Baru sebulan mondok, ingin pulang. Baru setahun belajar, merasa tidak cocok. Baru beberapa kali menemui kesulitan, sudah sibuk mencari jalan lain. Padahal, jangan-jangan airnya tinggal sejengkal lagi. Kita keburu pergi sebelum sampai pada sesuatu yang selama ini kita cari.
Zaman sekarang memang zaman yang gemar berpindah. Pindah pekerjaan, pindah tempat tinggal, pindah cita-cita, bahkan pindah keyakinan terhadap kemampuan sendiri. Belum selesai satu perkara, sudah tertarik pada perkara lain. Kita ingin hasil cepat, sementara hampir semua hal yang berharga meminta waktu.
Petani tentu mengerti soal ini. Orang yang menanam padi tidak bisa setiap pagi mencabut benihnya hanya untuk memastikan apakah akar sudah tumbuh. Ada masa untuk menanam, ada masa untuk merawat, dan ada masa menunggu. Kalau setiap hari tanaman dibongkar demi memeriksa akarnya, jangan-jangan yang ditemukan bukan padi yang subur, melainkan pekerjaan yang sia-sia.
Begitu pula seorang santri. Ia berangkat ke pesantren bukan untuk sekadar menumpuk hafalan, melainkan melatih kesabaran, membiasakan diri hidup sederhana, menghormati guru, mengendalikan keinginan, dan belajar menempatkan dirinya di antara orang lain. Semua itu tidak bisa dibawa pulang dalam satu malam. Ia harus tumbuh, pelan-pelan, seperti akar yang bekerja dalam gelap sebelum batangnya terlihat.
Tentu saja, nasihat menggali sumur bukan berarti seseorang harus bertahan di tempat yang salah dalam segala keadaan. Ada kalanya kita perlu mengubah cara, meminta pertolongan, atau mencari jalan lain. Namun, jangan tergesa-gesa menyebut jalan itu salah hanya karena hasilnya belum tampak. Ketekunan bukan keras kepala. Ketekunan ialah kesediaan untuk terus belajar, memperbaiki cara, dan tidak menyerah sebelum usaha sungguh-sungguh dilakukan.
Lalu ayah itu menyampaikan nasihat kedua.
“Ketika engkau pergi dari rumah dengan niat belajar, otomatis pintu surga sudah mengikutimu.”
Kalimat ini menarik. Biasanya orang membayangkan surga sebagai tempat yang jauh, sesuatu yang kelak didatangi setelah kehidupan dunia selesai. Tetapi, dalam nasihat ayah itu, surga justru seperti mengikuti langkah seorang anak yang pergi menuntut ilmu.
Tentu, surga bukan tiket yang otomatis diperoleh hanya dengan mengenakan sarung, membawa kitab, lalu tinggal di pesantren. Niat baik harus dibuktikan dengan perilaku baik. Ilmu mesti membuat seseorang lebih jujur, lebih rendah hati, lebih bermanfaat, dan tidak gampang merendahkan orang lain. Kalau semakin tinggi ilmunya semakin tinggi pula hidungnya, barangkali ada yang salah dalam cara ia belajar.
Tetapi, pesan ayah itu menyimpan keyakinan yang indah: perjalanan mencari ilmu bukan perjalanan yang sia-sia. Ada nilai ibadah dalam langkahnya, ada harapan dalam lelahnya, ada doa orang tua yang menyertai keberangkatannya.
Anak itu mungkin tidak segera memahami seluruh makna nasihat tersebut. Wajar saja. Nasihat orang tua kadang baru menemukan tempatnya bertahun-tahun kemudian, ketika rambut mulai memutih, ketika pengalaman mengajari sesuatu yang dahulu hanya terdengar sebagai kalimat biasa.
Barangkali pada suatu malam, ketika ia gagal dalam ujian, ia teringat sumur yang belum mengeluarkan air. Ketika merasa kalah oleh keadaan, ia teringat pesan untuk tidak lekas berpindah tempat. Dan ketika mulai merasa dirinya paling pandai, ia teringat bahwa tujuan belajar bukan untuk menjadi orang yang paling tinggi, melainkan menjadi manusia yang lebih berguna.
Pada akhirnya, pesan seorang ayah itu bukan hanya untuk anak yang hendak mondok. Ia juga untuk siapa saja yang sedang menggali jalan hidupnya sendiri.
Seorang guru yang sedang mengajar, petani yang sedang menanam, wartawan yang sedang mencari kebenaran, atau siapa pun yang bekerja dengan harapan agar hidupnya membawa manfaat bagi orang lain.
Jangan buru-buru meninggalkan tanah yang sedang kita gali. Periksa kembali cara kita bekerja, kuatkan kesabaran, dan ingat untuk apa kita memulai. Sebab, tidak semua usaha langsung memperlihatkan hasilnya. Ada yang membutuhkan waktu, ada yang meminta pengorbanan, dan ada pula yang baru kita pahami nilainya setelah bertahun-tahun berlalu.
Dan barangkali, inilah hikmah yang paling sederhana sekaligus paling sulit dilakukan: teruslah belajar tanpa merasa selesai, teruslah berusaha tanpa kehilangan arah, dan teruslah berbuat baik tanpa sibuk menghitung berapa banyak orang yang melihatnya.
Sebab, ilmu yang sejati bukan sekadar air yang berhasil kita temukan di dasar sumur. Ia adalah air yang kemudian dapat diminum orang lain.
Adapun surga, mudah-mudahan bukan hanya sesuatu yang kita harapkan kelak, melainkan juga jejak kebaikan yang kita tinggalkan sepanjang perjalanan.
Aris Munandar, petani dan tinggal di Magelang











