BOROBUDURCHANEL.COM – TEMANGGUNG — Musim kemarau panjang mulai memberikan tekanan terhadap perkebunan kopi di dataran tinggi Kabupaten Temanggung. Keterbatasan air membuat tanaman mengalami stres air moderat dan petani menghadapi ancaman penurunan produksi jika kondisi kering berlangsung lebih lama.
Salah seorang petani kopi asal Kecamatan Gemawang, Temanggung, Muhrodin, mengatakan wilayahnya hampir tidak mendapatkan hujan selama sekitar satu bulan terakhir. Hujan yang turun hanya berupa gerimis tipis dan belum mampu mengembalikan debit sumber air.
“Untuk menyirami tanaman saja sulit, kebutuhan air untuk sehari-hari juga harus sangat hemat,” ujar Muhrodin.
Muhrodin mengelola kebun kopi seluas sekitar 4.400 meter persegi. Memasuki musim kemarau, aktivitas di kebun lebih banyak difokuskan pada pembersihan lahan dan pengendalian hama.
Sementara penyiraman tanaman belum bisa dilakukan secara menyeluruh karena keterbatasan air. Menurutnya, kopi membutuhkan ketersediaan air yang relatif konsisten.
Penyiraman yang hanya dilakukan sesekali kemudian terhenti karena sumber air tidak tersedia justru dikhawatirkan membuat tanaman semakin tertekan.
Sumber Air Mulai Menyusut
Dampak kekeringan tidak hanya dirasakan tanaman kopi. Debit mata air dari kawasan hutan yang selama ini dialirkan menggunakan pipa menuju permukiman warga juga mulai menyusut.
Sumber-sumber irigasi kecil di kawasan perkebunan ikut berkurang. Bahkan, iuran swadaya warga yang biasanya digunakan untuk membeli selang air kini lebih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Kondisi tersebut menjadi persoalan bagi petani yang mengandalkan air hujan sebagai salah satu sumber utama kebutuhan tanaman.
“Tanaman kopi kalau kelebihan air hujan juga tidak bagus, tetapi tanpa hujan sama sekali juga sangat berbahaya. Tahun kemarin curah hujannya terlalu tinggi, sementara tahun ini justru terlalu lama tidak ada hujan di wilayah dengan ketinggian 600 sampai 700 mdpl,” kata Muhrodin.
Khawatir Siklus Pembungaan dan Buah Terganggu
Kekhawatiran petani semakin besar karena siklus fisiologis tanaman kopi sangat dipengaruhi kondisi air dan cuaca.
Proses pembentukan bunga, penyerbukan, pembentukan buah hingga pematangan dapat terganggu apabila tanaman mengalami tekanan kekeringan berkepanjangan.
Masa panen kopi di wilayah tersebut umumnya berlangsung sekitar Juli hingga Agustus. Namun, apabila kondisi kering berlanjut hingga Oktober, petani khawatir tanaman yang tidak memperoleh pasokan air memadai mengalami kerusakan serius.
Oktober juga menjadi salah satu periode penting untuk pemupukan tanaman. Ketersediaan air diperlukan agar pengelolaan kebun dan pemanfaatan input pertanian dapat berjalan optimal.
Produksi Kopi Bisa Turun Separuh
Dampak kemarau panjang mulai terlihat dari sisi produktivitas. Dalam kondisi normal, kebun yang dikelola petani setempat dapat menghasilkan hingga sekitar satu ton kopi.
Namun, pada musim kemarau panjang seperti sekarang, memperoleh separuh dari produksi normal saja dinilai sudah cukup baik.
Di sisi lain, penurunan produksi belum serta-merta diikuti turunnya permintaan. Minat konsumen terhadap kopi masih tinggi, sementara harga di tingkat petani relatif stabil.
Untuk green bean kering, harga yang diterima petani berada di kisaran Rp60.000 hingga Rp70.000 per kilogram, bergantung pada jenis dan kualitas kopi.
Petani Mulai Mencari Alternatif
Terbatasnya hasil kopi membuat sebagian petani mulai mencari sumber pendapatan tambahan. Warga yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai tukang batu masih dapat mengandalkan sektor bangunan.
Sementara petani yang sepenuhnya bergantung pada pertanian mulai mempertimbangkan tanaman yang relatif lebih tahan terhadap kondisi kering, seperti pisang, talas, dan singkong.
Namun, tanaman alternatif tersebut juga menghadapi tantangan berupa serangan hama, terutama tikus.
Muhrodin, yang juga aktif di Gerakan Pemuda Ansor dan mengelola Pelatihan Barista Seklayu Ansor Temanggung, menilai petani membutuhkan strategi jangka panjang agar tidak bergantung pada satu komoditas.
Petani Berharap Ada Solusi Pemerintah
Menghadapi ketidakpastian cuaca, petani berharap pemerintah memberikan solusi konkret, mulai dari pendampingan dan penyuluhan hingga pengelolaan sumber air serta pengembangan diversifikasi tanaman.
Menurut Muhrodin, petani perlu mendapatkan pengetahuan dan dukungan untuk mengembangkan beberapa komoditas sekaligus, bukan hanya mengandalkan kopi, cabai, jagung, atau satu jenis tanaman.
Penanaman pohon dengan sistem tumpang sari, seperti sengon yang dipadukan dengan tanaman pertanian, dinilai dapat menjadi salah satu alternatif investasi jangka panjang.
Pohon tersebut dapat menjadi semacam “celengan” yang dipanen dalam jangka panjang, sementara lahan tetap produktif untuk tanaman lainnya.
Petani juga berharap adanya pemerataan dan subsidi pupuk pertanian. Kenaikan biaya pupuk dinilai semakin menambah beban petani kopi maupun petani tanaman pangan.
Bagi petani Temanggung, persoalan kemarau bukan sekadar berkurangnya hasil panen. Ketika sumber air menyusut, keberlanjutan kebun, pendapatan keluarga, dan ketahanan pangan masyarakat desa ikut dipertaruhkan.
Karena itu, penanganan kekeringan membutuhkan langkah jangka panjang melalui pengelolaan sumber air, diversifikasi komoditas, pendampingan petani, serta penguatan ketahanan pertanian menghadapi perubahan pola cuaca. (sdk)










