K.H. Muhammad Yusuf Chudlori: Keteladanan Menundukkan Hawa Nafsu di Tengah Zaman Modern

Dakwah yang paling kuat bukan hanya melalui lisan tetapi melalui teladan dalam kehidupan.
Dakwah yang paling kuat bukan hanya melalui lisan, tetapi melalui teladan dalam kehidupan.(arief)
banner 468x60

BOROBUDURCHANEL – MAGELANG – Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh godaan gaya hidup konsumtif, sosok K.H. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) dikenal banyak murid dan jamaah sebagai ulama yang menekankan pentingnya kesederhanaan, pengendalian diri, dan istiqamah dalam beribadah.

Di tengah berbagai penilaian publik, bahkan ketika sebagian orang dari luar memandang kehidupan beliau identik dengan kemewahan karena mengelola berbagai lembaga pendidikan, rumah sakit, perguruan tinggi, dan aktivitas sosial, ada sisi kehidupan Gus Yusuf yang tidak banyak diketahui masyarakat.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Menurut para santri dan sahabat dekatnya, di balik padatnya aktivitas dakwah dan pengabdian kepada masyarakat, Gus Yusuf tetap menjaga disiplin ibadah dengan penuh keistiqamahan. Salah satu amalan yang sering diceritakan adalah kebiasaan beliau menjalankan ibadah puasa secara konsisten. Keteladanan inilah yang menjadi inspirasi bagi banyak santri untuk menempatkan ibadah sebagai fondasi kehidupan.

Bagi mereka yang mengenal dekat, kekuatan Gus Yusuf bukan terletak pada apa yang tampak dari luar, melainkan pada kemampuan menjaga hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah, disiplin, dan pengendalian diri. Nilai-nilai tersebut justru menjadi sumber energi dalam mengemban amanah yang begitu besar.

Yang juga menjadi teladan, di sela-sela kesibukan memimpin berbagai lembaga, menghadiri forum nasional, menerima tamu, hingga menjalankan aktivitas organisasi, Gus Yusuf disebut tetap meluangkan waktu untuk mengajar ngaji para santri. Aktivitas mengajar tidak ditinggalkan, karena bagi beliau pesantren dan santri adalah ruh perjuangan yang harus terus dijaga.

Bagi para santri, pemandangan Gus Yusuf duduk bersama mereka mengkaji kitab bukanlah sesuatu yang dibuat-buat untuk pencitraan, melainkan rutinitas yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Di ruang-ruang pengajian itulah beliau menyampaikan ilmu, menanamkan adab, sekaligus memberikan keteladanan bahwa seorang kiai tidak boleh terputus dari tradisi mengajar.

Puasa mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan kedisiplinan. Mengajar santri mengajarkan tanggung jawab untuk menjaga estafet ilmu. Dua hal itu menjadi bagian dari perjalanan pengabdian yang selama ini dikenal oleh para santri dan orang-orang terdekatnya.

Keteladanan seperti inilah yang membuat banyak kalangan menaruh harapan kepada Gus Yusuf sebagai salah satu tokoh Nahdlatul Ulama yang dinilai memiliki kapasitas kepemimpinan, pengalaman mengelola lembaga, serta komitmen kuat terhadap khidmah kepada umat. (ARIEF)

“Dakwah yang paling kuat bukan hanya melalui lisan, tetapi melalui teladan dalam kehidupan.”

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *