Kadang-kadang, yang membuat orang takut bukanlah apa yang sedang dilakukan, melainkan apa yang mungkin mereka bayangkan sedang dilakukan orang lain.
BOROBUDURCHANEL – Di Yogyakarta, ada nama-nama tempat yang bagi orang biasa mungkin cuma nama kecamatan, desa, atau pasar. Bambanglipuro di Bantul. Mlangi di Sleman. Kotagede dengan lorong-lorongnya yang menyimpan bau sejarah dan sisa kejayaan kerajaan.
Tetapi bagi sebagian aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) pada tahun 1980-an, nama-nama itu mempunyai arti lain. Ia bukan sekadar tempat. Ia adalah semacam garis perjuangan, tempat anak-anak muda dikirim untuk belajar menjadi pemimpin, atau lebih tepatnya, belajar bagaimana bertahan ketika menjadi pemimpin tidak selalu berarti berdiri di depan orang banyak.
Di sana, mereka belajar kepemimpinan, organisasi, keberanian, dan segala macam hal yang tidak tercantum dalam buku panduan latihan. Mereka belajar bagaimana menyelenggarakan sebuah training ketika orang-orang di luar sana menganggap kegiatan itu sesuatu yang patut dicurigai. Mereka belajar bagaimana menjawab pertanyaan yang sebenarnya bukan pertanyaan. Mereka belajar bahwa sebuah ruangan bisa menjadi sangat berbahaya hanya karena di dalamnya berkumpul sejumlah anak muda yang ingin membaca, berdiskusi, dan mempercayai sesuatu.
Ada tempat-tempat lain, tentu saja. Gunungkidul, Sewon, juga Pekuncen di Kota Yogyakarta. Di Kebumen, ada Petanahan. Di Wonosobo, ada Garung. Di Cilacap, ada Majenang. Di Kota Magelang, ada SMA Muhi yang namanya juga melekat dalam ingatan tentang kegiatan-kegiatan PII pada masa itu.
Nama-nama itu beredar dari mulut ke mulut, berpindah bersama cerita para senior, lalu menetap dalam ingatan para kader seperti alamat rumah seorang kawan yang selalu bersedia menerima tamu.
Bambanglipuro, Mlangi, Kotagede, Petanahan, Garung, Majenang, SMA Muhi. Masing-masing mempunyai cerita sendiri. Ada yang mengingat materi kepemimpinan, ada yang mengingat perdebatan sampai larut malam, ada yang mengingat nasi bungkus yang dimakan tergesa-gesa, dan ada pula yang barangkali lebih ingat bagaimana mereka harus menjelaskan kepada orang rumah mengapa pulang terlambat.
Sejarah organisasi memang sering ditulis melalui nama ketua, susunan pengurus, dan tanggal pelaksanaan kegiatan. Padahal, di balik semua itu, ada tempat-tempat yang tidak selalu tercantum dalam laporan resmi, tetapi justru menjadi bagian penting dari perjalanan organisasi.
Di Jawa Tengah, ada nama lain yang tak kalah sering disebut: Magelang.
Lebih tepatnya, Kauman, Muntilan.
Di kota kecil itu, jauh dari gemerlap Yogyakarta, ada kampung yang menjadi salah satu tempat penting bagi perjalanan PII ketika organisasi pelajar tersebut menghadapi tekanan akibat kebijakan asas tunggal Pancasila yang diberlakukan pemerintahan Orde Baru. Bagi sebagian orang, asas tunggal adalah kebijakan politik. Bagi sebagian yang lain, ia merupakan ujian tentang bagaimana sebuah organisasi mempertahankan keyakinan dan identitasnya di tengah tuntutan penyeragaman.
Bagi anak-anak muda yang hidup di dalamnya, semua itu tidak pernah sesederhana kalimat dalam buku sejarah.
Ada kegiatan yang digerebek petugas. Ada training yang dibubarkan. Ada peserta yang dikejar-kejar aparat. Ada pula masyarakat yang datang dengan wajah curiga, menganggap kegiatan yang tidak mereka pahami sebagai sesuatu yang sesat.
Kadang-kadang, yang membuat orang takut bukanlah apa yang sedang dilakukan, melainkan apa yang mungkin mereka bayangkan sedang dilakukan orang lain.
Kini, sebagian dari mereka sudah berusia enam puluh tahun atau lebih. Rambut mereka memutih, beberapa mungkin sudah bercucu. Mereka barangkali sudah lupa siapa yang pertama kali membacakan materi kepemimpinan, siapa yang paling keras berdebat, atau siapa yang diam-diam menangis ketika harus pulang sebelum training selesai.
Tetapi ada hal-hal yang tidak mudah hilang dari ingatan. Terutama hal-hal yang dahulu harus dilakukan dengan hati-hati, seolah-olah sebuah pertemuan kecil bisa mengubah nasib banyak orang.
Aris Munandar adalah salah seorang yang menyimpan ingatan itu.
Sejak kecil, ia sudah akrab dengan pengajian PII setiap malam Jumat di kampungnya. Pengajian itu bukan sesuatu yang istimewa. Anak-anak datang, duduk, mendengarkan, sesekali bercanda. Tidak ada yang menyangka bahwa dari pertemuan-pertemuan sederhana seperti itu seseorang bisa tumbuh menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah organisasi.
Ketika menjelang dewasa, Aris mengikuti Batra. Ia kemudian menempuh jenjang organisasi dari Forpadi, Forum Pacu Studi, di tingkat kelurahan, menjadi pengurus komisariat di tingkat kecamatan, sampai akhirnya dipercaya menjadi ketua pengurus di tingkat kabupaten.
Ia juga menjadi akrab dengan kantor-kantor pemerintahan.
Ketika teman-teman seusianya mungkin lebih mengenal ruang kelas, lapangan sepak bola, atau tempat nongkrong, Aris sudah terbiasa mendatangi kantor kecamatan dan kabupaten untuk mengurus perizinan kegiatan. Ia belajar menghadapi petugas, mengisi formulir, menunggu tanda tangan, menjelaskan maksud acara, dan menjawab pertanyaan yang kadang-kadang terasa lebih panjang daripada acara yang hendak diselenggarakan.
Ia masih SMA.
Tetapi rupanya, menjadi aktivis pada masa itu mengharuskan seseorang dewasa lebih cepat daripada umurnya.
Ia belajar bahwa sebuah surat izin tidak selalu berarti sebuah kegiatan akan berlangsung dengan aman. Ia belajar bahwa persetujuan hari ini bisa berubah menjadi penolakan besok pagi. Ia juga belajar bahwa keberanian tidak selalu berbentuk pidato berapi-api. Kadang-kadang, keberanian hanya berupa kesediaan menerima tamu pada saat semua orang lain menutup pintu.
Dan pada suatu hari, pintu-pintu itu benar-benar tertutup.
Wilayah Yogbes, yang mencakup Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan, sedang menghadapi keadaan yang tidak mudah. Ketika hendak menyelenggarakan training, panitia wilayah mendapati kenyataan bahwa tidak ada daerah yang bersedia menjadi tuan rumah.
Satu per satu tempat yang semula diharapkan bisa digunakan menyatakan keberatan. Ada yang tidak berani menanggung risiko. Ada yang khawatir terhadap kedatangan aparat. Ada pula yang memilih tidak terlibat sama sekali.
Penolakan itu menyisakan masalah yang sederhana sekaligus mengerikan: training harus segera dilaksanakan, tetapi tidak ada tempat untuk menyelenggarakannya.
Waktu terus berjalan.
Tinggal sehari sebelum pelaksanaan.
Di tengah kebuntuan itulah beberapa pengurus wilayah mendatangi Aris.
Mereka datang bukan untuk menghadiri pengajian malam Jumat. Mereka membawa persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan ceramah tentang kesabaran.
Mereka membutuhkan tempat.
Aris mendengarkan. Ia tahu keadaan sedang genting. Ia tahu apa yang mungkin terjadi apabila training itu diketahui petugas. Ia juga tahu bahwa menolak permintaan mereka berarti membiarkan sebuah kegiatan yang telah dipersiapkan berbulan-bulan kehilangan tempat hanya karena ketakutan.
Ia tidak sedang berdiri di atas panggung. Tidak ada peserta yang akan bertepuk tangan. Tidak ada orang yang akan memberinya piagam penghargaan apabila semua berjalan lancar.
Ia hanya seorang pemuda di Kauman, Muntilan, yang kebetulan mempunyai kampung.
“Siap,” katanya akhirnya. “Besok berangkat ke sini.”
Para pengurus wilayah itu memandangnya, seolah-olah ingin memastikan bahwa mereka tidak salah mendengar.
Tetapi Aris belum selesai.
“Ada syaratnya.”
Ia lalu menjelaskan beberapa hal yang harus dilakukan peserta. Setiap orang harus membawa tanda khusus yang telah ditentukan panitia. Kedatangan tidak boleh bergerombol. Maksimal dua orang. Setelah tiba di kampung, mereka harus langsung menuju sekretariat, tidak berlama-lama di jalan, tidak membuat keributan, dan tidak menarik perhatian.
Sesampainya di sana, peserta akan diatur untuk beristirahat di rumah-rumah penduduk.
Tidak ada rombongan besar. Tidak ada kerumunan yang mudah mengundang pertanyaan. Tidak ada orang yang berdiri di depan gang sambil berteriak menyebut nama organisasi.
Aris berbicara seperti orang yang sedang membagi tugas dalam sebuah pekerjaan biasa. Padahal yang sedang ia atur adalah kedatangan anak-anak muda dari berbagai daerah ke sebuah kampung yang akan menjadi tempat training ketika tempat-tempat lain menolak.
Para pengurus wilayah itu menyanggupi.
Malam itu, Kauman tetap tampak seperti Kauman yang biasa. Orang-orang pulang dari masjid. Beberapa rumah menyalakan televisi. Di gang-gang, percakapan kecil berlangsung sebagaimana mestinya. Tidak ada papan pengumuman yang menyatakan bahwa sebuah peristiwa penting akan terjadi esok hari.
Barangkali justru itulah yang membuat kampung itu dipilih.
Tidak ada yang tampak istimewa dari sebuah tempat yang tidak berusaha tampak istimewa.
Keesokan harinya, peserta mulai berdatangan.
Satu orang. Kemudian dua orang. Setelah itu, dua orang lagi.
Mereka datang dari berbagai daerah, membawa tas dan barang seperlunya. Sebagian membawa buku. Sebagian mungkin membawa pakaian ganti yang dilipat rapi. Mereka tidak datang seperti rombongan orang yang hendak mengikuti sebuah kegiatan besar. Mereka datang seperti orang-orang yang mempunyai urusan masing-masing di sebuah kampung.
Tidak ada Google Maps pada masa itu. Tidak ada telepon pintar yang bisa menunjukkan titik koordinat sekretariat. Tidak ada pesan instan yang dapat dikirim setiap kali seseorang tersesat di perempatan.
Namun mereka tiba di tempat yang benar.
Mereka telah mendapat petunjuk sebelumnya. Mereka tahu ke mana harus berjalan, siapa yang harus ditemui, dan bagaimana memasuki kampung tanpa membuat orang-orang menoleh terlalu lama.
Seolah-olah mereka sedang mengikuti sebuah peta yang tidak tercetak di atas kertas.
Peta yang tersimpan dalam kepala, disampaikan melalui percakapan, dan dijalankan dengan disiplin.
Aris mengawasi kedatangan mereka. Ia memastikan peserta yang tiba segera diarahkan ke tempat yang sudah disiapkan. Rumah-rumah penduduk menjadi tempat singgah. Sekretariat menjadi titik pertemuan. Sementara kampung di luar sana terus menjalani hari seperti biasanya.
Tidak ada yang berteriak, “Hidup PII!”
Tidak ada yang mengangkat tangan sambil meneriakkan slogan organisasi.
Bahkan orang yang tidak mengetahui apa pun tentang kegiatan itu mungkin tidak akan menduga bahwa beberapa rumah di Kauman sedang menampung anak-anak muda yang datang dari berbagai daerah untuk mengikuti training kepemimpinan.
Sampai kemudian, seseorang datang bertanya.
Petugas.
Kehadirannya membuat suasana yang semula tenang mendadak memiliki arti lain. Pertanyaan yang dibawanya sederhana, tetapi semua orang tahu bahwa kesederhanaan pertanyaan semacam itu tidak selalu berarti kesederhanaan akibatnya.
“Ada kegiatan apa di sini?”
Aris menghadapi petugas itu.
Sebelum menjawab, ia mungkin sempat mengukur keadaan. Berapa banyak peserta yang sudah tiba? Siapa yang sedang berada di sekretariat? Adakah orang yang belum sempat diarahkan ke rumah penduduk? Apakah ada sesuatu yang tampak tidak biasa dari luar?
Di luar sana, beberapa warga memang sedang berkumpul. Mereka sengaja duduk di depan kegiatan sambil menenggak minuman keras. Mulut mereka mengeluarkan bau alkohol yang tajam. Percakapan mereka tidak selalu jelas. Tawa mereka sesekali pecah tanpa alasan yang dapat dimengerti orang lain.
Pemandangan itu bukan sesuatu yang bisa disebut teladan kehidupan bermasyarakat.
Tetapi hari itu, tanpa mereka sadari, keberadaan mereka mengubah cara sebuah peristiwa dibaca.
Petugas melihat warga yang sedang minum-minum. Ia mendengar jawaban bahwa kegiatan yang berlangsung di dalam hanyalah pengajian kampung biasa. Tidak ada sesuatu yang perlu dibesar-besarkan, kata Aris, atau setidaknya begitulah kesan yang ia bangun melalui jawabannya.
Petugas itu melihat keadaan sekitar.
Ia mungkin membayangkan bahwa jika benar ada kegiatan yang luar biasa di dalam, suasana di luar tentu akan berbeda. Ia mungkin mengira sebuah kegiatan yang dianggap berbahaya oleh sebagian orang tidak akan berlangsung di tengah warga yang santai minum minuman keras di depan rumah.
Atau barangkali ia hanya ingin memperoleh jawaban yang cukup masuk akal untuk menyelesaikan tugasnya.
Bagaimanapun juga, petugas itu tidak menemukan alasan yang cukup untuk membuat keadaan menjadi lebih jauh.
Ia percaya.
Dan di situlah kisah yang semula dibayangkan akan menjadi kisah pengejaran, penggerebekan, dan orang-orang yang berlarian mencari jalan keluar, justru berhenti pada sesuatu yang nyaris lucu.
Sebuah training yang dianggap berbahaya berhasil melewati pemeriksaan awal. Bukan dengan pidato yang membakar semangat. Bukan dengan perdebatan panjang tentang kebebasan berserikat. Bukan pula dengan keberanian seseorang berdiri di hadapan petugas sambil menantang segala risiko.
Hari itu, semuanya berlangsung karena seorang pemuda mampu menjawab pertanyaan dengan tenang, sementara beberapa warga di luar sedang mabuk.
Sejarah kadang-kadang memang tidak mempunyai selera dramatik yang baik.
Ia bisa menempatkan perkara yang serius di tengah kejadian yang tampak remeh. Ia bisa membuat sebuah organisasi yang sedang berjuang mempertahankan ruang geraknya bergantung pada jawaban seorang pemuda SMA. Ia bisa membuat bau alkohol dari mulut beberapa warga menjadi bagian yang tak terduga dari cerita tentang kepemimpinan.
Namun jangan buru-buru menganggap semuanya selesai.
Petugas itu telah pergi. Tetapi bagi Aris, persoalan sesungguhnya belum tentu terletak pada petugas yang datang dan kemudian percaya.
Persoalannya adalah bagaimana memastikan training benar-benar berlangsung.
Bagaimana memastikan para peserta bisa berkumpul, belajar, berdiskusi, dan pulang dengan selamat.
Bagaimana memastikan bahwa keputusan menerima mereka ke Kauman bukan keputusan yang akan disesali oleh orang-orang yang rumahnya dipakai untuk menampung peserta.
Sebab di balik keberanian seorang pemuda, selalu ada orang-orang lain yang ikut menanggung akibatnya.
Ada tuan rumah yang membuka pintu. Ada keluarga yang menerima orang asing menginap di rumah mereka. Ada warga yang mungkin tidak memahami seluruh persoalan organisasi, tetapi bersedia membantu karena mengenal Aris sejak kecil. Ada orang-orang yang memilih diam, bukan karena tidak mempunyai pendapat, melainkan karena tahu bahwa pada keadaan tertentu, terlalu banyak bicara justru bisa membahayakan orang lain.
Barangkali di situlah Kauman memberikan pelajaran yang tidak tercantum dalam modul training.
Bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kemampuan menggerakkan massa. Ia juga soal kesanggupan membuat orang lain merasa cukup aman untuk melakukan sesuatu yang mereka yakini penting.
Dan bahwa keberanian tidak selalu milik orang yang paling keras suaranya.
Kadang-kadang ia milik seseorang yang membuka rumahnya.
Kadang-kadang ia milik seseorang yang datang dari jauh dengan berjalan berdua.
Kadang-kadang ia milik seorang pemuda yang berdiri di hadapan petugas, menjawab pertanyaan yang tampak sederhana, lalu kembali mengurus pekerjaannya seolah-olah tidak ada sesuatu yang luar biasa terjadi.
Beberapa hari kemudian, pada suatu malam, sebuah mobil Toyota Kijang datang lagi ke Kauman.
Mobil itu berhenti di dekat cakruk, persis di tikungan. Dari tempat itu, gedung Al Iman berada di belakang, bersebelahan dengan Masjid Al Fatah.
Malam berjalan seperti malam-malam sebelumnya.
Di sekitar cakruk, puluhan anak muda sedang nongkrong. Mereka bercakap-cakap, duduk bergerombol, dan mengisi waktu dengan berbagai obrolan yang tidak semuanya penting. Sebagian mungkin sedang membicarakan kegiatan organisasi, sebagian lagi membicarakan hal-hal yang biasa dibicarakan anak muda. Tentang teman, tentang kampung, tentang apa saja yang bisa membuat malam terasa lebih pendek.
Di antara mereka, ada tiga atau empat orang yang sedang minum minuman keras.
Salah satunya Aris Munandar.
Pemandangan itu tentu bukan sesuatu yang mudah dijelaskan apabila orang hanya melihatnya dari luar. Terlebih jika orang tersebut datang dengan membawa kecurigaan dan mempunyai alasan untuk menghubungkan sekelompok anak muda dengan kegiatan yang sedang menjadi perhatian aparat.
Beberapa petugas turun dari mobil.
Mereka mendekati anak-anak muda yang berkumpul di sekitar cakruk. Pertanyaan mulai diajukan. Ada apa di sini? Sedang melakukan kegiatan apa? Siapa saja yang berkumpul?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu, bagi orang yang tidak mempunyai pengalaman berurusan dengan petugas, mungkin terdengar biasa saja. Namun bagi Aris, yang sejak SMA sudah terbiasa keluar masuk kantor pemerintahan untuk mengurus perizinan kegiatan PII, pertanyaan itu bukan sesuatu yang sepenuhnya asing.
Ia tahu bahwa dalam keadaan tertentu, jawaban seseorang bisa membuat persoalan menjadi panjang. Ia juga tahu bahwa orang yang sedang bertanya belum tentu puas hanya dengan satu jawaban.
Maka Aris menjawab.
Ia menjawab pertanyaan demi pertanyaan, sementara dari mulutnya keluar bau alkohol yang tajam. Bau itu bukan bau yang perlu dicari-cari. Ia hadir begitu saja, bercampur dengan udara malam dan membuat siapa pun yang berdiri cukup dekat dapat mengenalinya.
Barangkali inilah bagian cerita yang paling sulit dipercaya oleh orang yang tidak pernah mengalami zaman itu.
Aris, yang dikenal sebagai aktivis PII, yang ikut mengurus kegiatan organisasi, yang memahami betapa pentingnya menjaga keberlangsungan training, malam itu justru berada di antara anak-anak muda yang sedang minum minuman keras. Dan ketika petugas datang, dialah yang menjawab pertanyaan mereka.
Tidak ada pidato tentang perjuangan.
Tidak ada penjelasan panjang tentang asas tunggal.
Tidak ada pula perdebatan mengenai hak organisasi pelajar untuk menyelenggarakan kegiatan.
Yang ada hanyalah seorang pemuda dengan bau alkohol di mulutnya, berhadapan dengan beberapa petugas yang datang menggunakan mobil Kijang.
Seandainya ada orang yang membuat film tentang peristiwa itu, mungkin penonton akan menunggu adegan ketika petugas tiba-tiba menemukan sesuatu yang mencurigakan. Musik latar akan meninggi. Kamera akan bergerak mendekati wajah Aris. Salah seorang petugas akan mengajukan pertanyaan yang membuat semua orang terdiam.
Tetapi kehidupan tidak selalu menyediakan adegan semacam itu.
Kadang-kadang, petugas hanya bertanya.
Seseorang menjawab.
Orang lain menunggu.
Dan malam terus berjalan.
Aris meladeni pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan tenang. Ia tidak perlu tampil seperti orang yang sedang memainkan peran. Ia memang berada di sana bersama anak-anak muda yang lain. Ia memang menjadi bagian dari kerumunan itu. Dan malam itu, yang tampak di hadapan para petugas adalah sekelompok pemuda yang sedang nongkrong, dengan beberapa di antaranya menenggak minuman keras.
Bukan gambaran yang lazim dilekatkan pada aktivis Islam yang dikenal militan.
Mungkin justru karena itulah suasana tersebut menjadi begitu ganjil.
Ada gedung Al Iman. Ada Masjid Al Fatah. Ada cakruk di tikungan. Ada mobil Kijang yang berhenti dengan rombongan petugas di dalamnya. Ada puluhan anak muda. Dan ada Aris yang menjawab pertanyaan sambil mengeluarkan bau alkohol dari mulutnya.
Jika semua unsur itu disusun dalam satu bingkai, hasilnya seperti sebuah lelucon yang ditulis oleh seseorang yang terlalu mengenal watak manusia.
Tetapi tidak ada yang tertawa keras malam itu.
Setidaknya, tidak ketika pertanyaan-pertanyaan masih berlangsung.
Sebab bagi Aris, pengalaman sebagai aktivis telah mengajarkannya bahwa sebuah keadaan tidak selalu harus dihadapi dengan menunjukkan seluruh hal yang diketahui seseorang. Ada kalanya orang cukup menjawab apa yang ditanyakan, tidak menambahkan sesuatu yang tidak diperlukan, dan membiarkan orang yang datang mengambil kesimpulannya sendiri.
Apakah petugas malam itu benar-benar mengetahui kegiatan PII yang sebelumnya berlangsung di Kauman? Apakah mereka datang untuk memeriksa sesuatu secara khusus, atau sekadar mendatangi kerumunan anak muda yang menarik perhatian? Apa yang sesungguhnya mereka pikirkan ketika mencium bau alkohol dari mulut Aris?
Ingatan seseorang mungkin menyimpan suasana dengan sangat jelas, tetapi tidak selalu mampu menjawab semua pertanyaan yang muncul puluhan tahun kemudian.
Yang tersisa adalah adegan itu: sebuah Kijang di tikungan, cakruk, gedung Al Iman, Masjid Al Fatah, dan seorang aktivis muda yang menghadapi petugas dalam keadaan yang sama sekali tidak heroik.
Justru di situlah letak antiklimaksnya.
Orang biasanya membayangkan bahwa aktivis yang menghadapi tekanan politik akan selalu tampil gagah, dengan wajah serius dan kalimat-kalimat penuh keyakinan. Padahal, orang-orang yang kelak disebut militan itu juga manusia biasa. Mereka bisa cemas, bisa salah langkah, bisa mengambil keputusan yang tidak mudah diterangkan, dan kadang-kadang bisa ditemukan dalam keadaan yang membuat orang lain menggelengkan kepala.
Aris bukan patung yang didirikan untuk mengenang perjuangan.
Ia seorang manusia.
Dan mungkin, karena itulah, kisahnya layak diingat.
Sebab sejarah organisasi tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang berdiri di podium, memimpin rapat, atau menandatangani surat keputusan. Sejarah juga dibentuk oleh orang-orang yang berada di tempat yang tidak terduga, pada malam yang tidak direncanakan menjadi bagian dari sejarah.
Malam itu, di tikungan Kauman, tidak ada yang tahu bahwa adegan tersebut kelak akan menjadi cerita yang diceritakan kembali setelah puluhan tahun berlalu.
Tidak ada yang mencatatnya dalam buku agenda.
Tidak ada yang menyusun notulen.
Tidak ada yang menganggap bau alkohol dari mulut Aris sebagai bahan penting untuk memahami sejarah PII.
Namun, ketika usia bertambah dan ingatan mulai memilih sendiri peristiwa mana yang ingin dipertahankan, justru adegan semacam itulah yang kadang-kadang muncul lebih dahulu daripada pidato-pidato.
Mungkin begitulah cara ingatan bekerja.
Ia tidak selalu menyimpan apa yang menurut orang lain penting. Ia menyimpan sesuatu yang melekat, yang membuat seseorang tersenyum ketika mengingatnya, atau terdiam beberapa saat sebelum memutuskan untuk menceritakannya.
Bagi orang yang tidak pernah mengalami masa itu, kisah Kauman mungkin terdengar ganjil. Bagaimana sebuah training harus mencari tempat ketika banyak daerah menolak? Bagaimana anak-anak muda datang satu per satu, berjalan berdua, lalu ditampung di rumah-rumah penduduk? Bagaimana seorang aktivis PII menghadapi petugas sambil membawa bau alkohol di mulutnya?
Tetapi bagi mereka yang hidup pada zaman itu, barangkali tidak ada yang terlalu aneh.
Mereka telah terbiasa menghadapi keadaan yang tidak selalu masuk akal.
Mereka mengenal Bambanglipuro, Mlangi, Kotagede, Petanahan, Garung, Majenang, SMA Muhi, dan Kauman bukan hanya sebagai nama tempat. Nama-nama itu adalah pintu masuk menuju pengalaman yang membentuk mereka, menuju persahabatan yang mungkin bertahan sampai tua, dan menuju cerita-cerita yang tidak pernah selesai diceritakan.
Peta itu kini mungkin sudah berubah. Jalan-jalan menjadi lebih lebar. Orang-orang membawa telepon pintar. Lokasi dapat dibagikan melalui aplikasi. Sebuah kegiatan bisa diumumkan kepada ratusan orang hanya dengan beberapa sentuhan jari.
Namun ada satu hal yang tidak bisa ditunjukkan oleh Google Maps.
Ia tidak dapat menunjukkan rumah mana yang pernah membuka pintunya ketika tempat-tempat lain menolak.
Ia tidak dapat menunjukkan gang mana yang pernah dilalui seorang peserta dengan perasaan cemas.
Ia tidak dapat menunjukkan wajah seorang pemuda yang berdiri di hadapan petugas, berusaha meyakinkan orang lain bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan, sementara di dalam kepalanya mungkin ada banyak sekali hal yang sedang diperhitungkan.
Dan ia tentu saja tidak dapat menunjukkan bahwa di Kauman, Muntilan, sebuah training kepemimpinan pernah menjadi mungkin karena ada orang-orang yang bersedia menerima risiko ketika orang lain memilih menjauh.
Ia juga tidak dapat menunjukkan sebuah Kijang yang berhenti di tikungan, sebuah cakruk yang diterangi lampu jalan, dan seorang aktivis muda yang menjawab pertanyaan petugas dengan mulut berbau alkohol.
Peta hanya menunjukkan tempat.
Selebihnya, manusia yang mengingatnya.
Dan Aris Munandar, bertahun-tahun kemudian, masih membawa Kauman itu di dalam kepalanya.
Mungkin ia tidak mengingat setiap tanggal. Mungkin ia sudah lupa siapa yang pertama kali tiba, siapa yang tidur di rumah penduduk yang mana, atau siapa yang paling keras berbicara ketika training berlangsung.
Tetapi ia masih bisa mengingat bagaimana rasanya ketika semua pintu tertutup, lalu beberapa orang datang meminta pertolongan.
Ia masih bisa mengingat jawaban yang keluar dari mulutnya ketika ia memutuskan menerima mereka.
Ia masih bisa mengingat anak-anak muda yang datang satu per satu, seolah-olah mengikuti peta rahasia yang tidak pernah dicetak.
Dan barangkali, sesekali, ia masih mengingat malam ketika sebuah mobil Kijang berhenti di tikungan, beberapa petugas turun, dan ia harus menjawab pertanyaan mereka sambil menahan bau alkohol yang keluar dari mulutnya sendiri.
Sejarah memang tidak selalu menyimpan orang dalam pose terbaiknya.
Kadang-kadang, sejarah menyimpan seseorang dalam keadaan yang membuatnya tertawa ketika sudah tua.
Tetapi justru di situlah manusia menjadi utuh. Tidak hanya sebagai aktivis yang berani, bukan hanya sebagai pemimpin yang mengambil keputusan, melainkan juga sebagai pemuda yang pernah menjalani masa mudanya dengan segala kekonyolan, kecemasan, keberanian, dan kekeliruan.
Di Kauman, malam itu, tidak ada patung yang didirikan. Tidak ada prasasti yang dipahat. Tidak ada upacara untuk mengenang orang-orang yang datang berdua.
Yang ada hanya kampung, rumah-rumah penduduk, sebuah gedung di belakang cakruk, masjid di sebelahnya, dan orang-orang yang menjalani hidup sebagaimana adanya.
Tetapi dari tempat-tempat seperti itulah sebuah generasi tumbuh.
Bukan karena mereka selalu menang.
Bukan karena mereka tidak pernah takut.
Melainkan karena, pada suatu hari ketika semua orang mengatakan tidak, masih ada seseorang yang bersedia menjawab:
“Siap. Besok berangkat ke sini.”
Dan untuk sementara, kalimat itu cukup untuk membuat sejarah terus berjalan.
Aris Munandar, petani dan tinggal di Magelang











