Pendidikan Seumur Hidup, Ijazah Hanya Selembar Kertas

1001264645
ilustrasi Gambar
banner 468x60

Tentang manusia yang terus belajar, tetapi terlalu sibuk mengejar gelar

BOROBUDURCHANEL – Ada yang aneh dengan cara kita memandang pendidikan. Kita mengirim anak-anak ke sekolah sejak kecil, menyuruh mereka belajar dengan tekun, mengantar mereka ke perguruan tinggi, membayar uang kuliah dengan susah payah, lalu menunggu hari wisuda seolah-olah pada hari itulah seluruh pengetahuan akan menjelma menjadi masa depan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Setelah toga dilepas, foto wisuda diunggah ke media sosial, dan ucapan selamat mulai tenggelam, kehidupan yang sesungguhnya menunggu di luar pagar kampus.

Di sana ada lowongan pekerjaan dengan persyaratan yang panjang. Ada perusahaan yang meminta pengalaman kepada pelamar yang baru lulus. Ada sarjana yang mengirim puluhan lamaran tanpa jawaban. Ada pula orang yang tidak pernah kuliah, tetapi mampu mengembangkan usaha, membuka lapangan kerja, dan menghidupi keluarganya dari keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman.

Lantas, apa sebenarnya yang kita cari dari pendidikan?

Apakah pengetahuan, atau selembar ijazah? Apakah kemampuan menjalani kehidupan, atau gelar yang membuat kita tampak lebih terhormat di hadapan orang lain?

Pertanyaan ini bukan ajakan untuk meninggalkan sekolah. Juga bukan pembenaran bagi anggapan bahwa kuliah tidak ada gunanya. Saya hanya ingin mengajak kita melihat kembali sesuatu yang barangkali telah lama kita lupakan: pendidikan tidak pernah selesai ketika seseorang menerima ijazah.

Pendidikan justru baru terasa maknanya ketika pengetahuan yang diperoleh mulai berhadapan dengan kehidupan.

Anak-anak belajar dari kehidupan

Dorothy Law Nolte, seorang pendidik keluarga asal Amerika Serikat, dikenal melalui puisinya Children Learn What They Live. Gagasan utamanya sederhana: anak-anak belajar dari lingkungan tempat mereka tumbuh. Mereka tidak hanya menyerap nasihat, tetapi juga meniru perilaku, menyerap nilai, dan membentuk sikap melalui pengalaman sehari-hari.

Jika anak tumbuh di lingkungan yang penuh penghinaan, ia dapat belajar merendahkan orang lain. Jika ia dibesarkan dengan dorongan dan penerimaan, ia mempunyai kesempatan lebih besar untuk mengembangkan rasa percaya diri.

Gagasan Nolte itu sesungguhnya membawa kita melampaui ruang kelas.

Seorang anak tidak hanya belajar ketika duduk di bangku sekolah. Ia belajar ketika melihat ayahnya bekerja, menyaksikan ibunya mengelola uang belanja, membantu tetangga yang kesulitan, mendengarkan perdebatan orang dewasa, atau mengalami sendiri akibat dari keputusan yang keliru.

Ia belajar kejujuran bukan semata-mata dari definisi dalam buku Pendidikan Pancasila, melainkan dari perilaku orang-orang yang setiap hari mengajarinya tentang benar dan salah.

Ia belajar tanggung jawab bukan hanya karena ada ujian yang harus dijawab, melainkan karena suatu ketika ia harus menanggung akibat perbuatannya sendiri.

Dalam pengertian ini, kehidupan adalah ruang pendidikan yang tidak pernah tutup.

Sayangnya, kita sering mempersempit pengertian belajar menjadi kegiatan yang berlangsung di sekolah, lengkap dengan jadwal pelajaran, ujian, nilai, dan rapor. Seolah-olah setelah seseorang lulus, proses belajar itu boleh berhenti.

Padahal, seorang sarjana yang berhenti belajar bisa tertinggal oleh perubahan zaman. Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki gelar akademik masih dapat memperluas pengetahuan, memperbaiki keterampilan, dan mengubah cara pandangnya melalui pengalaman serta kemauan untuk terus belajar.

Ijazah mencatat apa yang telah diselesaikan. Ia tidak dapat mencatat seluruh hal yang akan dipelajari seseorang sepanjang hidupnya.

Gandhi dan pendidikan yang menyentuh seluruh manusia

Mahatma Gandhi mempunyai pandangan pendidikan yang patut kita renungkan. Baginya, pendidikan bukan sekadar membuat seseorang pandai membaca, menulis, dan berhitung. Pendidikan seharusnya mengembangkan manusia secara menyeluruh, meliputi pikiran, tubuh, dan jiwa.

Dalam tulisan Gandhi mengenai pendidikan dasar yang diterbitkan pada 8 Mei 1937, ia menekankan pentingnya perkembangan intelektual yang berjalan bersama latihan keterampilan fisik dan pendidikan hati. Ketiganya tidak seharusnya dipisahkan.

Pandangan itu terasa relevan ketika kita melihat pendidikan yang terlalu sibuk menghasilkan lulusan, tetapi belum tentu berhasil menghubungkan pengetahuan dengan kecakapan hidup.

Seseorang dapat menguasai teori ekonomi, tetapi kesulitan mengelola keuangan pribadinya. Ia dapat memperoleh nilai tinggi dalam pelajaran kewirausahaan, tetapi tidak pernah belajar menghadapi risiko ketika menjalankan usaha. Ia dapat berbicara tentang pertanian modern, tetapi tidak pernah memahami bagaimana petani mengambil keputusan ketika hujan tidak turun selama berbulan-bulan.

Tentu, contoh-contoh itu bukan alasan untuk meremehkan teori. Teori tetap penting. Tanpa ilmu pengetahuan, pengalaman kadang-kadang hanya membuat seseorang mengulang kesalahan yang sama.

Namun, pengetahuan yang tidak pernah diuji dalam praktik bisa kehilangan sebagian manfaatnya. Sebaliknya, pengalaman tanpa refleksi juga dapat membuat seseorang terperangkap dalam kebiasaan lama.

Di sinilah gagasan Gandhi menemukan relevansinya. Pendidikan semestinya mempertemukan pikiran dengan tindakan, serta keterampilan dengan tanggung jawab moral.

Bayangkan seorang petani yang telah puluhan tahun mengolah tanah. Ia memahami perubahan cuaca, karakter tanah, kebutuhan air, dan kebiasaan hama. Pengalamannya merupakan pengetahuan yang berharga. Tetapi jika ia bersedia mempelajari teknologi irigasi, ilmu kesuburan tanah, atau pemasaran digital, pengetahuannya dapat berkembang lebih jauh.

Demikian pula seorang sarjana pertanian. Ia memiliki bekal ilmiah, tetapi perlu mendengarkan petani yang setiap hari berhadapan dengan kenyataan di lapangan.

Siapa yang lebih berpendidikan di antara keduanya?

Pertanyaan itu mungkin tidak perlu dijawab dengan memilih salah satu. Yang lebih penting ialah bagaimana keduanya bersedia saling belajar.

Sebab, pendidikan bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling tinggi. Pendidikan adalah proses untuk membuat manusia lebih mampu memahami dan memperbaiki kehidupan.

Erich Fromm dan manusia yang sibuk memiliki

Ada satu pemikiran dari Erich Fromm, psikolog sosial dan filsuf humanis, yang dapat membantu kita membaca kegemaran masyarakat mengejar gelar.

Dalam bukunya To Have or to Be? (1976), Fromm membedakan dua orientasi kehidupan: orientasi memiliki (having) dan orientasi menjadi (being). Secara sederhana, orientasi memiliki menempatkan kepemilikan sebagai pusat kehidupan, sedangkan orientasi menjadi menekankan pengalaman hidup, kegiatan, pertumbuhan, dan cara seseorang menggunakan kemampuan dirinya.

Kita dapat memakai gagasan tersebut untuk bertanya: apakah kita belajar untuk menjadi manusia yang lebih berpengetahuan, atau sekadar memiliki tanda bahwa kita pernah belajar?

Gelar sarjana, gelar magister, sertifikat pelatihan, dan berbagai predikat akademik dapat menjadi bukti pencapaian. Tidak ada yang salah dengan memilikinya. Masalahnya muncul ketika kepemilikan itu menjadi tujuan akhir, sementara pertumbuhan pengetahuan justru berhenti.

Seseorang mungkin bangga memperkenalkan dirinya dengan sederet gelar. Namun, apakah ia masih bersedia mendengarkan pendapat orang yang pendidikannya lebih rendah? Apakah ia mau mengakui kesalahan? Apakah ia bersedia belajar dari seorang pekerja yang tidak memiliki gelar akademik, tetapi lebih berpengalaman dalam bidang tertentu?

Jika gelar membuat seseorang merasa tidak perlu belajar lagi, gelar itu justru dapat berubah menjadi pagar yang mengurung pikirannya sendiri.

Sebaliknya, seseorang yang terus belajar tidak harus selalu merasa paling tahu. Ia memahami bahwa pengetahuan manusia terbatas, persoalan kehidupan terus berubah, dan jawaban yang benar hari ini mungkin perlu diperiksa kembali esok hari.

Dari sudut pandang ini, persoalan kita bukan terletak pada banyaknya orang yang ingin menjadi sarjana. Persoalannya ialah ketika masyarakat lebih menghargai apa yang dimiliki seseorang daripada apa yang dapat ia lakukan, apa yang ia pahami, dan bagaimana ia memperlakukan orang lain.

Kita mudah terkesan oleh gelar di belakang nama. Kita tidak selalu menyediakan waktu untuk memeriksa kedalaman pengetahuan di baliknya.

Padahal, gelar adalah keterangan mengenai pencapaian akademik. Ia bukan ukuran lengkap mengenai kebijaksanaan, kejujuran, kreativitas, atau kematangan seseorang.

Ketika ijazah menjadi ukuran harga manusia

Dalam kehidupan sosial kita, ijazah sering kali bekerja lebih jauh daripada fungsi administratifnya.

Ia dapat menjadi syarat memasuki pekerjaan tertentu, sekaligus simbol kehormatan keluarga. Anak yang berhasil masuk perguruan tinggi dianggap mengangkat martabat orang tua. Anak yang memilih bekerja setelah SMA kadang-kadang dipandang belum mencapai sesuatu, sekalipun ia telah memiliki keterampilan dan penghasilan yang baik.

Akibatnya, pilihan pendidikan tidak selalu lahir dari kebutuhan belajar. Ada yang kuliah karena memang ingin mendalami suatu bidang. Ada yang kuliah karena tuntutan profesi. Tetapi ada pula yang masuk perguruan tinggi semata-mata karena takut dianggap gagal oleh lingkungan.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Biaya kuliah bukan perkara kecil bagi banyak keluarga. Ada orang tua yang membiayai pendidikan anak dari hasil panen, upah harian, atau usaha kecil yang keuntungannya tidak selalu pasti. Mereka menaruh harapan besar pada ijazah anaknya karena percaya pendidikan akan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Harapan itu layak dihormati. Pendidikan memang dapat memperluas kesempatan seseorang. Namun, kita juga perlu jujur bahwa gelar tidak otomatis menjamin pekerjaan, penghasilan tinggi, ataupun keberhasilan hidup.

Ketika seorang sarjana kesulitan mendapatkan pekerjaan, kita tidak boleh serta-merta menyalahkan dirinya. Kita juga perlu memeriksa kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan pekerjaan, mutu pembelajaran, kesempatan magang, perkembangan ekonomi, dan ketersediaan lapangan kerja.

Sebaliknya, pengangguran sarjana juga tidak cukup untuk membuktikan bahwa pendidikan tinggi telah kehilangan manfaatnya. Banyak profesi memerlukan pendidikan formal yang mendalam, dan penelitian di perguruan tinggi berperan penting dalam menghasilkan pengetahuan baru.

Yang patut dipertanyakan ialah apakah kita sudah memberikan pilihan pendidikan yang beragam dan bermutu, serta apakah biaya yang dikeluarkan sebanding dengan kualitas dan manfaat yang diterima mahasiswa.

Kita tidak seharusnya memaksa semua anak melewati pintu yang sama.

Ada yang cocok menempuh pendidikan akademik. Ada yang lebih berkembang melalui pendidikan vokasi. Ada yang memiliki bakat kuat dalam bidang teknik, pertanian, seni, perdagangan, atau kewirausahaan. Sebagian akan menggabungkan beberapa jalur itu sepanjang hidupnya.

Masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang semua warganya memiliki gelar yang sama. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memberi ruang bagi setiap orang untuk mengembangkan kemampuan, memperoleh penghidupan yang layak, dan terus belajar tanpa harus kehilangan martabat.

Pendidikan seumur hidup

Gagasan pendidikan seumur hidup sesungguhnya mengubah cara kita memandang kelulusan.

Kelulusan bukan garis akhir, melainkan penanda bahwa seseorang telah menuntaskan satu tahap. Setelah itu, ia menghadapi tahap lain yang mungkin menuntut pengetahuan berbeda.

Seorang guru perlu terus memperbarui cara mengajar. Seorang petani harus menyesuaikan diri dengan perubahan iklim dan teknologi. Seorang wartawan harus mempelajari perangkat baru tanpa kehilangan ketelitian dalam memeriksa fakta. Seorang dokter harus mengikuti perkembangan ilmu kedokteran. Bahkan seseorang yang telah pensiun tetap dapat belajar memahami dunia yang berubah di sekelilingnya.

Belajar juga tidak harus selalu berarti kembali ke bangku kuliah. Buku, diskusi, pelatihan, pengalaman kerja, komunitas, praktik langsung, dan teknologi digital dapat menjadi jalan untuk memperluas pengetahuan. Dalam bidang yang mensyaratkan lisensi atau kualifikasi formal, jalur resmi itu tetap harus ditempuh. Pendidikan seumur hidup bukan alasan untuk mengabaikan standar keahlian.

Yang perlu diubah adalah keyakinan bahwa belajar hanya berlangsung ketika seseorang masih muda dan mengenakan seragam sekolah.

Kita sering menganggap orang tua sebagai orang yang sudah selesai belajar. Padahal, pengalaman panjang justru dapat menjadi dasar untuk memahami pengetahuan baru. Demikian pula anak muda tidak otomatis lebih memahami dunia hanya karena akrab dengan teknologi.

Setiap generasi memiliki sesuatu untuk dipelajari dan sesuatu untuk diajarkan.

Pendidikan seumur hidup juga berarti kesediaan untuk mengoreksi diri. Orang yang benar-benar belajar tidak hanya mengumpulkan jawaban, tetapi berani memeriksa pertanyaan yang selama ini ia anggap benar.

Ia dapat mengubah pendapat ketika menemukan bukti baru. Ia dapat mengakui bahwa pengalaman pribadinya tidak selalu berlaku bagi semua orang. Ia dapat menerima bahwa ada banyak hal yang belum diketahuinya.

Kemampuan semacam itu tidak selalu tercermin dalam selembar ijazah. Namun, ia sangat menentukan bagaimana manusia menjalani kehidupannya bersama orang lain.

Sekolah harus membuka jalan, bukan menentukan harga manusia

Tentu saja, kita tidak perlu mempertentangkan pendidikan formal dengan pengalaman hidup. Keduanya dapat saling memperkuat.

Sekolah memberi dasar pengetahuan yang sistematis. Perguruan tinggi memungkinkan seseorang mendalami disiplin ilmu, melakukan penelitian, dan mengembangkan kemampuan analitis. Pengalaman hidup membantu manusia menguji pengetahuan itu dalam situasi nyata.

Yang perlu kita tolak adalah anggapan bahwa satu jalur pendidikan merupakan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Pemerintah perlu memastikan pendidikan bermutu dapat dijangkau masyarakat luas. Perguruan tinggi perlu menjaga kualitas pembelajaran, bukan sekadar mengejar jumlah mahasiswa dan lulusan. Dunia usaha perlu membuka ruang bagi keterampilan yang relevan, tanpa mengabaikan kualifikasi yang memang dibutuhkan. Sementara itu, masyarakat perlu berhenti memandang pekerjaan berdasarkan tinggi-rendahnya gengsi semata.

Kita juga perlu mengubah cara keluarga berbicara kepada anak-anaknya.

Jangan hanya bertanya, “Kamu nanti kuliah di mana?”

Tanyakan pula, “Apa yang ingin kamu pelajari? Apa yang ingin kamu kuasai? Masalah apa yang ingin kamu selesaikan? Dan bagaimana pengetahuanmu kelak dapat bermanfaat?”

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak membuat ijazah kehilangan arti. Justru sebaliknya, pertanyaan itu mengembalikan ijazah kepada fungsinya yang lebih masuk akal: menjadi bukti perjalanan belajar, bukan pengganti perjalanan itu sendiri.

Barangkali inilah pertemuan yang menarik antara Dorothy Law Nolte, Mahatma Gandhi, dan Erich Fromm.

Nolte mengingatkan bahwa manusia dibentuk oleh lingkungan dan pengalaman yang dijalaninya. Gandhi menempatkan pendidikan sebagai pengembangan manusia secara menyeluruh, bukan sekadar penguasaan pengetahuan. Fromm mengajak kita memeriksa orientasi hidup yang terlalu sibuk memiliki, alih-alih mengembangkan keberadaan diri.

Ketiganya tidak sedang menawarkan resep yang sama. Mereka datang dari latar pemikiran berbeda. Namun, gagasan mereka dapat membantu kita melihat bahwa pendidikan tidak selesai pada kepemilikan sebuah gelar.

Pendidikan berlangsung ketika manusia terus bertumbuh melalui pengalaman, pengetahuan, tindakan, dan kesediaan untuk berubah.

Ijazah boleh disimpan, pengetahuan jangan berhenti

Pada akhirnya, saya teringat sawah.

Tanah tidak bertambah subur hanya karena petaninya memiliki ijazah pertanian. Benih tidak tumbuh hanya karena seseorang telah lulus ujian. Tanaman memerlukan pengolahan tanah, air, perawatan, pengetahuan, dan ketekunan.

Namun, petani yang mau belajar dari penelitian dan teknologi dapat memperbaiki cara bertaninya. Sebaliknya, peneliti yang bersedia mendengarkan pengalaman petani dapat menemukan persoalan yang mungkin tidak terlihat dari meja laboratorium.

Keduanya bertemu bukan karena gelar mereka sama, melainkan karena pengetahuan mereka dapat saling melengkapi.

Barangkali pendidikan kita perlu belajar dari hubungan itu.

Ijazah bukan sesuatu yang harus dibuang. Bagi banyak orang, ia merupakan hasil perjuangan panjang, pengorbanan keluarga, dan pencapaian yang patut dihargai. Tetapi penghargaan terhadap ijazah tidak boleh membuat kita melupakan nilai pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan karakter manusia.

Selembar kertas dapat membuktikan bahwa seseorang pernah menyelesaikan pendidikan formal. Ia tidak dapat menjamin bahwa pemiliknya akan terus berkembang. Sebaliknya, ketiadaan ijazah tidak membuktikan bahwa seseorang berhenti belajar.

Kita boleh berbangga ketika anak-anak kita lulus sekolah atau perguruan tinggi. Kita boleh merayakan keberhasilan mereka. Tetapi jangan sampai perayaan itu menjadi upacara penutupan bagi rasa ingin tahu mereka.

Sebab, dunia tidak berhenti berubah ketika wisuda selesai. Kehidupan tidak berhenti memberikan ujian ketika transkrip nilai diterbitkan. Dan manusia tidak berhenti membutuhkan pengetahuan hanya karena namanya telah diikuti gelar akademik.

Mungkin ukuran pendidikan yang lebih masuk akal bukanlah berapa banyak gelar yang berhasil dikumpulkan seseorang, melainkan seberapa jauh ia mampu memahami kehidupan, memperbaiki pekerjaannya, menghormati orang lain, dan bersedia belajar dari kesalahan.

Ijazah dapat disimpan dalam map, dibingkai di dinding, atau dilampirkan ketika melamar pekerjaan. Semua itu wajar.

Tetapi pengetahuan harus dibawa ke dalam kehidupan.

Ia harus tumbuh bersama pengalaman, diuji melalui tindakan, dan diperkaya oleh perjumpaan dengan orang lain.

Karena pendidikan seumur hidup bukan berarti manusia harus terus-menerus bersekolah. Pendidikan seumur hidup berarti manusia tidak pernah menganggap dirinya selesai belajar.

Dan ijazah, betapapun pentingnya, tetap hanya selembar kertas jika pengetahuan yang diwakilinya tidak pernah menjelma menjadi cara berpikir, cara bekerja, dan cara memperlakukan sesama manusia. redaksi

editor: Aris Munandar

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *