Sedekah Sebelum Hajat: Titik Temu Al-Mujādalah dan Tradisi Banokeling

1000964779
tumpengan, tradisi jawa yang masih berlangsung (ilustrasi)
banner 468x60

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَاجَيْتُمُ الرَّسُولَ فَقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَةً ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ لَكُمْ وَأَطْهَرُ ۚ فَإِن لَّمْ تَجِدُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Bacaan Lainnya
banner 300x250

 

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak mengadakan pembicaraan rahasia dengan Rasul, hendaklah kamu mengeluarkan sedekah sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih (bagi hatimu). Tetapi jika kamu tidak memperoleh (apa yang akan disedekahkan), maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

Untuk melengkapi konteksnya, ayat berikutnya yaitu Surat Al-Mujādalah ayat 13 menjelaskan bahwa ketentuan tersebut kemudian diringankan oleh Allah:

 

“Apakah kamu takut akan menjadi miskin karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tidak melakukannya dan Allah telah memberi keringanan kepadamu, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, taatilah Allah dan Rasul-Nya…”

BOROBUDURCHANEL – Ayat ini turun dalam konteks orang-orang yang ingin berkonsultasi secara khusus dengan Rasulullah saw. Para ulama menjelaskan bahwa ketentuan itu pernah diwajibkan sebagai pendidikan ruhani agar orang tidak memonopoli waktu Nabi, tidak datang dengan kesia-siaan, dan menata hati sebelum menyampaikan persoalan. Sedekah itu bukan harga untuk bertemu Rasulullah. Ia adalah penyucian niat. Dengan memberi sebelum berbicara, seseorang diajak bertanya kepada dirinya sendiri: benarkah urusan ini penting, benarkah hati ini datang dengan kerendahan?

Di sini Al-Qur’an mengajarkan sesuatu yang amat mendalam: mendekat kepada yang mulia hendaknya didahului dengan kemurahan hati. Tangan dibuka lebih dahulu sebelum lidah dibuka. Harta disentuh lebih dahulu agar hati menjadi lembut.

Ketika ayat itu dibaca di tanah Jawa, khususnya di lingkungan masyarakat adat Banokeling di Desa Pekuncen, Banyumas, kita menemukan gema yang menarik. Dalam tradisi Banokeling, seseorang yang memiliki hajat tidak datang dengan tangan kosong. Ia menyiapkan tumpeng untuk kepungan; dalam hajat tertentu ada yang menyembelih kambing, bahkan sapi. Semakin besar hajat yang dipikul, semakin besar pula sedekah yang disiapkan.

Sebagian orang tergesa-gesa menyebutnya sekadar adat. Padahal bila dicermati dengan hati yang jernih, di sana terdapat nilai yang sejalan dengan ruh ayat tadi: setiap permohonan hendaknya disertai pemberian kepada sesama.

Tumpeng dalam tradisi Jawa bukan semata susunan nasi berbentuk kerucut. Ia adalah simbol pengharapan yang mengarah ke atas, tanda bahwa manusia menyadari adanya Yang Mahatinggi. Namun puncak tumpeng tidak dimakan sendirian. Ia dibagi. Kerucut itu mengajarkan bahwa doa yang naik ke langit semestinya melahirkan manfaat yang turun ke bumi.

Kepungan juga bukan hanya makan bersama. Ia adalah peristiwa sosial tempat tetangga duduk melingkar tanpa sekat. Di sana yang kaya dan yang sederhana menikmati hidangan yang sama. Hajat pribadi berubah menjadi kebersamaan sosial. Barangkali inilah hikmah yang sering luput kita lihat: sedekah mengubah beban individu menjadi doa kolektif.

Tradisi menyembelih kambing atau sapi pada hajat besar pun dapat dibaca dalam kerangka yang sama. Islam mengenal kurban, akikah, walimah, dan berbagai bentuk jamuan yang intinya berbagi nikmat. Karena itu ukuran besar kecilnya sedekah bukan terutama prestise, melainkan keluasan manfaat. Hajat yang menyangkut banyak orang sewajarnya diiringi pemberian yang manfaatnya juga menjangkau banyak orang.

Tentu Islam mengingatkan agar tradisi tidak berubah menjadi beban yang memaksa. Al-Qur’an sendiri menutup ayat tersebut dengan kelembutan: “Jika kamu tidak memperoleh (apa yang akan disedekahkan), maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Artinya, inti ajaran bukan kemewahan sedekah, melainkan ketulusan hati. Orang yang tidak mampu tidak kehilangan pintu rahmat Allah.

Di sinilah kita perlu membedakan antara substansi dan bentuk. Bentuk boleh berbeda menurut budaya; substansinya adalah kepedulian, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap sesama. Tumpeng boleh berubah bentuk, menu boleh berganti, tetapi semangat berbagi tidak boleh hilang.

Masyarakat Banokeling selama ini mempertahankan tradisi sedekahan bukan sekadar untuk melestarikan warisan leluhur, melainkan untuk merawat hubungan: hubungan manusia dengan Allah, dengan leluhur dalam makna penghormatan sejarah, dengan alam tempat mereka hidup, dan dengan tetangga yang setiap hari berbagi ruang kehidupan. Sedekahan menjadi bahasa sosial yang mengatakan, “Kebahagiaanku belum lengkap sebelum engkau ikut merasakannya.”

Tanah Jawa mengenal banyak bentuk sedekahan: sedekah bumi, sedekah panen, kenduri, slametan, unggahan, dan berbagai nama lain. Nama-nama itu berbeda, tetapi nadinya sama, yakni rasa syukur yang dibagikan. Dalam pandangan keagamaan yang arif, tradisi-tradisi semacam ini dapat menjadi wadah nilai Islam selama tidak bertentangan dengan tauhid dan tidak melahirkan kemudaratan. Islam tidak selalu datang untuk menghapus budaya; sering kali ia datang untuk membersihkan niat, meluruskan arah, dan mengisi budaya dengan makna yang lebih bening.

Maka ketika seorang warga Banokeling menyiapkan tumpeng sebelum memanjatkan hajat, kita dapat melihatnya sebagai latihan batin: sebelum meminta kepada Allah, ia belajar memberi kepada manusia. Sebelum berharap ditolong, ia menolong. Sebelum mengetuk pintu langit, ia membuka pintu rumahnya.

Bukankah itu inti pendidikan Al-Qur’an dalam ayat tadi? Sedekah mendahului percakapan dengan Rasulullah agar hati menjadi bersih. Sedekah mendahului hajat dalam tradisi Jawa agar hubungan sosial menjadi bersih. Keduanya bertemu pada satu titik: permohonan yang paling indah adalah permohonan yang lahir dari hati yang telah belajar berbagi.

Di zaman ketika banyak orang ingin memperoleh berkah tanpa mau berbagi, ayat Al-Mujādalah dan tradisi sedekahan Banokeling mengingatkan kita bahwa jalan menuju keberkahan bukanlah menggenggam lebih erat, melainkan melepaskan sebagian dengan ikhlas. Tangan yang memberi sesungguhnya sedang menyiapkan ruang bagi turunnya rahmat. Dan masyarakat yang gemar bersedekah sedang membangun pagar tak terlihat yang menjaga persaudaraan mereka tetap hidup dari generasi ke generasi.” (aris munandar)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *