BOROBUDURCHANEL – Ada perjalanan yang tidak dimulai dari jalan raya. Ia dimulai dari rumah.
Dari dapur yang sejak beberapa hari sebelumnya mulai sibuk. Dari beras yang disisihkan. Dari ayam yang dipilih. Dari uang yang pelan-pelan dikumpulkan. Dan dari sebuah kesadaran bahwa untuk datang kepada makam leluhur, seseorang tidak cukup hanya membawa langkah dan doa.
Di Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, perjalanan menuju makam Kiai Bonokeling dan Kiai Gunung memiliki tata cara yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat pendukungnya.
Ziarah di sini bukan sekadar datang, duduk, membaca doa, kemudian pulang. Ada pintu adat yang harus dilewati. Dan pintu itu bernama slametan. Jauh sebelum kaki melangkah menuju makam, persiapan sudah dimulai.
Orang yang hendak mempunyai hajat ziarah terlebih dahulu mempersiapkan slametan. Salah satu bagian pentingnya adalah ingkung, ayam utuh yang dimasak sebagai bagian dari hidangan ritual. Untuk keperluan itu, menurut keterangan pelaku tradisi setempat, biaya yang harus dipersiapkan sedikitnya sekitar Rp400 ribu, belum termasuk bahan-bahan lain yang diperlukan untuk kepungan atau slametan.
Bagi orang luar, jumlah itu mungkin terlihat sebagai biaya sebuah acara. Tetapi bagi mereka yang menjalankannya, ia adalah bagian dari tata cara. Uang itu disiapkan jauh-jauh hari. Sedikit demi sedikit. Sebab ziarah bukan keputusan yang dibuat secara mendadak. Ada persiapan material sekaligus persiapan batin.
Setelah segala keperluan slametan terpenuhi, barulah seseorang sowan kepada Kiai Kunci. Di sinilah perjalanan itu menemukan pintu pertamanya.
Kiai Kunci bukan sekadar orang yang menunjukkan jalan menuju makam. Ia merupakan figur penting dalam tata kelola tradisi Bonokeling. Kepadanya para peziarah menyampaikan maksud dan hajat, sekaligus memohon doa restu agar perjalanan ziarah mereka dapat tersambung dengan para leluhur.
Ada kesopanan yang harus dijaga. Ada urutan yang tidak boleh dilompati. Sebab dalam tradisi ini, makam bukan tujuan yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari hubungan antara orang yang masih hidup dengan leluhur yang telah mendahuluinya.
Setelah sowan, berlangsunglah kepungan. Makanan slametan yang telah dipersiapkan kemudian disajikan.
Namun ada satu aturan yang bagi orang luar mungkin terasa ganjil: orang yang mempunyai hajat tidak diperbolehkan memakan makanan slametan tersebut.
Ia boleh menyiapkan, tetapi tidak mengambil bagian sebagai orang yang menikmati hidangan itu. Di sini, makanan bukan sekadar makanan. Ia telah berubah menjadi bagian dari tata ritual.
Ada tangan yang menyiapkan, ada doa yang menyertainya, ada kepungan yang menyatukan orang-orang, dan ada maksud yang dibawa sebelum perjalanan menuju makam.
Setelah seluruh rangkaian di rumah Kiai Kunci selesai dan para peziarah berpamitan, mereka tidak serta-merta berjalan sendiri.
Mereka akan diantar oleh penderek Kiai Kunci. Dari sinilah perjalanan menuju makam benar-benar dimulai. Hari ziarah pun bukan sembarang hari.
Dalam praktik yang berkembang di masyarakat, Rabu malam atau malam Kamis menjadi waktu yang paling banyak digunakan untuk ziarah. Tetapi waktu pelaksanaan tidak semata-mata ditentukan oleh keinginan rombongan. Ada tata cara dan pengaturan yang harus diikuti.
Ritual di rumah Kiai Kunci dimulai ketika matahari mulai tenggelam. Maghrib menjadi semacam garis batas.
Siang perlahan meninggalkan Pekuncen. Cahaya memudar dari halaman rumah. Suara aktivitas sehari-hari mulai surut. Malam datang pelan-pelan. Dan pada saat itulah ritual dimulai.
Dari rumah Kiai Kunci, perjalanan kemudian bergerak menuju makam tanpa alas kaki alias nyeker.
Makam Kiai Gunung atau makam Kiai Bonokeling. Dua nama yang berada dalam lanskap sakral masyarakat Bonokeling.
Ada satu suara yang menjadi penanda waktu dalam perjalanan ini. Kentongan. Bukan jam tangan. Bukan telepon genggam. Bukan alarm.
Kentongan.
Ketika ritual ziarah telah selesai, kentongan dibunyikan. Suara kayu yang dipukul itu menjadi tanda bahwa rangkaian telah berakhir.
Ada batas waktu yang harus ditaati. Ritual tidak boleh melewati tengah malam, pukul 00.00.
Maka, meskipun perjalanan dimulai ketika Maghrib tiba dan malam telah sepenuhnya turun, ada batas yang tidak boleh dilampaui.
Di antara Maghrib dan tengah malam itulah sebuah perjalanan spiritual berlangsung. Singkat dalam ukuran waktu. Namun panjang dalam makna. Kita kemudian sampai pada sebuah pertanyaan sederhana: Mengapa orang masih menjalankan semua itu Mengapa harus menyiapkan ingkung? Mengapa harus sowan kepada Kiai Kunci? Mengapa harus menunggu hari tertentu Mengapa harus diantar? Mengapa ada kentongan yang menjadi penutup? Jawabannya tidak mungkin hanya ditemukan dalam sebuah makam.
Sebab yang sesungguhnya sedang dijaga bukan hanya makam. Yang sedang dijaga adalah tata hubungan.
Hubungan antara manusia dengan leluhur. Antara generasi sekarang dengan generasi yang telah pergi. Antara adat dengan kehidupan sehari-hari. Antara rumah, masyarakat, makam dan ingatan.
Di Pekuncen, tradisi itu hidup bukan karena sebuah buku memerintahkannya. Ia hidup karena diwariskan. Dari orang tua kepada anak. Dari mereka yang lebih tua kepada mereka yang lebih muda. Dari Kiai Kunci kepada mereka yang datang membawa hajat. Dan dari satu generasi anak putu kepada generasi berikutnya.
Kiai Bonokeling sendiri dalam tradisi masyarakat setempat ditempatkan sebagai figur leluhur utama. Makamnya menjadi pusat dari jaringan ruang sakral yang lebih luas. Tidak jauh dari sana terdapat makam Kiai Gunung.
Dalam sejumlah kajian mengenai komunitas Bonokeling, makam Kiai Gunung disebut berada sekitar 40 meter di sebelah utara makam Kiai Bonokeling.
Hubungan kedua tokoh itu tidak sederhana jika hanya dibaca dari ukuran jarak.
Dalam pandangan komunitas, Kiai Bonokeling merupakan pusat, sementara tokoh-tokoh lain berada dalam jaringan leluhur yang mengitari dan melanjutkan jejaknya.
Ada ungkapan yang menarik: Kiai Bonokeling seperti pohon, sedangkan tokoh-tokoh lain menjadi dahan.
Mungkin dari sanalah kita bisa memahami mengapa perjalanan menuju makam tidak pernah benar-benar dianggap sebagai perjalanan menuju sebuah bangunan. Ia adalah perjalanan menuju akar.
Saya membayangkan Pekuncen pada sebuah Rabu petang. Matahari turun perlahan.
Di sebuah rumah, orang-orang telah menyelesaikan slametan. Ingkung telah disiapkan. Kepungan telah dilakukan. Hajat telah disampaikan. Kiai Kunci telah didatangi. Kemudian rombongan berpamitan. Mereka berjalan.
Ada penderek di depan. Malam semakin pekat. Tetapi perjalanan belum selesai.
Sebab tujuan mereka bukan sekadar sebuah tempat untuk berdiri dan berdoa. Mereka sedang menjalani sebuah tata cara yang telah berlangsung jauh lebih lama daripada usia mereka sendiri. Di situlah sejarah menjadi sesuatu yang berbeda.
Sejarah tidak selalu hadir dalam prasasti. Tidak selalu ditemukan dalam arsip kerajaan.
Kadang-kadang sejarah justru bertahan di dapur rumah seorang warga, dalam seekor ayam yang dimasak menjadi ingkung, dalam kepungan yang dilakukan sebelum berangkat, dalam langkah yang mengikuti penderek Kiai Kunci, dan akhirnya dalam bunyi kentongan yang memecah malam.
Tok. Tok. Tok. Tanda bahwa perjalanan telah selesai. Dan sebelum tengah malam benar-benar datang, para peziarah kembali. Mereka membawa pulang tubuh mereka.
Tetapi mungkin, dalam pengertian mereka sendiri, ada sesuatu yang lain yang ikut pulang: sebuah rasa bahwa hubungan dengan mereka yang telah mendahului tidak boleh putus.
Sebab bagi masyarakat yang masih menjaga tradisi itu, leluhur bukan sekadar nama yang tertulis di batu nisan.
Leluhur adalah bagian dari jalan pulang. Dan Pekuncen adalah salah satu tempat di mana jalan itu masih dijaga.









