Sampai sekarang, ketika bertemu atau berkomunikasi, ia memanggil saya dengan sebutan “Lek Aris”.
BOROBUDURCHANEL – Ada orang yang kita kenal karena jabatan. Ada yang kita kenal karena tulisan. Ada pula yang mula-mula kita kenal hanya karena sebuah pertemuan, lalu hubungan itu berjalan lebih jauh, melintasi ruang, waktu, dan kesibukan masing-masing.
Begitulah saya mengenal Muhammad Luthfi Zuhdi.
Pertemuan pertama kami berlangsung di Bandung. Waktu itu saya diundang almarhum Bapak Mukti dalam sebuah pertemuan keluarga yang disebut Bani Isa. Bagi saya, pertemuan tersebut bukan sekadar acara keluarga.
Almarhum Mukti adalah salah seorang yang sangat getol mengumpulkan kembali “tulang-tulang yang berserakan”, mempertautkan orang-orang yang barangkali secara nasab, sejarah, maupun pengalaman hidup memiliki hubungan, tetapi lama tidak saling berjumpa.
Dalam pertemuan itulah saya pertama kali berjumpa dengan Luthfi. Ia hadir sebagai pembicara.
Saat itu saya belum melihatnya sebagai seorang guru besar dengan sederet jabatan akademik dan karya ilmiah. Ia hadir lebih sederhana: seorang yang berbicara, menjelaskan, dan mengajak orang lain melihat persoalan dari sudut yang lebih luas.
Dari pertemuan itulah hubungan kami berlanjut.
Pada kesempatan berikutnya, saya mengundang Mas Luthfi ke Cileungsi. Pengurus Pimpinan Cabang Muhammadiyah atau PCM Cileungsi waktu itu menyelenggarakan diskusi publik yang diikuti jajaran pengurus dan para pendidik. Luthfi kembali hadir untuk berbicara.
Ada sesuatu yang menarik dari pertemuan-pertemuan semacam itu. Ia tidak datang hanya dengan membawa gelar akademik.
Ia membawa pengalaman dan cara pandang yang membuat diskusi menjadi lebih luas. Pembicaraan tentang agama tidak berhenti pada agama. Pembicaraan tentang sastra bisa berbelok ke kebudayaan.
Dari kebudayaan dapat bergerak ke Timur Tengah, Palestina, politik internasional, bahkan sampai pada pertanyaan tentang bagaimana sebuah bangsa mencari jalan menuju perdamaian.
Saya kemudian beberapa kali berkunjung ke rumahnya di sekitar Lenteng Agung. Kami juga beberapa kali bertemu dalam forum-forum diskusi bersama KBPII Jakarta.
Hubungan itu kemudian berkembang menjadi pertemanan yang tidak terlalu membutuhkan seremoni. Sesekali bertemu dalam forum, sesekali berbincang, lalu pada kesempatan lain bertemu kembali dalam suasana yang berbeda.
Dan akhirnya Magelang mempertemukan kami lebih sering.
Luthfi ternyata memiliki hubungan keluarga yang cukup dekat dengan Blondo, Magelang. Dari sana perjumpaan kami menjadi lebih sering. Ada semacam lingkaran yang kembali ke tempat asal: Bandung, Cileungsi, Jakarta, Lenteng Agung, lalu Magelang.
Dalam hubungan personal itulah saya kemudian mengenalnya bukan hanya sebagai Profesor Muhammad Luthfi Zuhdi, tetapi sebagai Mas Luthfi.
Sampai sekarang, ketika bertemu atau berkomunikasi, ia memanggil saya dengan sebutan “Lek Aris”.
Sapaan itu sederhana. Tetapi dalam sebuah hubungan yang telah melewati sejumlah pertemuan, diskusi, dan perjalanan waktu, sebuah panggilan kadang-kadang lebih mampu menjelaskan kedekatan daripada sederet gelar.
Luthfi lahir di Yogyakarta, 22 November 1957. Jalan intelektualnya kemudian membawanya jauh ke dunia Arab.
Ia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Pendidikan berikutnya ditempuh di Yarmouk University dan Jordan University, Yordania.
Lingkungan pendidikan tersebut kelak menjadi salah satu fondasi penting dalam cara pandangnya terhadap bahasa Arab, sastra, Islam, kebudayaan dan dinamika Timur Tengah.
Di kemudian hari, ia menjadi Guru Besar Ilmu Susastra pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Tetapi menyebut Luthfi hanya sebagai guru besar sastra Arab rasanya terlalu sederhana.
Sastra memang menjadi salah satu pintu masuk utama pemikirannya. Namun dari sastra itulah ia memasuki dunia yang jauh lebih luas.
Ia meneliti Mahmoud Darwish, penyair Palestina yang puisinya tidak dapat dilepaskan dari persoalan tanah air, pengasingan dan identitas. Ia juga meneliti Nizar Qabbani dan cara penyair tersebut memandang Palestina.
Di tangannya, sastra tidak hanya menjadi perkara keindahan bahasa.
Puisi dapat menjadi dokumen sejarah. Sastra dapat menyimpan ingatan sebuah bangsa. Penyair dapat merekam luka masyarakat. Bahkan karya sastra dapat menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan identitas.
Barangkali dari sinilah perhatian Luthfi terhadap Palestina mendapatkan salah satu akar intelektualnya.
Palestina merupakan salah satu tema yang berulang dalam perjalanan pemikirannya.
Ia menulis tentang Yerusalem sebagai kota yang memiliki arti bagi tiga agama. Ia membaca Palestina melalui karya para penyair Arab. Ia menghubungkan sastra dengan nasionalisme, identitas dan perlawanan.
Namun perhatian itu kemudian bergerak dari teks menuju persoalan yang lebih luas: politik dan diplomasi.
Pada titik inilah pemikiran Luthfi menjadi menarik.
Ia tidak melihat sastra sebagai dunia yang terpisah dari kehidupan politik. Sebaliknya, sastra dapat memiliki daya diplomatik.
Gagasan tersebut kemudian menjadi tema pidato pengukuhan guru besarnya: “Sastra sebagai Media Diplomasi dalam Upaya Memperoleh Pengakuan Kemerdekaan.”
Judul itu sesungguhnya menggambarkan perjalanan pemikirannya. Dari kata-kata menuju tindakan.
Dari puisi menuju identitas. Dari identitas menuju bangsa. Dari bangsa menuju diplomasi. Dan dari diplomasi menuju perdamaian.
Pengalaman hidupnya ikut memperkaya cara pandang tersebut. Luthfi pernah menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Riyadh pada 2009–2013.
Dunia akademik dan pengalaman diplomatik dengan demikian bertemu dalam satu perjalanan.
Ia bukan hanya membaca Timur Tengah melalui buku. Ia juga pernah berada cukup dekat dengan lingkungan sosial dan kebudayaan Arab.
Timur Tengah, bagi Luthfi, juga bukan semata-mata peta konflik.
Di sana terdapat sastra, sejarah, agama, kebudayaan, identitas, nasionalisme, sekaligus kepentingan geopolitik.
Karena itu, ketika berbicara tentang Palestina, ia tidak semata-mata menggunakan bahasa kemarahan. Ia mencoba membaca persoalan tersebut melalui berbagai lapisan.
Begitu pula ketika membahas radikalisme dan terorisme.
Sejumlah karya ilmiahnya bergerak ke wilayah yang sekilas tampak jauh dari sastra: radikalisme, terorisme, deradikalisasi, keluarga dan organisasi mahasiswa Islam.
Di sini kembali terlihat pola pemikirannya. Ia berusaha melihat gagasan bukan hanya sebagai teks, tetapi sebagai sesuatu yang hidup dalam masyarakat.
Radikalisme, misalnya, tidak cukup dipahami sebagai doktrin. Ada keluarga, lingkungan sosial, identitas, psikologi, organisasi, dan narasi yang ikut membentuk seseorang.
Dengan cara pandang seperti itu, sastra dan kajian sosial-politik sebenarnya tidak berada di dua dunia yang berbeda. Keduanya sama-sama berbicara tentang manusia dan gagasan yang menggerakkan manusia.
Hubungan Luthfi dengan dunia Islam Indonesia juga mempertemukannya dengan Nahdlatul Ulama.
Dalam sejumlah kajian dan forum, perhatian terhadap NU tampak terutama dalam kaitannya dengan Palestina, perdamaian dan peran organisasi keagamaan Indonesia di tingkat internasional.
Ia ikut terlibat dalam kajian mengenai sejarah komitmen NU terhadap Palestina, dari masa kolonial hingga masa kontemporer. Ia juga terlibat dalam kajian mengenai NU sebagai aktor non-negara yang dapat berperan dalam perdamaian Israel-Palestina.
Di sini ada gagasan yang menarik. Diplomasi tidak selalu harus dilakukan oleh negara.
Organisasi masyarakat, ulama, akademisi, tokoh agama, seniman, bahkan sastrawan dapat ikut menciptakan ruang dialog.
Bagi Indonesia, gagasan ini menjadi penting karena NU memiliki jaringan sosial yang luas dan pengalaman panjang dalam kehidupan masyarakat.
Tetapi Luthfi juga mengingatkan bahwa keterlibatan global NU tidak boleh membuat organisasi itu kehilangan akar.
Dalam sebuah forum di PBNU pada 2026, ia menyoroti pentingnya keterlibatan basis perdesaan dalam perjalanan NU ke panggung global. Bagi Luthfi, persoalan global pada akhirnya harus kembali menyentuh kehidupan nyata masyarakat.
Ada sesuatu yang menarik di sini. Seorang intelektual yang bertahun-tahun mempelajari Timur Tengah, Palestina dan diplomasi internasional justru mengingatkan bahwa NU tidak boleh melupakan desa.
Dunia boleh berubah. Peta geopolitik boleh bergeser.
Tetapi petani tetap membutuhkan pupuk, sawah membutuhkan air, dan masyarakat desa membutuhkan perhatian.
Globalisasi, dalam pandangan semacam itu, tidak boleh menjadi perjalanan meninggalkan akar.
Mungkin itulah yang membuat saya selalu merasa ada sisi lain dari Mas Luthfi yang menarik untuk ditulis.
Di satu sisi ia adalah profesor, peneliti dan intelektual dengan pengalaman akademik yang panjang.
Di sisi lain ia adalah orang yang dapat hadir dalam ruang-ruang pertemuan yang jauh lebih sederhana: diskusi pengurus Muhammadiyah di Cileungsi, forum keluarga Bani Isa, pertemuan KBPII Jakarta, atau perjumpaan-perjumpaan di Magelang.
Dunia akademik dan dunia pergaulan sosial tidak selalu memiliki bahasa yang sama. Tetapi Luthfi tampaknya dapat bergerak di antara keduanya.
Ia membaca sastra Arab, tetapi pembicaraannya tidak berhenti pada sastra.
Ia mempelajari Palestina, tetapi perhatiannya tidak berhenti pada konflik.
Ia berbicara tentang NU, tetapi tidak berhenti pada organisasi.
Ia berbicara tentang diplomasi, tetapi tetap membawa pembicaraan itu kembali kepada masyarakat.
Barangkali karena itu pula perjalanan intelektualnya sulit dimasukkan ke dalam satu kotak.
Ia adalah akademisi sastra. Ia juga pengkaji Timur Tengah. Ia pernah menjalani tugas diplomatik. Ia meneliti radikalisme dan perdamaian. Ia berbicara tentang Palestina.
Dan sebagai bagian dari lingkungan NU, ia ikut memikirkan bagaimana organisasi Islam terbesar di Indonesia itu dapat mengambil peran lebih besar dalam percaturan dunia tanpa kehilangan akar kerakyatannya.
Saya sendiri mengenalnya melalui jalan yang lebih sederhana: sebuah undangan almarhum Bapak Mukti di Bandung.
Almarhum ketika itu sedang mengumpulkan kembali tulang-tulang yang berserakan. Orang-orang yang lama terpisah dipertemukan. Hubungan yang mungkin terlupakan dicoba dirajut kembali.
Di antara orang-orang yang hadir, ada Muhammad Luthfi Zuhdi.
Saya tidak menyangka pertemuan itu kelak membawa kami pada berbagai forum, diskusi, kunjungan, dan perjumpaan di tempat-tempat yang berbeda.
Bandung. Cileungsi. Lenteng Agung. Jakarta. Dan kemudian Magelang.
Kini, ketika berjumpa, ia masih memanggil saya dengan satu kata yang terasa akrab: lek Aris.
Di balik kata itu ada perjalanan pertemanan yang mungkin jauh lebih penting daripada gelar dan jabatan.
Sebab pada akhirnya, seorang intelektual bukan hanya kumpulan gelar, daftar publikasi, atau jabatan yang pernah didudukinya.
Ia adalah gagasan yang ditinggalkannya. Dan pada Muhammad Luthfi Zuhdi, gagasan itu tampaknya bergerak dari tempat yang sangat sederhana: kata-kata.
Dari kata-kata dalam bahasa Arab. Dari puisi para penyair. Dari ingatan Palestina. Dari pergulatan Islam dan masyarakat.
Kemudian menuju pertanyaan yang lebih besar: bagaimana manusia, bangsa, agama dan negara dapat hidup berdampingan dalam dunia yang penuh konflik.
Mungkin karena itu, jalan pemikiran Luthfi dapat dibaca sebagai sebuah perjalanan panjang:
dari sastra menuju identitas, dari identitas menuju diplomasi, dan dari diplomasi menuju perdamaian.
Dan perjalanan itu, rupanya, belum selesai.
Aris Munandar, seorang petani dan tinggal di Magelang











