BOROBUDURCHANEL.COM – MAGELANG – Pemerintah Kabupaten Magelang menyiapkan lahan seluas sekitar 7.470 meter persegi di Desa Ketep, Kecamatan Sawangan, untuk pembangunan SMA negeri. Sekolah baru ini ditargetkan mulai dibangun pada 2027 guna memperluas akses pendidikan bagi anak-anak di kawasan lereng Gunung Merapi.
Lahan tersebut merupakan aset Pemerintah Kabupaten Magelang. Sebelum disiapkan untuk sekolah, lahan itu digunakan sebagai lokasi transaksi hasil pertanian antara petani dan tengkulak.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Wisnu Argo Budiono, mengatakan rencana pembangunan SMA negeri tersebut telah mendapat dasar kerja sama antara Pemkab Magelang dan Dinas Pendidikan Jawa Tengah.
“Sudah ada kerja sama dengan Dinas Pendidikan Jawa Tengah. Akan dibangun, dianggarkan tahun 2027,” kata Wisnu, Selasa (1/9/2026).
Menurut Wisnu, lokasi yang selama ini disebut sebagai pasar sayur tersebut sebenarnya bukan pasar dengan bangunan permanen. Aktivitas jual beli hasil pertanian berlangsung pada pagi hari menggunakan bangunan sederhana yang sebagian berbahan bambu dan seng.
Nantinya, pembangunan SMA menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan.
Dibangun Bertahap hingga 2029
Kepala Subbagian Program Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Rahma Huda Putranto, mengatakan pembangunan sekolah direncanakan berlangsung secara bertahap.
Pembangunan ditargetkan selesai pada 2029. Pada tahap awal, fasilitas yang dibangun meliputi ruang guru, mushala, serta tiga ruang kelas untuk siswa kelas X.
Setiap ruang kelas diproyeksikan mampu menampung sekitar 36 siswa.
“Kami sudah menempuh studi kelayakan. Saat ini tanahnya sudah datar,” ujar Huda.
Meski pembangunan sudah direncanakan, jurusan yang akan dibuka di SMA negeri tersebut belum ditentukan. Pilihan program pendidikan itu juga belum tercantum dalam perjanjian kerja sama antara Pemkab Magelang dan Pemprov Jawa Tengah.
Huda berharap keberadaan sekolah baru nantinya tidak hanya berorientasi pada capaian akademik. Sekolah tersebut juga diharapkan menjadi ruang pendidikan yang mampu membentuk karakter dan kemampuan sosial peserta didik.
Sawangan Masih Kekurangan Sekolah Menengah
Rencana pembangunan SMA negeri di Sawangan berkaitan erat dengan persoalan akses pendidikan di wilayah tersebut.
Saat ini, Kecamatan Sawangan hanya memiliki dua sekolah menengah atas atau sederajat, yakni SMA Ma’arif Sawangan dan SMK Muhammadiyah Sawangan.
Keterbatasan pilihan sekolah membuat sebagian pelajar dari Sawangan harus melanjutkan pendidikan ke kecamatan lain. Mereka antara lain bersekolah di wilayah Dukun, Ngablak, Mungkid, hingga Kabupaten Boyolali.
Jarak tersebut menjadi salah satu persoalan yang dapat memengaruhi keberlanjutan pendidikan anak. Tidak semua keluarga memiliki kemampuan yang sama untuk menanggung biaya dan kebutuhan perjalanan sekolah setiap hari.
Karena itu, kehadiran SMA negeri di Sawangan diharapkan dapat memangkas jarak sekaligus membuka pilihan pendidikan yang lebih mudah dijangkau masyarakat.
Masuk Penanganan Blank Spot Pendidikan
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Sadimin, mengatakan penganggaran pembangunan SMA di Sawangan diharapkan dapat direalisasikan pada 2027.
Pemprov Jawa Tengah juga mendorong agar sekolah negeri baru nantinya tetap dapat berjalan berdampingan dengan sekolah swasta yang telah lebih dahulu melayani masyarakat.
“Kalau sudah disediakan tanah oleh pemerintah kabupaten/kota, kami membangun sekolahnya dan menyediakan tenaga gurunya,” kata Pelaksana Tugas Sekretaris Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Sunarto.
Pembangunan SMA negeri di Sawangan menjadi bagian dari upaya Pemprov Jawa Tengah menangani wilayah yang masih masuk kategori **blank spot pendidikan**, yaitu kawasan yang belum memiliki SMA atau SMK negeri.
Data Dinas Pendidikan Jawa Tengah mencatat sedikitnya 23 kecamatan di 10 kabupaten masih masuk kategori tersebut.
Dengan dukungan lahan dari pemerintah daerah, pembangunan SMA negeri di Sawangan diharapkan tidak berhenti pada penambahan fasilitas pendidikan.
Lebih jauh, sekolah baru tersebut diharapkan menjadi jawaban atas persoalan jarak dan keterbatasan akses pendidikan bagi anak-anak Sawangan, sehingga mereka tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan pendidikan tingkat menengah.(*)











