BOROBUDURCHANEL.COM — KULON PROGO, – Kekeringan di wilayah Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, membuat warga harus menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisinya bahkan terasa saat warga harus mengurus jenazah.
Sekitar sepekan lalu, ketika seorang warga Pedukuhan Papak, Kalurahan Kalirejo, meninggal dunia, keluarga dan warga tidak bisa langsung memandikan jenazah.
Persediaan air di sekitar permukiman telah mengering akibat kemarau panjang.
Dukuh Papak, Wahono, kemudian mengerahkan warga untuk mencari air. Mereka harus menempuh medan yang cukup sulit sekitar 300 meter menuju masjid desa.
Warga menggunakan sepeda motor untuk mengangkut air dengan jeriken yang diikat seadanya. Mereka mengambil air secara bergantian hingga kebutuhan untuk memandikan jenazah terpenuhi.
“Intinya sama-sama membutuhkan. Saya arahkan warga ambil air secukupnya pakai jeriken, bergantian, supaya semua kebagian,” kata Wahono.
Peristiwa tersebut menjadi gambaran betapa sulitnya kondisi krisis air yang dialami warga Pedukuhan Papak.
Dua Pekan Kesulitan Air
Kekeringan melanda kawasan RT 21 dan RT 22 RW 07, Pedukuhan Papak.
Selama sekitar dua pekan, warga harus bertahan dengan kondisi sumber air yang tidak lagi memadai.
Permukiman warga berada di wilayah dataran tinggi yang tidak memiliki akses sumur maupun jaringan PDAM. Sebagian warga sehari-hari bekerja sebagai petani, penderes nira, hingga buruh serabutan.
Akibat kekeringan, kebutuhan dasar seperti minum, memasak, dan sanitasi kini harus mengandalkan bantuan air.
Bantuan tangki air dan terpal darurat telah disalurkan BPBD Kulon Progo, PMI, serta relawan SAR Sigap Lintas Batas.
Namun, bantuan tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan. Sebab, kebutuhan air warga berlangsung setiap hari.
Para relawan harus menjangkau wilayah pelosok untuk mendistribusikan air menggunakan tangki berkapasitas sekitar 5.000 liter.
Setiap Liter Air Harus Dihemat
Bagi warga Papak, air yang datang menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Air harus dibagi untuk berbagai kebutuhan rumah tangga sehingga penggunaannya dilakukan sehemat mungkin.
Krisis tersebut menunjukkan bahwa kekeringan bukan sekadar persoalan berkurangnya air saat musim kemarau. Bagi warga yang tinggal di wilayah dengan akses air terbatas, kondisi ini menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan.
Bahkan untuk kebutuhan yang sangat mendasar, seperti memandikan jenazah, warga harus terlebih dahulu mencari dan mengangkut air dari lokasi lain.
Kondisi serupa dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Kulon Progo lainnya, termasuk Samigaluh dan Kalibawang.
Kemarau membuat sumber-sumber air mengering, sementara kebutuhan masyarakat terus berjalan.
Di tengah kondisi tersebut, distribusi air bersih menjadi kebutuhan mendesak bagi warga yang terdampak kekeringan.
Bantuan air tidak hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga untuk memastikan warga tetap dapat menjalani kehidupan sehari-hari secara layak di tengah keterbatasan sumber air.***











