Rangkaian nasional dijadwalkan berlanjut dengan upacara Hari Santri pada 22 Oktober dan Malam Bakti Santri untuk Negeri pada 24 Oktober di Istora Senayan, Jakarta.
JAKARTA, BOROBUDURCHANEL – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 mulai diwarnai beragam kegiatan di sejumlah daerah. Selain kegiatan keagamaan, rangkaian peringatan tahun ini juga mencakup aksi kepedulian lingkungan, pelayanan sosial, pengembangan kreativitas, hingga penguatan kemandirian ekonomi pesantren.
Peringatan Hari Santri Nasional jatuh setiap 22 Oktober. Menjelang hari puncak tersebut, pemerintah daerah, Kantor Kementerian Agama, dan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) menyiapkan kegiatan dengan pendekatan yang beragam, sesuai kebutuhan masyarakat dan lingkungan pesantren setempat.
Di tingkat nasional, Kementerian Agama mengusung tema Hari Santri 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Rangkaian kegiatan yang disiapkan tidak hanya berupa upacara, tetapi juga membuka ruang bagi santri untuk menyampaikan aspirasi, menunjukkan karya, dan mengembangkan potensi pesantren.
Salah satu programnya adalah Surat Santri untuk Presiden, yang berlangsung pada 22 September hingga 8 Oktober 2026. Melalui program ini, santri diberi kesempatan menyampaikan harapan, gagasan, dan pandangan mengenai masa depan bangsa.
Kementerian Agama juga menggelar Expo Kemandirian Pesantren pada 16–24 Oktober. Pameran tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan produk dan potensi ekonomi pesantren kepada masyarakat. Rangkaian nasional dijadwalkan berlanjut dengan upacara Hari Santri pada 22 Oktober dan Malam Bakti Santri untuk Negeri pada 24 Oktober di Istora Senayan, Jakarta. (NU Online, 22 September 2026).
Dari Sleman hingga Sulawesi Tengah
Di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Hari Santri diisi dengan program Reresik Pesantren, yakni kegiatan membersihkan lingkungan pondok pesantren.
Kementerian Agama Kabupaten Sleman menjadwalkan kegiatan tersebut di Pondok Pesantren Anwar Futuhiyya pada 14 Oktober dan Pondok Pesantren Al Fithroh pada 20 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan juga mencakup pembinaan remaja usia sekolah.
Program tersebut memperlihatkan salah satu cara memaknai Hari Santri melalui kepedulian terhadap kebersihan lingkungan pendidikan, bukan hanya melalui seremoni. Namun, pengumuman jadwal kegiatan perlu dibedakan dari laporan hasil pelaksanaan masing-masing agenda. (Kemenag Sleman, 13 Oktober 2026).
Di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, rangkaian peringatan turut diisi Festival Rebana, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), dan Musabaqah Qira’atul Kutub (MQK). Kegiatan yang digelar pada 12 Oktober di halaman Masjid Agung Jawa Tengah An-Nuur tersebut mengangkat seni keagamaan dan tradisi pembelajaran Al-Qur’an serta kitab kuning.
Sementara itu, di Sulawesi Tengah, Pemerintah Kabupaten Morowali Utara bersama Kantor Kementerian Agama setempat menyiapkan zikir dan tabligh akbar pada 22 Oktober. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan peringatan hari jadi Kabupaten Morowali Utara dan menghadirkan penceramah Das’ad Latief.
Agenda Morowali Utara ini menunjukkan bahwa peringatan Hari Santri juga dapat dipadukan dengan kegiatan keagamaan dan agenda daerah. Meski demikian, per 19 Oktober kegiatan tersebut masih berstatus rencana, belum dapat disebut telah terlaksana. (Kemenag Sulawesi Tengah, 14 Oktober 2026).
NU Dorong Pelayanan Sosial dan Solidaritas Kemanusiaan
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga menerbitkan pedoman pelaksanaan Hari Santri 2026 melalui surat edaran tertanggal 1 Oktober.
Dalam pedoman tersebut, PBNU mengarahkan pengurus NU di berbagai tingkatan untuk menyelenggarakan apel serentak pada 22 Oktober, ziarah ke makam ulama, serta kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Pilihan kegiatannya mencakup layanan kesehatan gratis, donor darah, konsultasi keluarga dan zakat, serta kepedulian terhadap kebersihan dan sanitasi pesantren maupun masjid.
PBNU turut mendorong kegiatan doa dan istighotsah sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan untuk Palestina. Dengan demikian, rangkaian Hari Santri tidak hanya diarahkan untuk merawat tradisi keagamaan, tetapi juga untuk memperkuat kepedulian sosial.
Pedoman tersebut merupakan arahan organisasi. Pelaksanaan setiap kegiatan di daerah tetap perlu diverifikasi melalui laporan masing-masing pengurus atau penyelenggara. (NU Online, 3 Oktober 2026).
Mengukur Makna Hari Santri dari Manfaatnya
Beragam agenda di daerah memperlihatkan bahwa Hari Santri dapat menjadi ruang pertemuan antara tradisi keagamaan, pendidikan, kepedulian lingkungan, dan pengembangan ekonomi masyarakat.
Namun, banyaknya kegiatan belum dengan sendirinya menunjukkan besarnya manfaat yang diterima masyarakat. Kegiatan lingkungan, misalnya, perlu dilihat dari keberlanjutan pengelolaan kebersihan pesantren. Program ekonomi perlu diukur dari kemampuan usaha pesantren memperoleh pasar dan menjaga keberlangsungan produksi.
Begitu pula kegiatan sosial perlu dinilai berdasarkan layanan yang benar-benar diterima masyarakat, bukan semata-mata jumlah peserta atau besarnya acara.
Menjelang 22 Oktober, laporan dari berbagai daerah masih perlu terus diperbarui untuk membedakan kegiatan yang telah terlaksana, yang sedang berlangsung, dan yang baru direncanakan.
Hari Santri pada akhirnya tidak hanya menjadi peringatan sejarah perjuangan ulama dan santri, tetapi juga kesempatan untuk melihat sejauh mana nilai pendidikan, pengabdian, kemandirian, dan kepedulian sosial diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.***
Sumber: Kementerian Agama RI, Kemenag Kabupaten Sleman, Kemenag Sulawesi Tengah, Berita Magelang, dan NU Online. Data kegiatan mengacu pada publikasi yang tersedia hingga 19 Oktober 2026.
editor: Aris Munandar











