Dalam konteks tersebut, penggunaan nama Garba Mataram juga sebaiknya tidak membuat identitas Purbalingga kehilangan ruangnya sendiri.
PURBALINGGA, BOROBUDURCHANEL– Sebuah kirab budaya mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Musik ditabuh, kesenian dipentaskan, masyarakat berkumpul, lalu panggung dibongkar. Tetapi kebudayaan tidak pernah sesingkat sebuah pertunjukan.
Di balik The Symphony of Purbalingga Heritage yang digelar di wilayah Bukateja, ada pertanyaan yang jauh lebih panjang: apa yang sebenarnya hendak diwariskan kepada generasi berikutnya ketika sebuah masyarakat mulai kehilangan ingatan terhadap akar budayanya?
Pertanyaan itu menjadi relevan ketika nama Nanang Utomo, yang disebut sebagai pemrakarsa kegiatan, ditempatkan sebagai salah satu titik perhatian dalam acara tersebut.
Kegiatan yang membawa semangat pelestarian budaya lokal itu menghadirkan kirab budaya, kesenian tradisional, bazar UMKM dan sarasehan budaya. Secara kasatmata, kegiatan tersebut merupakan perhelatan kebudayaan. Namun, jika dilihat dari lanskap sejarah Purbalingga, acara itu sesungguhnya berlangsung di atas tanah yang menyimpan lapisan sejarah jauh lebih tua.
Bukateja bukan ruang yang kosong dari ingatan masa lalu.
Salah satu jejak pentingnya adalah Prasasti Bukateja, sebuah prasasti pendek pada lempeng emas yang tercatat dalam kajian arkeologi sebagai peninggalan berbahasa Melayu Kuna dan beraksara Kawi. Prasasti itu memuat kalimat pendek ini padehanda hawang payangnan. Kajian arkeologi mencatatnya sebagai salah satu prasasti berbahasa Melayu Kuna yang ditemukan di Pulau Jawa dan diperkirakan berasal dari sekitar abad IX.
Tetapi ada catatan penting. Tempat penemuan awal prasasti tersebut tidak diketahui secara pasti. Prasasti itu diketahui melalui koleksi keluarga Tan Oen Dji di Bukateja. Karena itu, tidak tepat apabila dikatakan prasasti tersebut ditemukan persis di lokasi kegiatan The Symphony of Purbalingga Heritage. Yang dapat dikatakan dengan lebih aman adalah bahwa Bukateja dan kawasan Purbalingga di sekitarnya memiliki jejak arkeologis yang menunjukkan panjangnya sejarah kawasan tersebut.
Jejak itu belum berhenti pada Prasasti Bukateja.
Pemerintah Kabupaten Purbalingga juga mencatat Prasasti Batu Tulis Cipaku, Museum Lokastiti Giribadra, situs purbakala Tipar, punden berundak Bandingan serta berbagai tinggalan lain sebagai bagian dari kekayaan sejarah dan kebudayaan daerah. Prasasti Batu Tulis Cipaku berada di Dusun Pangebonan, Desa Cipaku, Kecamatan Mrebet.
Artinya, ketika orang berbicara tentang heritage Purbalingga, yang sedang dibicarakan bukan sekadar pakaian tradisional, kirab atau pertunjukan kesenian.
Ada lapisan ingatan yang jauh lebih dalam.
Bukan Sekadar Mempertontonkan Masa Lalu
Di sinilah gagasan pelestarian kebudayaan menjadi penting.
Kebudayaan lokal tidak selalu hilang karena dihancurkan. Ia bisa hilang karena tidak lagi dilakukan.
Tradisi yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari perlahan berubah menjadi cerita orang tua kepada anaknya. Selametan yang dahulu menjadi ruang berkumpul warga bisa menyusut menjadi formalitas. Penghormatan kepada leluhur bisa dianggap sebagai sesuatu yang kuno. Pengetahuan mengenai asal-usul desa, makam leluhur, petilasan, sumber mata air, pohon tua atau tempat yang dianggap keramat bisa hilang bersama generasi yang terakhir mengingatnya.
Pada titik itulah pelestarian kebudayaan tidak cukup dilakukan dengan membuat pertunjukan.
Tradisi harus kembali menjadi praktik kehidupan.
Selametan, misalnya, bukan hanya persoalan ritual. Di dalamnya terdapat mekanisme sosial untuk berkumpul, berbagi makanan, mendoakan keluarga, mengingat leluhur dan memperkuat hubungan antarwarga.
Begitu pula penghormatan terhadap leluhur. Ia tidak harus diterjemahkan sebagai pemujaan. Dalam konteks kebudayaan, penghormatan tersebut dapat dibaca sebagai cara masyarakat menjaga hubungan dengan sejarah, mengingat asal-usul dan menyadari bahwa kehidupan hari ini dibangun di atas jejak orang-orang yang hidup sebelumnya.
