Maka kita sering mendengar kalimat yang datang mendadak seperti hujan bulan Sapar: “Tersangka.”
BOROBUDURCHANEL – Politik kita hari-hari ini tampaknya bukan lagi gelanggang pidato, melainkan ladang ranjau. Orang berjalan sambil tersenyum, tetapi telinganya sibuk mendengar bunyi klik di bawah sepatu sendiri. Di negeri yang gemar rapat dan konferensi pers ini, ketakutan sering datang bukan dari lawan yang berteriak, melainkan dari kawan yang terlalu ramah.
Dahulu, orang tua di kampung mengajarkan bahwa jebakan tikus dipasang malam hari. Tikus tidak diberi tahu bahwa di balik sepotong singkong ada kawat yang siap menjepit lehernya. Politik modern rupanya belajar banyak dari tikus. Bedanya, singkong diganti jabatan, proyek, tanda tangan, atau sekadar foto bersama.
Maka kita sering mendengar kalimat yang datang mendadak seperti hujan bulan Sapar: “Tersangka.” Kemarin ia masih membuka seminar, memotong pita, dan menanam pohon. Hari ini namanya muncul di layar televisi dengan huruf besar. Wartawan berlarian, kamera mengejar, tetangga mendadak ahli hukum. Yang berubah bukan wajah orang itu, melainkan arah angin.
Saya teringat seorang petani di Banyumas yang pernah berkata, “Padi itu tidak roboh karena angin besar saja, tetapi juga karena akar yang diam-diam dimakan tikus.” Pemerintahan pun begitu. Kadang yang tampak adalah badai politik, padahal kerusakan sesungguhnya sudah lama menggerogoti akar kepercayaan.
Celakanya, politik kita juga gemar memelihara ingatan pendek. Ketika seseorang masih berkuasa, ia dipanggil “Bapak”. Sesudah jatuh, ia dipanggil “tersangka”. Kata-kata berubah lebih cepat daripada musim. Bahasa Indonesia ternyata sangat lincah jika berhadapan dengan kekuasaan.
Di warung kopi, orang-orang membicarakan korupsi seperti membicarakan cuaca. “Hari ini mendung penangkapan.” “Besok mungkin ada operasi.” Seolah-olah korupsi adalah fenomena alam, bukan hasil keputusan manusia. Padahal uang negara tidak bisa berjalan sendiri menuju rekening pribadi. Ia selalu dibimbing tangan yang sadar.
Namun saya curiga, persoalannya bukan hanya korupsi. Ada juga seni memasang jebakan. Politik modern mencintai dokumen, rekaman, tanda tangan, percakapan, dan arsip. Semuanya disimpan seperti petani menyimpan benih. Pada musim tertentu benih itu ditanam, lalu tumbuh menjadi perkara. Orang yang kemarin merasa aman mendadak sibuk mencari pengacara.
Karena itu banyak pejabat sekarang berbicara dengan kalimat pendek-pendek, seperti orang menyeberangi sungai penuh buaya. Mereka takut salah ucap. Bahkan diam pun kadang dianggap mencurigakan. Politik akhirnya menjadi latihan menahan napas.
Saya tidak hendak membela siapa pun. Korupsi tetaplah korupsi, sebagaimana padi tetap padi meskipun ditanam di sawah pejabat. Tetapi negeri ini perlu bertanya: apakah hukum sedang menegakkan keadilan ataukah sebagian orang sedang menegakkan posisi tawarnya? Pertanyaan itu penting agar hukum tidak berubah menjadi pagar yang hanya dibuka untuk kawan dan ditutup untuk lawan.
Guru ngaji saya pernah mengajari pembacanya bahwa politik bisa ditertawakan tanpa kehilangan keseriusannya. Maka marilah kita tertawa sebentar. Bayangkan seorang pejabat berjalan membawa map setebal kitab kuning. Ia menoleh ke kanan kiri, bukan mencari rakyat, melainkan mencari ranjau. Betapa tragisnya sebuah kekuasaan yang lebih takut pada arsip daripada pada suara rakyat.
Pada akhirnya, jebakan politik yang paling berbahaya bukanlah perkara hukum, melainkan hilangnya kepercayaan. Ketika rakyat mulai percaya bahwa setiap jabatan hanyalah antrean menuju ruang pemeriksaan, maka negara sedang menanam pesimisme di sawahnya sendiri. Dan pesimisme, seperti gulma, tumbuh tanpa pupuk.
Mungkin karena itu para petani tua selalu berpesan: sebelum menanam padi, bersihkan dahulu sawahnya. Pemerintahan pun demikian. Bersihkan sistemnya, benahi pengawasannya, sederhanakan kekuasaannya, dan jangan jadikan hukum sebagai perangkap. Sebab negara yang dipenuhi jebakan akan melahirkan pejabat yang berjalan sambil gemetar, dan rakyat yang menonton sambil mengelus dada.
Sementara itu, ranjau-ranjau politik tetap ditanam. Dan kita, para penonton republik, hanya bisa berharap agar suatu hari nanti jalan menuju kekuasaan tidak lagi terasa seperti berjalan di ladang yang setiap langkahnya bisa meledak.
redaksi










