BOROBUDURCHANEL.COM – KULON PROGO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pendidikan yang inklusif, setara, dan bebas diskriminasi bagi seluruh anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK).
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko, saat menjadi pembina upacara bendera di SLB Bhakti Wiyata, Giripeni, Kapanewon Wates, Selasa (28/7/2026).
Menurut Ambar, meskipun pengelolaan Sekolah Luar Biasa (SLB) berada di bawah kewenangan Pemerintah Daerah DIY, Pemkab Kulon Progo tetap memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan perhatian dan dukungan terhadap pendidikan anak berkebutuhan khusus.
“Pemkab Kulon Progo akan tetap selalu peduli dan memberikan pelayanan serta dukungan yang sama,” kata Ambar.
Pemerintah Harus Hadir di Sekolah
Ambar menilai pemerintah tidak cukup hanya membuat kebijakan dari balik meja. Kehadiran langsung ke sekolah dinilai penting agar pemerintah memahami kebutuhan riil di lapangan.
Menurutnya, berbagai persoalan mulai dari keterbatasan sarana dan prasarana hingga kebutuhan tenaga pendidik hanya dapat diketahui apabila pemerintah turun langsung menemui para guru dan siswa.
“Kalau kita tidak hadir dan datang langsung, kita tidak akan pernah tahu permasalahan yang ada,” ujarnya.
SLB Bhakti Wiyata Layani 59 Siswa
SLB Bhakti Wiyata saat ini memiliki 59 siswa yang tersebar pada jenjang SDLB, SMPLB, hingga SMALB.
Sekolah tersebut melayani peserta didik dengan beragam kebutuhan khusus, di antaranya tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, hingga autisme.
Pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun 2026, sekolah menerima 10 siswa baru dari total 14 pendaftar. Pembatasan dilakukan karena keterbatasan tenaga pendidik agar kualitas pendampingan tetap terjaga.
Saat ini sekolah didukung 15 guru, tiga tenaga kependidikan, serta tiga guru kunjung.
Rasio Guru dan Siswa Masih Menjadi Tantangan
Kepala SLB Bhakti Wiyata, Tresnaning Putri, mengatakan kebutuhan tenaga pendidik, khususnya bagi siswa autisme, masih menjadi tantangan besar.
Idealnya, satu siswa autisme didampingi oleh satu guru agar proses pembelajaran berjalan maksimal. Namun keterbatasan sumber daya membuat pola tersebut belum dapat diterapkan sepenuhnya.
“Untuk menangani siswa autis, idealnya satu siswa didampingi satu guru. Namun kondisi di lapangan masih menyesuaikan dengan ketersediaan tenaga pendidik,” jelasnya.
Tetap Berprestasi di Tengah Keterbatasan
Meski menghadapi keterbatasan tenaga pendidik dan fasilitas, para siswa SLB Bhakti Wiyata tetap menunjukkan prestasi membanggakan.
Mereka berhasil meraih penghargaan dalam berbagai ajang, mulai dari tenis meja, atletik, pencak silat, menyanyi, kriya dan keterampilan, hingga Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) serta Lomba Kompetensi Siswa (LKS).
Dalam kesempatan tersebut, pihak sekolah juga menyampaikan sejumlah aspirasi kepada Pemkab Kulon Progo, di antaranya terkait revitalisasi bangunan sekolah dan pemenuhan sarana-prasarana pendidikan.
Pemkab Kulon Progo berkomitmen menindaklanjuti aspirasi tersebut melalui koordinasi bersama Pemerintah Daerah DIY agar kebutuhan sekolah dapat dipenuhi secara bertahap.
Menutup kunjungannya, Ambar menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak, kesempatan berkembang, serta dukungan penuh tanpa diskriminasi. (*)










