Pada malam ketujuh, Mbah Roso membawa lampu minyak ke sawah.
BOROBUDURCHANEL – Pagi itu, Mbah Roso menemukan seekor tikus tergeletak di antara batang jagung yang patah.
Tikus itu sudah mati. Kakinya terjepit perangkap kawat yang dipasang Mbah Roso malam sebelumnya. Tubuhnya kurus, bulunya kusam, dan mulutnya masih mengatup pada sebutir jagung muda yang belum sempat ditelannya.
Mbah Roso berjongkok.
“Nah,” katanya, “akhirnya ketemu juga.”
Ia tidak tahu apakah yang diucapkannya merupakan kemenangan atau sekadar kalimat yang sudah terlalu lama ingin diucapkannya. Selama beberapa malam, ia memasang perangkap, menaburkan abu di sekitar batang, menutup lubang-lubang tikus dengan tanah, bahkan duduk di pematang sampai larut malam dengan membawa sebatang bambu.
Semua itu dilakukannya untuk menyelamatkan jagung.
Tetapi pagi-pagi, ketika ia datang, batang-batang jagung tetap tumbang. Tongkol-tongkol muda tetap berlubang. Daun-daun tetap berserakan di tanah yang semakin keras.
Tikus-tikus itu seperti tidak pernah membaca pengumuman bahwa sawah tersebut milik Mbah Roso.
Mereka datang, menggigit, lalu pergi.
Mbah Roso mengangkat bangkai tikus itu dengan sepotong kayu. Ia membuangnya ke luar pematang. Tidak ada rasa kasihan. Setidaknya, begitulah yang ingin ia rasakan.
“Kalau kalian tidak merusak jagungku, aku tidak akan membunuh kalian.”
Ia berhenti sebentar, lalu tertawa pendek.
Sejak kapan tikus membutuhkan penjelasan tentang keadilan?
Musim kemarau sudah berlangsung terlalu lama.
Tanah pecah-pecah. Sumur mulai surut. Rumput yang biasanya tumbuh di pinggir pematang menguning dan rapuh ketika diinjak. Di beberapa tempat, tanah bahkan mengeluarkan debu hanya karena angin lewat.
Mbah Roso tahu kekeringan membuat semua makhluk kelaparan. Ia sendiri harus menghemat air untuk kebutuhan rumah. Untuk sawah, ia hampir tidak punya apa-apa lagi.
Tetapi ia tidak pernah menyangka tikus-tikus itu akan menyerang jagungnya sebelum sempat dipanen.
Pada awalnya hanya satu atau dua batang yang rusak. Ia mengira mungkin tikus lewat mencari makanan. Ia tidak terlalu memikirkannya.
Hari berikutnya, lima batang patah.
Lalu sepuluh.
Lalu ia menemukan tongkol-tongkol muda yang habis digerogoti.
Sejak itu, setiap pagi menjadi semacam pemeriksaan perkara. Mbah Roso berjalan dari satu baris ke baris lain, menghitung kerusakan, mencari jejak kaki, memeriksa batang, dan memungut jagung yang masih bisa diselamatkan.
Ia mulai mengenali lubang-lubang tikus. Ia tahu bagian pematang yang sering mereka lewati. Ia bahkan tahu bahwa tikus-tikus itu menyukai tongkol yang rambutnya mulai memerah.
Yang tidak diketahuinya ialah berapa banyak tikus yang tinggal di sana.
Setiap kali satu lubang ditutup, lubang lain terbuka. Setiap kali satu perangkap berhasil, beberapa batang jagung kembali rusak pada malam berikutnya.
Seolah-olah tikus-tikus itu mempunyai rapat sendiri.
Seolah-olah mereka membicarakan Mbah Roso.
“Orang tua itu memasang perangkap di sebelah timur,” barangkali kata seekor tikus.
“Kalau begitu, kita lewat barat.”
“Barat sudah ditutup tanah.”
“Gunakan lubang di dekat akar singkong.”
Dan mereka pun berangkat.
Tentu saja Mbah Roso tidak mendengar percakapan itu. Namun, setelah beberapa malam, ia mulai merasa sedang menghadapi lawan yang mengetahui semua gerakannya, sementara ia sendiri hanya bisa menduga-duga.
Ia tidak lagi sekadar menjaga jagung.
Ia mulai merasa dipermainkan.
Pada malam ketujuh, Mbah Roso membawa lampu minyak ke sawah.
Ia duduk di bawah pohon yang daunnya sudah jarang, dengan bambu di tangan dan mata yang terus mengawasi barisan jagung. Istrinya sudah berkali-kali menyuruhnya tidur.
“Kalau terus-terusan begitu, nanti kamu sendiri yang sakit,” kata istrinya.
“Kalau aku tidur, mereka datang.”
“Kalau kamu tidak tidur, kamu tetap tidak bisa menghentikan kemarau.”
Mbah Roso tidak menjawab.
Ada hal-hal yang tidak bisa dibantah, tetapi juga tidak bisa diterima begitu saja.
Ia duduk sampai tengah malam. Angin bergerak membawa debu. Dari kejauhan terdengar suara anjing menggonggong. Sekali-sekali ada bunyi sesuatu di antara batang jagung.
Mbah Roso mengangkat bambunya.
Seekor tikus berlari melintasi pematang.
Ia mengejar.
Tikus itu masuk ke balik batang yang rebah. Mbah Roso memukul tanah. Tikus itu menghilang. Ia memukul lagi, kali ini mengenai batang jagung yang masih berdiri.
Batang itu patah.
Mbah Roso terdiam.
Ia telah merusak jagungnya sendiri.
Ia menatap bambu di tangannya, lalu memandang kegelapan di antara tanaman. Untuk sesaat, ia merasa tikus-tikus itu sedang menertawakannya.
Ia duduk kembali.
“Keluar kalian!” teriaknya.
Tidak ada jawaban.
“Kalau memang lapar, keluar! Jangan merusak diam-diam!”
Seekor jangkrik berbunyi dari rerumputan kering.
Mbah Roso mengarahkan wajah ke sumber suara itu.
“Kamu bukan tikus, kan?”
Jangkrik itu terus berbunyi.
Mbah Roso tertawa sendiri, lalu menutup wajah dengan kedua tangannya.
Sudah lama ia tidak merasa sebodoh malam itu.
Keesokan harinya, kerusakan bertambah parah.
Bukan hanya batang yang patah. Sejumlah tongkol muda habis digigit sampai ke bagian pangkalnya. Di dekat pematang, Mbah Roso menemukan tanah yang berantakan, dengan beberapa lubang baru di bawah akar jagung.
Ia berdiri lama.
Lalu sesuatu di dalam dirinya seperti putus.
“Baiklah,” katanya.
Ia pulang, mengambil cangkul, kemudian kembali ke sawah. Satu demi satu lubang tikus dibongkarnya. Tanah yang kering diangkat, akar-akar tersingkap, dan beberapa lorong kecil ditemukan di bawah permukaan.
Di salah satu lorong, ia melihat tiga ekor tikus kecil meringkuk.
Mereka belum pandai berlari. Tubuhnya mungil, matanya tertutup atau baru terbuka sedikit. Di dekatnya ada sisa-sisa jagung.
Mbah Roso mengangkat cangkul.
Ia ingin menghantam mereka.
Tetapi tangannya berhenti.
Tiga makhluk kecil itu tidak tampak seperti perusak sawah. Mereka tampak seperti sesuatu yang baru saja lahir ke dunia tanpa pernah meminta dilahirkan.
Mbah Roso menurunkan cangkulnya.
Ia teringat bahwa tikus dewasa yang tertangkap perangkap beberapa hari lalu juga kurus. Ia teringat tanah yang tidak lagi menumbuhkan rumput. Ia teringat sawah-sawah tetangga yang mulai kosong. Bahkan burung-burung pun semakin jarang terlihat.
Barangkali tikus-tikus itu memang sedang kelaparan.
Tetapi bukankah dirinya juga sedang kelaparan akan hasil panen?
Ia membutuhkan jagung untuk membayar utang pupuk. Ia membutuhkan uang untuk membeli beras, minyak goreng, dan kebutuhan rumah. Ia juga harus menyediakan pakan bagi kambing-kambingnya.
Tikus-tikus itu membutuhkan jagung untuk hidup.
Mbah Roso membutuhkan jagung untuk membuat hidupnya tetap berjalan.
Di antara kebutuhan mereka, tidak ada yang bisa dianggap remeh. Namun, hanya satu pihak yang memiliki sawah, membayar benih, menanggung kekeringan, dan harus menjelaskan kerugian kepada keluarga.
Dan pihak itu bukan tikus.
Mbah Roso menimbun kembali lorong tersebut dengan tanah. Ia tidak tahu apakah ia baru saja menyelamatkan tiga ekor tikus atau membiarkan kerusakan berikutnya terjadi.
Ia hanya tahu bahwa cangkulnya terasa berat.
Sore itu, ia membawa jagung yang rusak ke kandang.
Kambing-kambingnya menyambut dengan embikan panjang. Mereka telah berhari-hari diberi rumput kering dan ilalang menguning. Begitu jagung diletakkan di hadapan mereka, kepala-kepala itu segera merunduk.
Kriuk, kriuk, kriuk.
Mbah Roso memperhatikan mereka.
Lucu, pikirnya, betapa jagung yang sama dapat mempunyai nasib berbeda bergantung pada siapa yang memakannya.
Tikus menggigit jagung di sawah dan disebut hama.
Kambing memakan jagung yang dibawa ke kandang dan disebut ternak yang harus dipelihara.
Tikus mengambil tanpa izin, kambing menunggu suguhan.
Tikus membuat petani marah, kambing membuat petani merasa masih berguna.
Padahal keduanya mengunyah dengan rahang yang sama-sama bergerak. Keduanya tidak tahu berapa rupiah harga benih. Keduanya tidak memahami berapa lama petani menunggu hujan.
Yang membedakan mereka bukan semata-mata selera.
Yang membedakan mereka ialah hubungan dengan manusia.
Kambing hidup dalam pagar yang dibuat manusia. Tikus hidup di luar pagar itu, tetapi lapar tidak mengenal batas pematang.
Mbah Roso mengelus punggung seekor kambing.
“Kamu enak,” katanya. “Kalau makan, aku yang memberimu. Kalau kenyang, kamu tidur. Kamu tidak perlu memikirkan apakah jagung ini hasil panen atau sisa kegagalan.”
Kambing itu mengunyah.
“Tapi kalau aku tidak punya jagung lagi, bagaimana?”
Kambing itu mengangkat kepala, menatapnya sebentar, kemudian kembali mengunyah.
Mbah Roso tersenyum hambar.
Setidaknya kambing itu tidak berpura-pura memahami penderitaannya.
Malam berikutnya, Mbah Roso kembali ke sawah.
Ia membawa lampu, bambu, dan beberapa perangkap. Ia sudah memutuskan untuk menyelamatkan jagung yang tersisa, apa pun caranya.
Ia tidak bisa terus-menerus membiarkan tikus-tikus itu menang.
Ia memasang perangkap di dekat lubang, mengikat beberapa batang jagung agar tidak mudah rebah, lalu duduk di pematang. Ia bahkan membawa sepotong singkong rebus untuk mengganjal perut.
Menjelang tengah malam, seekor tikus muncul.
Mbah Roso menahan napas.
Tikus itu berhenti di dekat perangkap. Hidungnya bergerak-gerak. Ia mengendus tanah, memutar tubuh, lalu berjalan ke arah batang jagung yang paling dekat.
Mbah Roso menggenggam bambu.
Tikus itu menggigit pangkal batang.
Mbah Roso berdiri.
“He!”
Tikus itu berlari.
Mbah Roso mengejarnya, tetapi ia tersandung retakan tanah. Tubuhnya jatuh ke depan. Lampu minyak terlepas dan hampir padam.
Ketika ia bangkit, tikus itu sudah menghilang.
Di hadapannya, satu batang jagung tergeletak.
Mbah Roso memungut lampu. Tangannya gemetar, bukan hanya karena marah, melainkan juga karena lelah. Lututnya nyeri. Punggungnya terasa seperti dipukul. Ia telah kehilangan tidur selama beberapa malam, sementara kerusakan terus bertambah.
Ia menatap batang jagung itu.
Kemudian ia menatap langit.
“Kalian mau jagungku?” katanya, kali ini tidak berteriak. “Ambillah. Tapi apa yang harus kumakan kalau kalian mengambil semuanya?”
Angin lewat.
Tidak ada jawaban.
Ia mengangkat bambu lagi, tetapi tidak ada tikus yang muncul. Barangkali mereka sudah pergi. Barangkali mereka menunggu sampai ia pulang.
Mbah Roso mendadak memahami sesuatu yang membuatnya semakin marah.
Ia tidak sedang berperang melawan musuh yang bisa dikalahkan dengan satu pukulan.
Ia sedang berperang melawan kelaparan.
Dan kelaparan tidak pernah mati hanya karena satu tikus terjepit perangkap.
Pagi harinya, Mbah Roso tidak memasang perangkap lagi.
Ia pergi ke sawah dan berdiri di antara batang-batang yang rusak. Tanah di bawah kakinya keras. Tongkol-tongkol muda yang tersisa tidak akan tumbuh sempurna. Bahkan jika hujan turun hari itu, ia tidak yakin tanaman-tanaman tersebut bisa pulih.
Ia mengambil sabit.
Satu demi satu batang jagung dibabatnya. Daun-daun dikumpulkan. Tongkol muda dimasukkan ke dalam karung. Ia bekerja tanpa tergesa-gesa, seakan-akan sedang menyelesaikan sesuatu yang telah lama ia ketahui akhirnya.
Menjelang siang, sebagian besar jagung telah dibersihkan.
Ia mengangkutnya ke kandang.
Kambing-kambing segera mendekat.
Kriuk, kriuk, kriuk.
Mbah Roso duduk di dekat pintu. Ia melihat jagung yang gagal panen itu habis dikunyah. Tidak ada yang tersisa kecuali serpihan batang.
Di kejauhan, seekor tikus muncul di tepi pematang.
Mbah Roso melihatnya.
Tikus itu berhenti, lalu memandang ke arah sawah yang kini hampir kosong.
Untuk sesaat, keduanya saling memandang.
Mbah Roso mengambil batu kecil dari tanah.
Ia bisa melemparkannya. Ia bisa mengejar tikus itu sampai ke lubangnya. Ia bisa mengutuknya, menyebutnya pencuri, menyebutnya perusak, menyebutnya segala macam nama yang sudah berputar-putar dalam kepalanya selama beberapa malam.
Tetapi ia hanya menggenggam batu itu.
Tikus itu berlari lebih dahulu.
Mbah Roso meletakkan batu kembali.
“Pergilah,” katanya.
Ia tidak sedang memaafkan tikus. Ia juga tidak sedang mengakui kekalahan. Ia hanya sudah terlalu lelah untuk meneruskan perang yang tidak memberikan kemenangan kepada siapa pun.
Tikus itu mungkin akan mencari makanan di tempat lain. Mungkin akan kembali jika ada jagung yang tumbuh lagi.
Mbah Roso tidak tahu.
Ia hanya tahu bahwa sawahnya telah kosong, kambingnya kenyang, dan dirinya masih harus mencari cara untuk melewati hari esok.
Sore itu, awan berkumpul di kejauhan.
Mbah Roso keluar rumah dan memandang langit. Awan-awan itu bergerak lambat, kelabu di bagian bawah, tetapi tidak ada tanda bahwa mereka akan menumpahkan hujan.
Ia menunggu.
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Kemudian angin bertiup, membawa debu dari jalan desa. Awan-awan itu beringsut menjauh.
Tidak ada setetes pun air jatuh.
Mbah Roso tertawa kecil.
Ternyata ia telah menghabiskan begitu banyak tenaga untuk melawan tikus, sementara musuh yang paling besar tidak pernah muncul di hadapannya.
Tikus bisa ditangkap. Lubangnya bisa ditutup. Batangnya bisa dijaga.
Tetapi bagaimana seseorang hendak menangkap kemarau?
Bagaimana seseorang hendak memasang perangkap bagi langit yang tidak menurunkan hujan?
Ia kembali ke kandang. Kambing-kambingnya sedang berbaring, mengunyah sisa makanan dengan tenang. Di luar pagar, seekor tikus melintas di antara rerumputan kering.
Mbah Roso tidak mengejarnya.
Besok, mungkin ia akan membersihkan sawah. Minggu depan, mungkin ia akan mencari benih lain. Jika hujan datang, mungkin ia akan menanam kembali.
Ia belum tahu.
Yang ia ketahui hanya ini: ketika jagung tumbuh lagi, ia akan kembali menjaga sawahnya. Bukan karena ia membenci tikus, melainkan karena ia juga harus hidup.
Dan jika tikus-tikus itu datang lagi, ia mungkin akan memasang perangkap.
Sebab, memahami kelaparan tidak berarti harus menyerahkan seluruh makanan kepada mereka yang lapar.
Ada batas antara mengerti dan membiarkan. Ada batas antara belas kasihan dan kehilangan segala-galanya.
Mbah Roso menutup pintu kandang.
Di luar, tanah tetap mengering.
Di bawah tanah, tikus-tikus mungkin sedang mencari lubang baru.
Dan di dalam rumah, seorang petani tua mulai menghitung berapa lama lagi ia bisa bertahan.
Perang itu belum selesai.
Bukan karena Mbah Roso belum menemukan cara untuk mengalahkan tikus, melainkan karena tidak ada satu pun dari mereka yang bisa hidup hanya dengan kemenangan.
Tikus membutuhkan makanan.
Kambing membutuhkan suguhan.
Petani membutuhkan panen.
Dan semuanya, pada akhirnya, membutuhkan hujan.
Hanya saja, hujan tidak pernah berjanji akan datang tepat ketika seseorang membutuhkannya.
Aris Munandar, seorang petani tinggal di Magelang











