Rupiah Dibuka Melemah ke Rp18.060 per Dolar AS, Investor Cermati Sentimen Domestik

Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke Rp18.060 per dolar AS pada perdagangan Selasa 28 7 2026. foto ilustrasi
Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke Rp18.060 per dolar AS pada perdagangan Selasa (28/7/2026). (foto:ilustrasi)
banner 468x60

BOROBUDURCHANEL.COM – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan Selasa (28/7/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah ke level Rp18.060 per dolar Amerika Serikat (AS) atau terdepresiasi sekitar 0,33 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Refinitiv, pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif yang telah berlangsung sejak awal pekan. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah juga ditutup di kisaran Rp18.000 per dolar AS.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Menariknya, pelemahan rupiah kali ini terjadi ketika indeks dolar Amerika Serikat (DXY) justru mengalami penurunan.

Hingga pukul 09.00 WIB, indeks dolar tercatat berada di level 101,483, turun sekitar 0,05 persen.

Sentimen Domestik Lebih Dominan

Secara umum, pelemahan dolar AS biasanya menjadi katalis positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Namun pada perdagangan kali ini, pelaku pasar menilai sentimen domestik lebih kuat memengaruhi pergerakan nilai tukar.

Investor masih mencermati perkembangan kebijakan ekonomi nasional, termasuk arah kebijakan moneter yang akan ditempuh otoritas keuangan dalam beberapa waktu mendatang.

Ketidakpastian tersebut membuat investor memilih bersikap hati-hati sebelum menambah eksposur pada aset berdenominasi rupiah.

Para analis menilai setiap perubahan kebijakan maupun dinamika dalam struktur kepemimpinan ekonomi akan segera direspons pasar, khususnya di pasar valuta asing.

Investor Tunggu Keputusan The Fed

Selain faktor domestik, rupiah juga masih menghadapi tekanan dari sentimen global.

Pelaku pasar kini menunggu keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan memengaruhi arus modal ke negara-negara berkembang.

Jika ekspektasi suku bunga AS tetap tinggi, investor cenderung mempertahankan investasi pada aset berbasis dolar AS sehingga memberi tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Sebaliknya, apabila The Fed mulai memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter, peluang penguatan rupiah dinilai akan semakin terbuka.

Geopolitik Masih Membayangi Pasar

Ketidakpastian geopolitik global dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia juga masih menjadi perhatian investor dalam mengambil keputusan investasi.

Sejumlah pengamat memperkirakan pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan bergerak fluktuatif sambil menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi, baik dari pemerintah Indonesia maupun bank sentral Amerika Serikat.

Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat untuk menopang stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah.

Pelaku pasar kini menanti perkembangan terbaru dari dalam maupun luar negeri yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya. (*)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *