BOROBUDUR DAN PEWARISAN NILAI: MENGHIDUPKAN KEMBALI RUANG BELAJAR KEBUDAYAAN

BOROBUDUR DAN PEWARISAN NILAI MENGHIDUPKAN KEMBALI RUANG BELAJAR KEBUDAYAAN. foto istimewa
BOROBUDUR DAN PEWARISAN NILAI_ MENGHIDUPKAN KEMBALI RUANG BELAJAR KEBUDAYAAN. (foto_istimewa)
banner 468x60

BOROBUDUR – Semangat menghidupkan Borobudur sebagai Living Monument atau monumen yang hidup kembali digaungkan melalui penyelenggaraan Jamasan Pitutur dan Sarasehan Budaya Inspirasi Borobudur Sekolah Kehidupan yang akan digelar di Sanggar Manunggal Tegalarum, Borobudur, pada Rabu, 5 Agustus 2026 pukul 13.00 WIB.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pewarisan nilai-nilai luhur Borobudur kepada generasi muda, sejalan dengan gagasan yang terus didorong Kementerian Kebudayaan agar Borobudur tidak hanya dilestarikan sebagai bangunan cagar budaya, tetapi juga sebagai ruang kebudayaan yang hidup dan terus menginspirasi masyarakat.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Borobudur Bukan Hanya Candi

Borobudur merupakan mahakarya peradaban yang menyimpan keagungan arsitektur, sejarah, sekaligus berbagai ajaran dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.

Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada pelestarian fisik Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia. Padahal, nilai-nilai kebijaksanaan, harmoni, gotong royong, penghormatan kepada leluhur, hubungan manusia dengan alam, hingga pengetahuan lokal yang berkembang di masyarakat merupakan bagian penting dari ekosistem budaya Borobudur.

Konsep Living Monument menempatkan Borobudur bukan sekadar objek wisata atau benda cagar budaya, melainkan ruang belajar kebudayaan yang terus memberi makna bagi kehidupan masyarakat.

Menjawab Tantangan Pewarisan Budaya

Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, proses pewarisan nilai budaya menghadapi tantangan yang tidak ringan. Tradisi lisan, pitutur para sesepuh, dan pengetahuan lokal yang dahulu menjadi pedoman hidup masyarakat kini mulai jarang menjadi ruang pembelajaran bersama.

Generasi muda memiliki akses informasi yang semakin luas, namun di sisi lain berpotensi semakin jauh dari akar kebudayaannya.

Berangkat dari kondisi tersebut, para pelaku budaya Borobudur menggagas kembali Jamasan Pitutur sebagai ruang belajar budaya yang menghubungkan generasi tua dan generasi muda.

Jamasan Pitutur, Merawat Nilai Leluhur

Tokoh budaya seperti Wahyoko, Ki Suryodipo (Pak Dipo), dan Ki Reno, bersama para pegiat seni dan budaya, berinisiatif menghidupkan kembali tradisi tersebut sebagai media pewarisan nilai.

Jamasan Pitutur tidak dimaknai sekadar membersihkan pusaka secara fisik, tetapi juga sebagai ikhtiar membersihkan dan menyegarkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap nilai-nilai luhur para leluhur.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak merawat pitutur kehidupan, memperkuat identitas budaya, sekaligus membangun kesadaran bahwa pelestarian Borobudur juga harus dilakukan melalui pewarisan nilai.

Sarasehan Budaya Jadi Ruang Dialog

Dalam rangkaian kegiatan akan digelar Sarasehan Budaya Inspirasi Borobudur Sekolah Kehidupan bertema:

“Borobudur dan Pewarisan Nilai: Menghidupkan Kembali Ruang Belajar Kebudayaan.”

Forum ini akan mempertemukan peneliti, pegiat budaya, pengelola kebudayaan, tokoh masyarakat, seniman, hingga generasi muda untuk bersama-sama merumuskan strategi memperkuat proses pewarisan nilai Borobudur secara berkelanjutan.

Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Novita Siswayanti, yang menilai ruang-ruang belajar kebudayaan masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan nilai Borobudur.

Selain itu, narasumber dari Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan serta BRIN dijadwalkan hadir untuk memperkaya perspektif mengenai hubungan pelestarian warisan budaya dengan pembangunan masyarakat.

Menjaga Borobudur Tetap Hidup

Melalui semangat Jamasan Pitutur, penyelenggara berharap Borobudur tidak hanya lestari secara fisik sebagai warisan dunia, tetapi juga tetap hidup dalam ingatan, pengetahuan, tradisi, dan praktik budaya masyarakat.

Dengan demikian, Borobudur akan terus menjadi sumber inspirasi, ruang belajar kebudayaan, sekaligus warisan peradaban yang relevan bagi generasi masa kini maupun masa depan. (Edisi Ruwat Rawat Borobudur bag 2, Sucoro)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *