Kata “liar” pada judul buku ini segera memancing perhatian.
Resensi Buku
Judul: Pikiran Pikiran Liar: Membaca Al-Qur’an sebagai Jalan Peradaban
Penulis: Ngubaidi Ahmad
Genre: Esai pemikiran keislaman dan peradaban
BOROBUDURCHANEL – DI tengah derasnya arus informasi dan polarisasi wacana keagamaan, buku Pikiran Pikiran Liar karya Ngubaidi Ahmad hadir sebagai undangan untuk kembali membaca Al-Qur’an dengan cara yang lebih luas: bukan sekadar sebagai kumpulan ayat yang dihafal, melainkan sebagai sumber energi kebudayaan dan peradaban.
Kata “liar” pada judul buku ini segera memancing perhatian. Namun, keliyaran yang dimaksud bukanlah pemberontakan tanpa arah. Ia lebih menyerupai keberanian intelektual untuk keluar dari pagar-pagar kebiasaan berpikir yang sempit. Ngubaidi Ahmad mengajak pembaca memasuki wilayah tafsir yang hidup, dialogis, dan bersentuhan langsung dengan persoalan manusia modern.
Buku ini tampaknya lahir dari kegelisahan yang sederhana tetapi mendasar: mengapa kitab suci yang diyakini membawa rahmat bagi semesta sering kali dibaca hanya untuk kepentingan ritual, sementara daya dorongnya bagi ilmu pengetahuan, etika sosial, dan kemajuan peradaban kurang mendapat perhatian? Pertanyaan itu menjadi benang merah yang menghubungkan berbagai renungan penulis.
Yang menonjol dari buku ini adalah pendekatan esais. Penulis tidak tampil sebagai pengajar yang memberi vonis, melainkan sebagai kawan dialog yang mengajak pembaca berpikir bersama. Gagasan-gagasan disampaikan dengan bahasa yang relatif mudah diikuti, sehingga pembaca umum pun dapat masuk ke dalam perbincangan tanpa harus memiliki latar belakang studi keislaman yang mendalam.
Dalam tradisi intelektual Islam, membaca Al-Qur’an selalu berkaitan dengan membaca realitas. Ayat-ayat tentang alam mendorong pengamatan, ayat-ayat tentang manusia menuntut keadilan, dan ayat-ayat tentang sejarah mengingatkan pentingnya belajar dari jatuh bangun peradaban. Semangat inilah yang terasa kuat dalam buku Ngubaidi Ahmad. Ia melihat wahyu bukan sebagai teks yang beku, melainkan sebagai cahaya yang terus menantang manusia untuk memperbaiki diri dan masyarakatnya.
Secara tematik, buku ini lebih dekat dengan tradisi pemikiran keislaman yang menekankan etika sosial dan pembangunan peradaban. Pembaca akan menemukan dorongan untuk menjadikan agama sebagai sumber kreativitas, kerja keras, kejujuran, penghargaan terhadap ilmu, serta kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, keberagamaan tidak berhenti pada kesalehan individual, tetapi bergerak menuju tanggung jawab sosial.
Sampul buku yang menampilkan potret seorang kiai tua dengan sapuan warna lembut memberi kesan penting: pemikiran yang terbuka tidak harus tercerabut dari akar tradisi. Justru dari tradisi yang matang, keberanian berpikir dapat tumbuh. Pesan visual ini sejalan dengan isi buku yang berupaya mempertemukan warisan keislaman dengan tantangan zaman.
Tentu, pembaca yang mencari pembahasan akademik yang sistematis mungkin akan merasa buku ini lebih berupa kumpulan renungan daripada kajian ilmiah yang ketat. Namun, di situlah daya tariknya. Ia memberi ruang bagi pembaca untuk berhenti sejenak, merenung, lalu melanjutkan percakapan dengan dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Pikiran Pikiran Liar penting dibaca karena ia mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari hafalan semata, melainkan dari keberanian bertanya, ketekunan belajar, dan kesediaan menautkan wahyu dengan kenyataan hidup. Di tengah zaman yang sering bising oleh slogan keagamaan, buku ini menawarkan sesuatu yang lebih sunyi tetapi mendasar: ajakan untuk berpikir.
Sebagaimana tradisi resensi di halaman-halaman budaya Kompas, buku ini layak ditempatkan bukan hanya sebagai bacaan keagamaan, melainkan sebagai bacaan kebudayaan. Ia mengajak kita melihat Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca, melainkan jalan panjang menuju peradaban yang lebih manusiawi. (Aris Munandar)