Dalam kerangka seperti itu, tradisi bukan benda museum.
Ia adalah ingatan yang masih bergerak.
Belajar dari Banokeling
Model pelestarian semacam itu dapat dilihat dari masyarakat adat Banokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Banyumas.
Di sana, tradisi tidak berhenti sebagai agenda pertunjukan kebudayaan. Ia dipelihara melalui praktik sosial, ritual, hubungan antargenerasi dan penghormatan terhadap leluhur.
Masyarakat adat mempertahankan tradisi bukan karena setiap tahun harus membuat festival, tetapi karena tradisi tersebut masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.
Di sinilah Purbalingga sebenarnya mempunyai peluang besar.
Jika Nanang Utomo dan para penggagas The Symphony of Purbalingga Heritage benar-benar hendak menggali kembali kebudayaan lokal yang mulai tergerus modernitas, maka agenda berikutnya seharusnya tidak berhenti pada panggung.
Datanglah ke desa-desa.
Catat tradisi yang masih tersisa.
Temui para sesepuh.
Dokumentasikan cerita asal-usul desa.
Telusuri makam leluhur dan petilasan.
Catat jenis selametan yang dahulu dilakukan masyarakat.
Dokumentasikan permainan anak, tembang, bahasa lokal, tata cara bertani, kesenian, kuliner dan pengetahuan masyarakat mengenai alam.
Kemudian berikan ruang kepada generasi muda untuk mempelajarinya.
Sebab warisan budaya tidak akan selamat hanya karena pernah dipentaskan sekali.
Mataram Jangan Menenggelamkan Purbalingga
Dalam konteks tersebut, penggunaan nama Garba Mataram juga sebaiknya tidak membuat identitas Purbalingga kehilangan ruangnya sendiri.
Purbalingga mempunyai sejarah yang lebih berlapis daripada sekadar hubungan dengan tradisi Mataram.
Ada jejak kebudayaan lama, ada sejarah Banyumasan, ada pengaruh kerajaan-kerajaan Jawa, ada tradisi masyarakat desa, ada kesenian rakyat, dan ada hubungan manusia dengan leluhur serta alam.
Karena itu, kalau Mataram ditempatkan sebagai salah satu bagian dari perjalanan sejarah, ia dapat menjadi pintu masuk untuk memahami masa lalu.
Tetapi apabila Mataram justru menjadi pusat narasi sehingga budaya lokal Purbalingga hanya menjadi dekorasi, maka semangat heritage itu sendiri kehilangan maknanya.
Justru yang menarik adalah mencari titik temu antara berbagai lapisan sejarah tersebut.
Mataram boleh diingat. Tetapi Purbalingga harus tetap bersuara dengan bahasanya sendiri.
Dan bahasa itu antara lain hidup dalam tradisi masyarakat Banyumasan.
Dari Kirab Menuju Gerakan Kebudayaan
Karena itu, The Symphoni of Purbalingga Heritage sebaiknya tidak berhenti sebagai nama sebuah acara.
Jika benar hendak menggali kebudayaan yang mulai tergerus modernitas, kegiatan tersebut dapat dikembangkan menjadi gerakan kebudayaan yang lebih panjang.
Nanang dan para penggagasnya dapat memulai dari hal yang paling sederhana: menghidupkan kembali apa yang masih tersisa.
Tidak perlu selalu menciptakan tradisi baru.
Kadang yang diperlukan justru menemukan kembali tradisi lama yang hampir dilupakan.
Selametan yang masih dilakukan warga bisa didokumentasikan. Cerita leluhur bisa ditulis. Anak-anak muda bisa diajak mengenal sejarah kampungnya. Kesenian yang tinggal menyisakan beberapa pelaku bisa diberi ruang untuk regenerasi. Pengetahuan para sesepuh tidak dibiarkan hilang bersama usia mereka.
Sebab sebuah prasasti hanya meninggalkan beberapa baris tulisan.
Tetapi dari beberapa baris itulah manusia bisa mengetahui bahwa berabad-abad lalu pernah ada kehidupan, keyakinan, tokoh dan masyarakat yang meninggalkan jejak di tempat yang kini kita sebut Purbalingga.
Tantangannya sekarang bukan hanya membaca prasasti. Tantangannya adalah memastikan kebudayaan yang masih hidup hari ini tidak berubah menjadi prasasti bagi generasi yang akan datang.
Jika itu yang hendak dilakukan Nanang melalui The Symphoni of Purbalingga Heritage, maka kirab budaya kemarin seharusnya bukan titik akhir.
Ia semestinya menjadi pembuka pintu.
Pintu menuju ingatan Purbalingga yang lebih tua, lebih dekat dengan masyarakatnya sendiri, dan lebih hidup dalam keseharian.
mbah Roso, penghuni “Ndalem Sundul Langit,” Magelang










