Tokoh NU Magelang Ahmad Majidun Dukung Gagasan Gus Yusuf: NU Besar Harus Semakin Kuat dan Mandiri

KH. Yusuf chudzori Diskusi dengan Ahamad Majidun salah satu Tokoh NU Magelang . fotojeep
KH. Yusuf Chudzori Diskusi dengan Ahamad Majidun salah satu Tokoh NU Magelang . (foto,jeep)
banner 468x60

BOROBUDURCHANEL – MAGELANG – Dukungan terhadap gagasan Pengasuh Pondok Pesantren API Asri Tegalrejo, KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) mengenai pentingnya membangun kemandirian ekonomi Nahdlatul Ulama (NU) terus mengalir. Kali ini datang dari tokoh NU Kabupaten Magelang, Ahmad Majidun, M.Ag, yang menilai pemikiran tersebut merupakan ikhtiar strategis untuk memperkuat organisasi tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai pelayan umat.

Menurut Ahmad Majidun, kebesaran NU merupakan anugerah sekaligus modal sosial, budaya, dan keagamaan yang sangat besar. Namun, modal tersebut hanya akan melahirkan kekuatan apabila dikelola melalui kepemimpinan yang visioner, kaderisasi yang berkualitas, persatuan yang kokoh, serta keberanian membangun kemandirian, termasuk di bidang ekonomi.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Menjadi besar adalah anugerah. Menjadi kuat adalah ikhtiar. Dua hal ini tidak boleh dipertentangkan. Kebesaran NU merupakan modal yang luar biasa, tetapi harus dikelola dengan baik agar menjadi kekuatan yang nyata,” ujar Ahmad Majidun kepada BOROBUDURCHANEL.COM.

NU Harus Optimistis Menatap Masa Depan

Ahmad Majidun menegaskan tidak ada alasan bagi warga Nahdliyin untuk pesimistis menghadapi tantangan zaman. Dengan jutaan anggota, ribuan pesantren, para kiai, santri, akademisi, profesional, dan generasi muda yang terus berkembang, NU memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi organisasi yang semakin kuat dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Menurutnya, optimisme tersebut harus diwujudkan melalui penguatan organisasi, peningkatan kualitas kader, pelayanan kepada umat, serta pembangunan kemandirian ekonomi yang mampu menopang berbagai program sosial dan pendidikan NU.

Gagasan Gus Yusuf Tidak Boleh Dipahami Sepotong-sepotong

Ahmad Majidun menilai perdebatan mengenai ilustrasi “sarung” yang pernah disampaikan Gus Yusuf telah menggeser substansi gagasan yang sebenarnya.

Ia menegaskan, contoh sarung hanyalah media komunikasi agar masyarakat mudah memahami pentingnya membangun ekosistem ekonomi Nahdliyin.

“Yang diperjuangkan Gus Yusuf bukan soal menjual sarung. Yang ingin dibangun adalah sistem ekonomi yang saling menguatkan, sehingga manfaatnya kembali kepada warga Nahdliyin,” katanya.

Menurutnya, hakikat gagasan tersebut bukan terletak pada jenis produk yang diperdagangkan, melainkan bagaimana NU mampu menghadirkan jaringan ekonomi yang sehat, saling menopang, dan berpihak kepada kemaslahatan umat.

Kemandirian Sudah Dibuktikan Melalui Kerja Nyata

Ahmad Majidun juga menilai Gus Yusuf telah menunjukkan bahwa kemandirian bukan hanya menjadi konsep atau wacana.

Berbagai lembaga pendidikan, rumah sakit, perguruan tinggi, media dakwah, hingga unit pelayanan masyarakat yang berkembang di lingkungan Pesantren API Asri menjadi contoh bagaimana pengelolaan lembaga secara profesional dapat memperkuat pelayanan kepada masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan organisasi.

Menurutnya, seluruh ikhtiar tersebut merupakan bentuk khidmah yang manfaatnya kembali kepada umat, bukan semata-mata aktivitas ekonomi.

NU Tetap Jam’iyah, tetapi Harus Profesional

Dalam pandangan Ahmad Majidun, NU memang merupakan jam’iyah diniyah ijtima’iyah, bukan perusahaan.

Namun, hal itu tidak berarti NU harus menjauh dari pengelolaan organisasi yang profesional, transparan, akuntabel, dan mandiri.

Justru melalui tata kelola yang baik, NU akan semakin mampu menjalankan fungsi keagamaannya, memperkuat pendidikan, meningkatkan pelayanan kesehatan, mengembangkan ekonomi umat, dan menjaga kemandirian organisasi.

Karena itu, diskusi yang seharusnya dikembangkan bukan lagi mengenai apakah NU akan “berjualan sarung” atau tidak.

“Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah bagaimana NU mampu membangun kekuatan ekonomi yang berpihak kepada umat tanpa menggeser ruang usaha jamaahnya sendiri,” ujarnya.

Persatuan dan Kemandirian Menjadi Kunci

Ahmad Majidun mengutip pesan Gus Yusuf yang mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk melihat kekuatan besar yang dimiliki NU.

“Jangan sibuk menghitung kelemahan NU hingga lupa melihat kekuatannya. Mari rawat persatuan, perkuat kaderisasi, tingkatkan kualitas pendidikan, ekonomi, dan pelayanan kepada umat. Jika semua bergerak bersama, NU bukan hanya besar, tetapi juga semakin kuat, semakin berwibawa, dan semakin membawa keberkahan bagi bangsa.”

Menurut Ahmad Majidun, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan organisasi tidak lahir dari rasa pesimis, melainkan dari optimisme yang diwujudkan melalui kerja nyata.

Persatuan menjadi sumber kekuatan, sedangkan kemandirian merupakan fondasi keberlanjutan organisasi.

Dengan modal besar yang dimiliki saat ini, NU diyakini mampu terus berkembang menjadi organisasi Islam yang tidak hanya terbesar dari sisi jumlah anggota, tetapi juga semakin mandiri, profesional, dan memberikan manfaat nyata bagi umat, bangsa, serta Indonesia. (arief)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *