Pada putaran kelima, tubuhnya mulai lelah.
BOROBUDURCHANEL – Padang pasir itu tidak pernah menjanjikan apa-apa.
Ia hanya panas, batu, angin, dan langit yang seperti sengaja dijauhkan dari bumi. Di tengah semua itu, seorang perempuan duduk sambil memandangi bayinya. Bibir anak itu mulai kering. Tangisnya tidak lagi keras. Justru itulah yang membuat Siti Hajar ketakutan.
Anak yang masih menangis berarti masih punya tenaga untuk meminta. Tetapi anak yang mulai diam, dalam keadaan seperti itu, bisa berarti sesuatu yang tidak ingin dibayangkan seorang ibu.
Hajar mengangkat Ismail, mendekapnya, lalu menempelkan pipinya ke pipi bayi itu.
“Sebentar, Nak.”
Ia sendiri tidak tahu sebentar itu berapa lama.
Air sudah habis. Ia memeriksa tempat air sekali lagi, mengguncangnya, membaliknya, bahkan menempelkan mulutnya ke lubang wadah itu. Barangkali masih ada setetes yang tertinggal di sudutnya. Barangkali Tuhan menyisakan sesuatu untuk orang yang sedang kehabisan harapan.
Tidak ada.
Hajar menoleh ke kanan, ke kiri. Hamparan pasir seperti menertawakan kebodohannya. Ia tidak melihat siapa-siapa. Tidak ada rumah, tidak ada pohon rindang, tidak ada orang yang bisa dimintai pertolongan.
Ia melihat dua bukit di kejauhan.
Shofa dan Marwa.
Hajar berdiri. Ia meletakkan Ismail di tempat yang dianggapnya cukup aman, lalu berlari menuju Shofa. Kakinya menekan pasir, napasnya memburu, matanya mencari-cari sesuatu yang mungkin tidak ada. Dari atas bukit, ia memandang ke sekeliling.
Tidak ada air.
Ia melihat ke arah lain. Barangkali ada orang lewat. Barangkali ada kafilah yang tersesat. Barangkali seseorang melihat seorang perempuan dengan bayi yang ditinggalkan di tengah padang pasir dan merasa kasihan.
Tidak ada.
Hajar turun, kembali kepada Ismail, lalu memeriksa anak itu. Ia menyentuh wajahnya, mendengar napasnya, dan memastikan ia masih hidup.
Kemudian ia berlari ke Marwa.
Dari atas bukit itu, ia mencari lagi.
Tidak ada.
Ia kembali ke Shofa.
Tidak ada.
Ke Marwa lagi.
Tidak ada.
Begitulah manusia. Ketika tidak menemukan sesuatu di satu tempat, ia pindah ke tempat lain. Ketika tempat lain tidak memberikan apa-apa, ia kembali ke tempat semula. Ia mengulanginya lagi, lagi, dan lagi, seakan-akan dunia akan berubah pikiran hanya karena seseorang tidak mau berhenti berharap.
Hajar berlari tujuh kali di antara Shofa dan Marwa.
Tujuh kali.
Barangkali pada putaran pertama ia masih yakin akan menemukan air. Pada putaran kedua, ia mulai curiga bahwa dirinya sedang dikerjai oleh padang pasir. Pada putaran ketiga, ia mungkin mulai bertanya mengapa Tuhan membawanya ke tempat seperti ini. Pada putaran keempat, ia tidak lagi punya waktu untuk bertanya. Ismail membutuhkan air.
Pada putaran kelima, tubuhnya mulai lelah.
Pada putaran keenam, harapannya tinggal seutas benang.
Dan pada putaran ketujuh, ia masih berlari.
Sebab seorang ibu tidak selalu berlari karena yakin akan sampai. Kadang-kadang ia berlari karena tidak punya pilihan lain.
Ismail terbaring di tempatnya.
Bayi itu tidak tahu apa-apa tentang Shofa dan Marwa. Ia tidak tahu ibunya sedang berlari di antara dua bukit, tidak tahu bahwa jarak bisa terasa sangat panjang bagi orang yang kehausan, dan tidak tahu bahwa manusia bisa menghabiskan seluruh tenaganya untuk mencari sesuatu yang belum tentu ada.
Ia hanya tahu satu hal: ia haus.
Kaki kecilnya bergerak-gerak. Tumitnya menyentuh pasir.
Lalu sesuatu terjadi.
Air memancar dari tanah.
Bukan dari Shofa. Bukan pula dari Marwa. Bukan dari tempat yang sejak tadi dipandang Hajar dengan mata yang nyaris kehilangan daya. Air itu muncul di dekat kaki seorang bayi yang bahkan belum bisa berjalan.
Zamzam.
Ketika Hajar kembali dan melihat air itu, ia segera mendekat. Ia mengumpulkan air dengan kedua tangannya, menahannya agar tidak mengalir ke mana-mana, sambil berulang kali mengucapkan sesuatu yang mungkin tidak sempat menjadi kalimat.
Ia memberi Ismail minum.
Anaknya selamat.
Hajar juga minum. Ia membasahi wajahnya, merasakan air mengalir di tenggorokan, lalu duduk di samping Ismail. Untuk beberapa lama, ia hanya memandangi air itu.
Ia tidak menangis. Atau mungkin ia sudah terlalu lelah untuk menangis.
Setelah tenaganya pulih sedikit, barulah ia memandang ke arah dua bukit itu.
Shofa.
Marwa.
Ia telah berlari tujuh kali di antara keduanya. Ia telah mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya untuk menemukan air. Ia telah menengok ke segala penjuru, menaruh harapan di setiap puncak, dan pulang dengan tangan kosong berkali-kali.
Ternyata air itu ada di dekat Ismail.
Hajar memandangi kaki kecil anaknya.
Ia ingin tertawa, tetapi tidak tahu apa yang lucu. Ia ingin marah, tetapi tidak tahu kepada siapa. Ia ingin bertanya, tetapi kepada siapa pula pertanyaan itu harus ditujukan?
Mengapa ia harus berlari sejauh itu?
Mengapa ia harus naik dan turun bukit tujuh kali?
Mengapa air tidak muncul sejak tadi?
Mengapa Tuhan membiarkannya ketakutan sampai hampir kehilangan anaknya, sebelum memperlihatkan pertolongan?
Ia mengusap kepala Ismail.
Bayi itu minum dengan tenang, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Barangkali bagi bayi, air hanyalah air. Ia tidak memerlukan penjelasan tentang bagaimana air itu datang. Ia tidak perlu mengetahui berapa jauh ibunya berlari. Ia tidak perlu memahami mengapa manusia harus bersusah payah sebelum mendapatkan sesuatu yang dibutuhkannya.
Ia hanya minum.
Hajar memandangi anaknya lama sekali.
Kemudian, entah dari mana datangnya, sebuah pikiran menyelinap ke dalam kepalanya.
Manusia memang makhluk paling aneh.
Kalau rezeki ternyata ada di dekat kakinya sendiri, mengapa ia harus berlari sampai tujuh kali ke sana kemari?
Kalau air ternyata muncul dari tanah tempat anaknya terbaring, mengapa ia harus bersusah payah mencari di tempat-tempat yang jauh?
Kalau Tuhan sudah menyediakan, mengapa manusia harus kelelahan lebih dahulu?
Hajar tidak segera menemukan jawabannya.
Ia hanya duduk di samping Ismail, membiarkan air itu mengalir, sambil mendengarkan napas anaknya yang kembali teratur.
Bertahun-tahun kemudian, orang-orang akan datang ke tempat itu.
Mereka akan berjalan, berlari kecil, dan mengulang perjalanan Hajar antara Shofa dan Marwa. Mereka akan menyebut namanya, mengenang perjuangannya, lalu mengajarkan kepada anak-anak mereka bahwa seorang perempuan pernah berlari tujuh kali demi menyelamatkan bayinya.
Tetapi mungkin ada sesuatu yang luput dari ingatan mereka.
Orang-orang akan sibuk menghitung tujuh perjalanan itu. Mereka akan menghafal urutannya, mempelajari tata caranya, dan memastikan tidak ada yang terlewat. Mereka akan berlari dari satu bukit ke bukit lain dengan pikiran yang kadang-kadang entah berada di mana.
Padahal, di tengah perjalanan itu, ada pertanyaan yang mungkin perlu dibawa pulang.
Mengapa manusia begitu gemar mencari yang jauh, sementara yang dekat tidak diperhatikannya?
Mengapa manusia mengejar rezeki sampai ke negeri orang, tetapi tidak mengenali tanah yang diinjaknya sendiri?
Mengapa manusia memanjat bukit untuk mencari pertolongan, sementara di bawah kakinya mungkin ada sesuatu yang bisa menyelamatkannya?
Mengapa manusia selalu mengira bahwa jawaban berada di tempat yang belum didatangi?
Dan mengapa, setelah menemukan apa yang dicari, manusia sering lupa bahwa ia pernah tersesat?
Hajar tidak mempunyai waktu untuk memikirkan semuanya. Ia harus menjaga Ismail. Ia harus memastikan air tetap tersedia. Ia harus menjalani hari berikutnya, kemudian hari berikutnya lagi.
Ia bukan seorang filsuf yang duduk di bawah pohon untuk merumuskan hakikat kehidupan. Ia hanya seorang ibu yang nyaris kehilangan anaknya.
Namun, justru dari tubuhnya yang letih, dari telapak kakinya yang menyentuh pasir, dan dari air mata yang tidak sempat jatuh, lahir sebuah pelajaran yang bertahan melampaui usia manusia.
Bahwa usaha memang harus dilakukan, tetapi usaha tidak selalu membuat kita mengerti dari mana pertolongan datang.
Bahwa manusia harus berlari, tetapi tidak boleh mengira bahwa dirinya sendiri yang menentukan di mana air akan memancar.
Dan bahwa sesuatu yang dekat belum tentu terlihat, terutama ketika mata kita terlalu sibuk memandang jauh.
Hajar mengangkat Ismail, mendekapnya, lalu mencium keningnya.
Di hadapannya, Shofa dan Marwa tetap berdiri. Dua bukit itu tidak menjawab pertanyaannya. Barangkali memang bukan tugas bukit untuk menjawab pertanyaan manusia.
Air terus mengalir.
Hajar akhirnya mengerti satu hal, meskipun mungkin tidak pernah mengatakannya kepada siapa pun.
Ia harus berlari karena anaknya membutuhkan air. Ia tidak boleh hanya duduk menunggu. Tetapi ia juga tidak bisa memerintah air untuk keluar dari tempat yang ia inginkan.
Ia telah melakukan bagiannya.
Selebihnya, bukan ia yang menentukan.
Dan di situlah manusia sering keliru. Ia mengira karena sudah berlari tujuh kali, ia berhak menentukan di mana air harus muncul.
Padahal, ia bahkan tidak tahu apa yang sesungguhnya sedang dicarinya.
Hajar kembali menunduk, memperhatikan Ismail yang tertidur di pelukannya.
Bayi itu tidak tahu bahwa suatu hari nanti jutaan manusia akan mengingat perjalanan ibunya. Ia tidak tahu bahwa air di dekat kakinya akan menjadi mata air yang dicari orang dari berbagai penjuru dunia.
Ia hanya tidur.
Sementara manusia, berabad-abad kemudian, masih terus berlari.
Dari Shofa ke Marwa.
Dari Marwa ke Shofa.
Mencari air.
Kadang-kadang, tepat di dekat kakinya sendiri.
Dan mungkin, jika Hajar bisa berbicara kepada mereka, ia hanya akan tersenyum kecil sambil menunjuk tanah.
“Sudahkah kalian melihat ke bawah?”
Aris Munandar, seorang petani dan tinggal di Magelang











