Gus Yusuf Kenang Nasirun: “Selamat Jalan Sang Maestro”, Persahabatan Ulama, Seniman, dan Budayawan di Magelang

Gus Yusuf Kenang Nasirun Persahabatan Ulama Seniman dan Sujiwo Tejo dalam Merawat Kebudayaan 1
banner 468x60

BOROBUDURCHANEL.COM – MAGELANG – Kepergian maestro seni rupa Indonesia Nasirun meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni dan kebudayaan nasional. Ucapan belasungkawa pun datang dari berbagai kalangan, salah satunya Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Kabupaten Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf.

Melalui akun Facebook pribadinya, Gus Yusuf menyampaikan pesan singkat namun penuh makna atas wafatnya seniman yang selama ini dikenal konsisten merawat nilai-nilai budaya Nusantara.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Selamat jalan sang maestro Mas Nasirun, sosok yang lembah manah, tiang sae… suwargo langgeng Mas.”

Ungkapan tersebut menjadi bentuk penghormatan Gus Yusuf kepada Nasirun yang dikenalnya sebagai pribadi rendah hati (lembah manah), sosok yang baik (tiang sae), sekaligus doa agar almarhum memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Bagi Gus Yusuf, Nasirun bukan sekadar pelukis ternama. Keduanya pernah dipertemukan dalam sejumlah kegiatan kebudayaan yang memperlihatkan eratnya hubungan antara dunia pesantren, seni, dan budaya.

Dipertemukan dalam Perayaan Persahabatan

Salah satu momen yang paling dikenang terjadi pada 1 Juli 2023 saat pembukaan pameran tunggal Nasirun bertajuk “Perayaan Persahabatan” di OHD Museum, Kota Magelang.

Pameran yang menampilkan puluhan karya tersebut menjadi ruang temu para tokoh lintas profesi dan lintas agama. Hadir dalam kesempatan itu Gus Yusuf, budayawan Sujiwo Tejo, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Butet Kartaredjasa, Inayah Wahid, Oei Hong Djien, Romo Aloys Budi Purnomo, Romo Kirjito, serta sejumlah tokoh nasional lainnya.

Sehari kemudian, mereka kembali bertemu dalam kegiatan budaya di Alun-alun Kota Magelang pada peringatan Hari Bhayangkara. Momen tersebut memperlihatkan bagaimana seni, agama, dan kebudayaan mampu menyatukan berbagai kalangan dalam semangat persaudaraan.

Tiga Tokoh, Satu Semangat Kebudayaan

Meski berasal dari latar belakang yang berbeda, Gus Yusuf, Nasirun, dan Sujiwo Tejo memiliki benang merah yang sama, yakni menjadikan kebudayaan sebagai media membangun kemanusiaan.

Gus Yusuf: Dakwah Melalui Kebudayaan

KH Muhammad Yusuf Chudlori merupakan Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, yang melanjutkan perjuangan almarhum KH Chudlori. Selain dikenal sebagai ulama dan pendidik, Gus Yusuf juga aktif mendorong penguatan budaya lokal sebagai bagian dari dakwah Islam yang ramah, moderat, dan membumi.

Dalam berbagai kesempatan, Gus Yusuf menegaskan bahwa Islam dan kebudayaan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Menurutnya, budaya dapat menjadi sarana memperkuat persaudaraan, memperkokoh kebangsaan, sekaligus menyampaikan nilai-nilai keislaman secara arif.

Nasirun: Maestro yang Mengangkat Spirit Nusantara

Nasirun merupakan salah satu pelukis paling berpengaruh di Indonesia. Lahir di Cilacap dan menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ia dikenal melalui karya-karya yang memadukan simbol budaya Jawa, kaligrafi, spiritualitas, dan ekspresi seni kontemporer.

Karya-karyanya telah dipamerkan di berbagai kota di Indonesia maupun mancanegara. Bagi banyak kalangan, Nasirun bukan hanya seorang pelukis, tetapi juga penjaga memori budaya Nusantara melalui bahasa visual yang khas.

Sujiwo Tejo: Budayawan yang Merawat Nilai Lewat Wayang dan Sastra

Sementara itu, Sujiwo Tejo dikenal sebagai budayawan, dalang, penulis, musisi, pelukis, sekaligus aktor. Melalui pertunjukan wayang, karya sastra, hingga forum-forum kebudayaan, ia konsisten mengangkat nilai-nilai filosofi Jawa, toleransi, kemanusiaan, dan kebangsaan.

Gaya penyampaiannya yang sederhana, kritis, dan penuh humor menjadikan Sujiwo Tejo sebagai salah satu tokoh budaya yang mampu menjembatani berbagai kelompok masyarakat.

Persahabatan Melampaui Perbedaan

Pertemuan Gus Yusuf, Nasirun, dan Sujiwo Tejo di Magelang menjadi gambaran bahwa kebudayaan mampu mempertemukan tokoh dengan latar belakang berbeda dalam satu tujuan yang sama.

Gus Yusuf hadir membawa perspektif pesantren dan dakwah. Nasirun berbicara melalui sapuan kuas dan karya-karya seni rupa. Sementara Sujiwo Tejo menyampaikan pesan melalui wayang, sastra, musik, dan refleksi kebudayaan.

Ketiganya sama-sama percaya bahwa kebudayaan merupakan ruang dialog yang mampu memperkuat persaudaraan dan menjaga harmoni di tengah keberagaman bangsa.

Kini, setelah Nasirun berpulang, kenangan kebersamaan itu kembali mengemuka. Ungkapan duka Gus Yusuf menjadi penanda bahwa hubungan yang terjalin tidak hanya sebatas pertemuan dalam sebuah acara, tetapi juga dilandasi kesamaan visi dalam merawat nilai-nilai budaya sebagai bagian dari identitas Indonesia.

Kepergian Nasirun memang meninggalkan kehilangan bagi dunia seni. Namun, karya-karya dan semangat yang diwariskannya akan terus hidup, sebagaimana cita-cita yang juga diperjuangkan Gus Yusuf dan Sujiwo Tejo: menjaga kebudayaan sebagai jembatan persaudaraan, kemanusiaan, dan peradaban bangsa. (arief)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *