Gayung, Salam, dan Al-Mujadilah

1000960124
suasana ngeteh di rukah ustad
banner 468x60

BOROBUDURCHANEL – Di kampung, kabar orang sakit itu lajunya seperti suara kentongan yang ditiup angin malam. Pagi belum tinggi benar, Pak Winongo sudah tampak tiba di depan rumah Ustadz Fakri. Jalannya pelan, terseok-seok, seperti orang yang sedang berusaha mengajari kakinya agar mau berdamai lagi dengan tubuhnya sendiri. Sampai di depan pintu ia memberi salam, “Assalamu’alaikum.”

Dari dalam rumah terdengar jawaban Ustadz Fakri, “Wa’alaikum salam.” Suaranya lembut, seperti pintu yang dibuka sedikit supaya angin baik bisa masuk tanpa perlu minta izin terlalu keras.
“Wah, Pak Winongo kok datangnya tergopoh-gopoh begitu. Apakah sudah benar-benar pulih?”
Pak Winongo tersenyum tipis. “Iya, sudah lumayan. Saya sengaja cari jalan supaya kaki ini tidak kaget diam terus.”
“Silakan, silakan,” kata Ustadz Fakri, “sepertinya ada hal yang penting.”
Orang kampung kalau sudah bilang “ada yang penting” biasanya memang ada sesuatu yang mengganjal di dada. Pak Winongo lalu duduk, matanya tertuju pada gayung di sudut dapur, dan pertanyaannya pun keluar pelan-pelan.
“Begini, Ustadz, saya ini masih lumayan. Masih bisa jalan, masih bisa wudhu pakai gayung. Tapi waktu di rumah sakit, saya lihat orang yang lebih parah dari saya. Tangannya satu sudah tidak bisa memegang gayung. Kalau begitu, wudhunya bagaimana?”
Pertanyaan itu bukan hanya milik Pak Winongo. Itu pertanyaan banyak orang yang tiba-tiba sadar bahwa tubuh ini tidak selamanya patuh pada perintah pemiliknya.
Ustadz Fakri tidak langsung menjawab. Ia menyuguhkan teh panas lebih dulu. Di kampung, teh panas kadang menjadi pembuka ilmu yang paling jujur. Setelah itu, tiga tetangga yang kebetulan mendengar Pak Winongo datang ikut masuk dan duduk melingkar. Semua diam, karena tahu urusan wudhu bukan urusan ringan bagi orang yang masih ingin dianggap beriman dengan tenang.
Ustadz Fakri lalu berkata, “Soal wudhu bagi orang yang sakit stroke, saya hanya menyampaikan apa yang pernah saya dengar dari Mbah Imam.”
Mbah Imam itu orang tua yang namanya lebih sering disebut daripada makamnya diziarahi. Kalau beliau bicara fikih, orang kampung mendengarkan seperti mendengar suara hujan pertama yang memberi tanda musim tanam sudah boleh dimulai.
“Dalam ushul fikih,” kata Ustadz Fakri, “ada yang disebut taklif. Artinya, hukum itu dibebankan kepada orang yang mampu menjalankannya. Seperti orang bisu. Ada ulama yang mengatakan ia tidak wajib membaca Al-Fatihah seperti orang lain, tetapi shalatnya tidak gugur. Gerakannya masih bisa: berdiri, takbir, rukuk, i’tidal, sujud, tahiyat, dan salam.”
Pak Winongo mengangguk-angguk. Orang yang pernah sakit biasanya lebih cepat paham kata “bisa” dan “tidak bisa” tanpa perlu kamus tambahan.
“Jadi,” lanjut Ustadz Fakri, “kalau satu tangan tidak kuat mengangkat gayung dan ada orang lain, boleh dibantu. Kalau tidak ada orang lain, bisa tayamum. Kalau kedua tangan benar-benar tidak bisa dipakai untuk tayamum, maka cukup membaca tasbih tiga kali sebagai pengganti dalam keadaan darurat yang berat.”
Teh panas itu sudah mulai hangat, tapi pembicaraan tentang sakit justru membuat suasana terasa lebih teduh. Di kampung, ilmu memang sering datang lewat cerita orang sakit, bukan lewat papan tulis atau seminar berbayar.
Ustadz Fakri kemudian menutup pembicaraan, “Soal shalat bagi orang yang sedang sakit berat, itu ada rinciannya sendiri. Nanti saya akan mampir dulu ke Mbah Imam.”
Para tetangga pun pamit, “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam,” jawab semua serempak, seperti sudah dilatih oleh kebiasaan bertahun-tahun.
Pak Winongo lalu bersalaman dengan Ustadz Fakri. Tangannya memang belum sekuat dulu, tapi salam itu terasa lebih mantap daripada langkahnya saat datang tadi. Dalam perjalanan pulang, ia teringat ayat kedua belas dari Surah Al-Mujadilah: sebelum datang dan mengajak bicara, orang diajari untuk menyiapkan hati terlebih dahulu.

Barangkali agama memang sering dimulai dari hal-hal kecil: dari salam di depan pintu, dari gayung yang tak lagi ringan diangkat tangan, dari teh panas di meja kayu, dan dari orang sakit yang masih berani bertanya. Sebab kadang, pertanyaan dari tubuh yang lemah justru menjadi jalan agar yang merasa sehat tidak terlalu sombong lupa kepada Tuhan.

Ngubaedi Ahmad, adalah seorang mantan dosen tinggal di Semarang 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *