Monumen Paku Bumi Magelang Ditargetkan Rampung Desember, Apa Manfaatnya bagi Warga

1001197301
banner 468x60

Wali Kota Magelang Damar Prasetyono, sebagaimana diberitakan Magelang Ekspres pada 17 September 2026, menyebut pembangunan tersebut merupakan sumbangan pengusaha sebagai bentuk partisipasi dalam pembangunan kota.

MAGELANG, BOROBUDURCHANEL – Pembangunan Monumen Paku Bumi di Simpang Bayeman, Kota Magelang, Jawa Tengah, masih berlangsung dan ditargetkan rampung sebelum akhir 2026. Pemerintah Kota Magelang berharap monumen tersebut menjadi ikon baru yang memperkuat identitas kota sekaligus meningkatkan daya tarik kawasan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Namun, manfaat pembangunan bagi masyarakat, terutama terhadap aktivitas ekonomi dan penataan lalu lintas, masih perlu dilihat setelah proyek selesai.

Berdasarkan laporan Magelang Ekspres, progres pembangunan hingga Kamis (8/10/2026) mencapai sekitar 15 persen. Pelaksana pembangunan, Suko Wicaksono, memperkirakan progres meningkat menjadi 20 persen pada Sabtu (10/10/2026), apabila pekerjaan berjalan sesuai rencana.

Suko mengatakan, kondisi lalu lintas di sekitar lokasi relatif aman. Kepadatan kendaraan terkadang terjadi pada jam-jam tertentu, terutama karena aktivitas di persimpangan yang dilengkapi lampu pengatur lalu lintas.

Pada tahap awal pengerjaan, pelaksana juga menghadapi kendala berupa keberadaan pipa air milik perusahaan daerah air minum dan kabel telekomunikasi. Persoalan tersebut, menurut Suko, telah ditangani melalui koordinasi dengan pihak terkait.

Pemkot: Bukan dari APBD

Pemerintah Kota Magelang menyatakan pembangunan Monumen Paku Bumi tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Wali Kota Magelang Damar Prasetyono, sebagaimana diberitakan Magelang Ekspres pada 17 September 2026, menyebut pembangunan tersebut merupakan sumbangan pengusaha sebagai bentuk partisipasi dalam pembangunan kota.

Pembangunan monumen diprakarsai pengusaha lokal Slamet Santoso bersama keluarganya. Peletakan batu pertama dilakukan Damar bersama Slamet di Simpang Bayeman pada 17 September 2026.

Dalam keterangan resmi Pemerintah Kota Magelang yang dipublikasikan pada 18 September 2026, monumen tersebut dirancang memiliki tinggi sekitar 15 meter dan diameter 8,5 meter.

Lokasi Simpang Bayeman dipilih karena berada dekat dengan Gunung Tidar dan merupakan salah satu persimpangan besar di Kota Magelang.

Pemkot juga melakukan penataan kawasan di sekitar lokasi, termasuk pembongkaran pot tanaman jalan, pelebaran akses jalan, perluasan trotoar, serta penambahan jalur khusus sepeda.

Penataan tersebut mencakup kawasan sepanjang sekitar 300 meter, mulai dari depan pertokoan Mie Gacoan hingga persimpangan.

Damar berharap keberadaan monumen dapat memperkuat identitas Kota Magelang. Gagasan pembangunan ini juga berkaitan dengan filosofi Gunung Tidar yang dikenal dalam tradisi setempat sebagai Pakuning Tanah Jawa.

Meski demikian, hingga informasi yang ditelusuri dalam pemberitaan tersebut, nilai keseluruhan pembangunan dan besaran kontribusi pihak penyumbang belum disebutkan secara terperinci.

Warga Berharap Kawasan Lebih Tertib

Tanggapan warga mengenai pembangunan monumen turut diberitakan Jarrakpos.com.

Supri (57), warga Gang Kantil, menyambut baik pembangunan tersebut. Ia menilai keberadaan monumen berpotensi menjadi ikon baru Kota Magelang dan berharap kawasan Simpang Bayeman semakin tertib.

Menurut Supri, selama tahap pengerjaan, dampak langsung terhadap aktivitas warga belum terlalu terasa. Kondisi lalu lintas di sekitar lokasi juga relatif lancar.

Ia berharap keberadaan monumen dapat meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar dan membuat kawasan tersebut semakin ramai.

Supri juga menyoroti perilaku sebagian pengendara sepeda motor yang menerobos ke arah kanan meskipun terdapat larangan. Ia berharap penataan simpang, termasuk keberadaan monumen, dapat membantu membuat arus kendaraan lebih teratur.

Pandangan tersebut merupakan tanggapan seorang warga yang dikutip media, bukan gambaran keseluruhan pendapat masyarakat Kota Magelang.

Sejauh ini, belum tersedia data yang cukup untuk menyimpulkan bagaimana tanggapan warga secara luas terhadap pembangunan monumen tersebut.

Manfaat Ekonomi Masih Perlu Dibuktikan

Monumen Paku Bumi tidak hanya dapat dinilai dari bentuk fisik dan nilai simboliknya. Manfaat pembangunan bagi masyarakat juga menjadi aspek penting untuk diperhatikan.

Apabila kawasan tersebut mampu menarik pengunjung, keberadaan monumen berpotensi membuka peluang bagi usaha kuliner, perdagangan, dan kegiatan ekonomi lainnya.

Namun, potensi tersebut belum dapat dianggap sebagai dampak ekonomi yang sudah terbukti. Diperlukan data setelah pembangunan selesai untuk melihat apakah terjadi peningkatan kunjungan, perubahan omzet pedagang, atau pertumbuhan aktivitas usaha di sekitarnya.

Aspek keselamatan lalu lintas juga perlu menjadi perhatian. Simpang Bayeman merupakan kawasan dengan aktivitas kendaraan yang perlu dipertimbangkan dalam penataan ruang.

Pelebaran jalan, perluasan trotoar, dan penambahan jalur sepeda yang disampaikan Pemkot perlu dinilai berdasarkan manfaat nyatanya bagi pengendara, pejalan kaki, dan pesepeda.

Dengan demikian, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari penyelesaian fisik sesuai jadwal. Kemudahan akses, keselamatan pengguna jalan, kenyamanan warga, serta dampak ekonomi yang terukur juga perlu menjadi indikator.

Transparansi dan Pemeliharaan Perlu Diperjelas

Pernyataan bahwa pembangunan tidak menggunakan APBD menjadi informasi penting. Namun, sumber pendanaan bukan satu-satunya aspek yang perlu diketahui masyarakat.

Nilai keseluruhan pembangunan, bentuk kontribusi pihak penyumbang, status penggunaan lahan, persetujuan teknis, serta pihak yang bertanggung jawab atas pemeliharaan monumen merupakan informasi yang relevan untuk memperjelas pelaksanaan proyek.

Informasi tersebut tidak dimaksudkan untuk menyiratkan adanya pelanggaran. Transparansi justru diperlukan agar masyarakat memahami bagaimana pembangunan di ruang perkotaan dilaksanakan dan bagaimana aset tersebut akan dikelola setelah selesai.

Pemerintah Kota Magelang juga perlu menjelaskan apakah pemeliharaan monumen nantinya menjadi tanggung jawab penyumbang, pengelola tertentu, atau pemerintah daerah.

Hal ini penting karena bangunan yang berdiri di ruang publik memerlukan perawatan berkala agar tetap aman, terawat, dan tidak menimbulkan beban pengelolaan yang tidak diperhitungkan.

Pada akhirnya, Monumen Paku Bumi diharapkan tidak berhenti sebagai penanda visual baru Kota Magelang. Keberadaannya perlu memberi manfaat yang dapat dirasakan masyarakat, baik melalui penataan kawasan yang lebih baik, keselamatan lalu lintas, maupun tumbuhnya aktivitas ekonomi lokal.

Manfaat tersebut baru dapat dinilai secara lebih utuh setelah pembangunan selesai dan dampaknya terhadap kawasan sekitar dapat diamati. (rist)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *