Peringatan Hari Santri tidak hanya berkaitan dengan kegiatan seremonial.
MAGELANG, BOROBUDURCHANEL – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi kesempatan bagi kalangan pesantren di Magelang untuk meneguhkan peran santri dalam pendidikan, kehidupan sosial, dan pembangunan bangsa. Sejumlah kegiatan keagamaan dan perlombaan telah digelar di Kabupaten Magelang menjelang peringatan yang jatuh pada Kamis (22/10/2026).
Hari Santri tahun ini mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Kementerian Agama menetapkan tema tersebut untuk mendorong santri tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga mengembangkan karakter, kreativitas, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kemandirian ekonomi.
Dalam panduan resmi Kementerian Agama, upacara Hari Santri dijadwalkan berlangsung serentak pada Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 07.00 waktu setempat. Namun, informasi mengenai lokasi, jumlah peserta, dan susunan upacara khusus di Kota Magelang maupun Kabupaten Magelang masih perlu dikonfirmasi kepada instansi terkait.
Festival Keagamaan Meriahkan Rangkaian Hari Santri
Salah satu kegiatan yang telah berlangsung di Kabupaten Magelang adalah Festival Rebana, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), dan Musabaqah Qira’atul Kutub (MQK). Kegiatan tersebut dibuka Wakil Bupati Magelang Sahid pada 12 Oktober 2026 di halaman Masjid Agung Jawa Tengah An-Nuur, Sawitan, Kota Mungkid.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang bagi santri untuk menunjukkan kemampuan dalam seni musik Islami, membaca Al-Qur’an, serta mendalami khazanah keilmuan Islam melalui kitab-kitab yang dipelajari di pesantren.
Selain itu, Pondok Pesantren Ma’alim Ma’had Aly Muhammadiyah Kabupaten Magelang menggelar Santri MU Fest 1 pada 21–23 Oktober 2026. Kegiatan tersebut mencakup sejumlah perlombaan, olahraga, dan pengajian.
Sebelumnya, Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) Kabupaten Magelang juga menggelar babak final pada 9 September 2026. Kegiatan itu diikuti 291 santri dari 21 kecamatan sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Santri.
Berbagai kegiatan tersebut memperlihatkan beragam bentuk pembinaan santri, mulai dari penguatan kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’an, pengembangan seni keagamaan, hingga aktivitas yang mendukung kebersamaan dan pembentukan karakter.
Dari Tradisi Pesantren Menuju Kemandirian Ekonomi
Peringatan Hari Santri tidak hanya berkaitan dengan kegiatan seremonial. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana pesantren mampu memperkuat kualitas pendidikan sekaligus membekali santri dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat.
Kemandirian ekonomi menjadi salah satu perhatian dalam agenda Hari Santri Nasional 2026. Kementerian Agama juga memasukkan pameran kemandirian pesantren dalam rangkaian kegiatan nasional tahun ini.
Dalam konteks Magelang, penguatan pendidikan pesantren dapat berjalan beriringan dengan pengembangan kewirausahaan, pertanian, pengolahan pangan, dan usaha produktif berbasis potensi lokal. Pengembangan tersebut membutuhkan pendampingan, akses pasar, keterampilan manajemen, serta dukungan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pesantren.
Dengan demikian, keberhasilan pembinaan santri tidak cukup diukur dari banyaknya perlombaan atau kemeriahan peringatan. Perlu pula dilihat sejauh mana pendidikan pesantren memberikan bekal bagi santri untuk bekerja, berwirausaha, mengembangkan ilmu, dan berkontribusi bagi masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan.
Mengingat Sejarah, Menjawab Persoalan Masa Kini
Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Tanggal tersebut merujuk pada Resolusi Jihad yang diserukan ulama pada 22 Oktober 1945, yang menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Semangat perjuangan itu memiliki konteks berbeda pada masa kini. Jika generasi terdahulu menghadapi perjuangan mempertahankan kemerdekaan, santri masa sekarang menghadapi tantangan peningkatan kualitas pendidikan, perubahan teknologi, kesenjangan ekonomi, persoalan lingkungan, serta kebutuhan menjaga persatuan di tengah masyarakat yang beragam.
Karena itu, tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” menempatkan santri bukan semata-mata sebagai pewaris tradisi keagamaan, melainkan juga sebagai bagian dari generasi yang diharapkan berkontribusi dalam pembangunan Indonesia.
Di Magelang, rangkaian kegiatan keagamaan yang telah berlangsung dapat menjadi pijakan untuk memperkuat pembinaan tersebut. Pekerjaan berikutnya adalah memastikan bahwa semangat Hari Santri diterjemahkan ke dalam program pendidikan yang berkualitas, keterampilan yang relevan, dan kesempatan ekonomi yang lebih luas.
Hari Santri pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang jasa ulama dan santri dalam sejarah bangsa. Peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa nilai-nilai keilmuan, pengabdian, dan kemandirian perlu terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. redaksi
Sumber rujukan: Kementerian Agama RI; pemberitaan kegiatan Festival Rebana, MTQ, dan MQK Kabupaten Magelang; serta pemberitaan Santri MU Fest 1 dan FASI Kabupaten Magelang.
editor: Aris Mubandar











