BOROBUDURCHANEL.COM – KULON PROGO — Keterbatasan infrastruktur tak menyurutkan upaya warga Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, untuk membuka akses menuju Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta.
Warga menginisiasi pembangunan jembatan apung yang menghubungkan wilayah Kulon Progo dengan Bantul. Jembatan yang melintas di atas Sungai Progo tersebut dibuat secara swadaya dengan memanfaatkan material sederhana, termasuk tong bekas sebagai pelampung.
Jembatan itu diinisiasi oleh tiga pengusaha asal Kalurahan Ngentakrejo. Meski menggunakan konstruksi sederhana, jembatan diklaim mampu dilalui kendaraan roda empat dengan beban hingga satu ton.
Dibangun karena Pengusaha Tahu Harus Memutar
Inisiator Jembatan Apung Kulon Progo-Bantul, Sukidi Tresno Utomo, mengatakan ide pembangunan jembatan berawal dari keresahan para pengusaha tahu di Kapanewon Lendah.
Puluhan pengusaha tahu di wilayah tersebut selama bertahun-tahun menghadapi kendala akses saat membawa hasil produksi menuju pasar di Bantul dan Kota Yogyakarta.
Mereka harus memutar sekitar 5 hingga 10 kilometer untuk mencapai jembatan terdekat.
“Kami setiap tahun mendengar keluhan dari teman-teman pengusaha tahu. Mereka kesulitan membawa hasil produksi karena harus memutar cukup jauh. Akhirnya saya dan dua teman saya yang merupakan pengusaha tahu menginisiasi jembatan,” ujar Sukidi.
Secara geografis, jarak antara wilayah tengah Kapanewon Lendah dengan sisi seberang Sungai Progo sebenarnya relatif lebih dekat. Namun, keterbatasan akses membuat masyarakat harus menempuh jalur yang lebih jauh.
Dirancang Secara Swadaya
Sukidi yang juga menjalankan usaha penyewaan tenda kemudian mulai merancang konsep jembatan.
Berbekal pengalaman puluhan tahun, ia membuat desain praktis yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Desain tersebut kemudian diterjemahkan oleh tukang las untuk diwujudkan menjadi konstruksi jembatan.
Pengalaman merancang konstruksi jembatan salah satunya diperoleh Sukidi saat terlibat dalam pembangunan Jembatan Sesek Temben.
Dari pengalaman tersebut, ia menerapkan konsep konstruksi sederhana yang bisa dikerjakan secara swadaya dengan tetap memperhatikan kekuatan dan keselamatan.
Tong Bekas Jadi Pelampung
Keunikan jembatan berada pada material penopangnya. Sukidi memanfaatkan tong bekas sebagai pelampung yang membuat badan jembatan dapat mengapung di permukaan Sungai Progo.
Tong berbahan plastik dan besi tersebut diisi udara bertekanan, kemudian disusun dan disambungkan menggunakan kanal baja.
Dalam satu rangkaian terdapat lima tong yang berfungsi sebagai pelampung. Sejumlah rangkaian kemudian disatukan dengan besi tambahan hingga membentuk badan jembatan.
Agar konstruksi tidak terbawa arus ketika debit Sungai Progo meningkat, jembatan juga diperkuat menggunakan tali besi sebagai tambatan.
Sistem tersebut memungkinkan posisi jembatan tetap terjaga meski terjadi perubahan permukaan air sungai.
Pangkas Jarak Tempuh Warga
Keberadaan jembatan apung menjadi alternatif akses bagi masyarakat sekitar, khususnya para pelaku usaha yang setiap hari membawa hasil produksi menuju Bantul dan Kota Yogyakarta.
Jembatan tersebut diharapkan dapat memangkas jarak tempuh sekaligus mempermudah mobilitas warga dan distribusi hasil produksi.
Di tengah keterbatasan infrastruktur, warga memilih mencari solusi dengan memanfaatkan kemampuan dan sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka.
Jembatan apung berbahan tong bekas itu pun menjadi contoh inisiatif masyarakat dalam membuka akses antarwilayah yang selama ini terkendala jarak dan infrastruktur. (Gk)










