BOROBUDURCHANEL.COM – YOGYAKARTA — Pembangunan Tol Solo–Yogyakarta–YIA Kulon Progo dan Tol Yogyakarta–Bawen terus menunjukkan perkembangan. Namun, konektivitas jalan tol dengan jaringan jalan daerah masih menjadi pekerjaan rumah.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X menekankan pentingnya memastikan akses keluar-masuk tol terhubung dengan jaringan jalan provinsi maupun kabupaten.
Menurut Sultan, keberadaan jalan tol tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila akses menuju kawasan tujuan, termasuk destinasi wisata, belum didukung infrastruktur jalan yang memadai.
Akses Wisata Gunungkidul Jadi Perhatian
Salah satu akses yang menjadi perhatian adalah jalur menuju kawasan wisata Gunungkidul dan Nglanggeran melalui Bokoharjo.
Jalur tersebut menjadi salah satu akses penting menuju sejumlah destinasi wisata, termasuk kawasan Candi Ijo. Namun, kondisi jalan kabupaten dinilai belum cukup untuk menampung kendaraan pariwisata berukuran besar.
Sultan mengatakan peningkatan status dan kapasitas jalan juga menghadapi kendala akibat pemangkasan anggaran serta belum cairnya sejumlah dana dari APBN.
Persoalan juga terjadi pada jalan penghubung menuju pintu tol. Dari kebutuhan pembangunan jalan sepanjang sekitar 3 kilometer, baru 1,9 kilometer yang telah dikerjakan.
Masih terdapat sekitar 1,1 kilometer yang belum mendapatkan pembiayaan.
“Kalau tidak masuk tolnya kan percuma. Akhirnya nanti lewat Piyungan lagi, makin crowded,” tegas Sultan.
Menurut Sultan, konektivitas tersebut harus dipersiapkan secara menyeluruh agar keberadaan tol tidak hanya mempercepat perjalanan, tetapi juga memberikan dampak terhadap sektor pariwisata di wilayah selatan DIY.
Tol Jogja-Solo Capai 98 Persen
Sementara itu, Direktur Utama PT Jasa Marga Rivan Achmad Purwantono menyampaikan progres konstruksi Tol Jogja–Solo, khususnya ruas Prambanan–Purwomartani, telah mencapai sekitar 98 persen.
Untuk mengantisipasi potensi kepadatan kendaraan di kawasan Adisucipto, Jasa Marga juga mengerjakan jalan layang sepanjang sekitar 2 kilometer yang menghubungkan Purwomartani hingga Bokoharjo.
Rivan menjelaskan jalan layang tersebut dirancang bukan sekadar sebagai akses keluar tol, tetapi sebagai bagian dari konektivitas yang mengurai arus kendaraan dari dan menuju kawasan selatan Yogyakarta.
“Ini bukan sekadar exit tol biasa, melainkan ekstensi yang langsung mengurai arus dari dan menuju kawasan selatan Yogyakarta,” jelas Rivan.
Strategi Pembangunan Tol Jogja-Bawen Diubah
Selain Tol Jogja–Solo, pembangunan Tol Yogyakarta–Bawen juga terus dikebut.
Ruas Jombor–Trihanggo hingga Seksi 1 Banyurejo ditargetkan dapat diselesaikan tahun ini. Dalam pelaksanaannya, terdapat perubahan strategi pembangunan rute berdasarkan arahan Sultan.
Pengerjaan kini diarahkan untuk mempercepat konektivitas dari Maguwoharjo menuju Jombor. Sementara persiapan pembangunan di sekitar kawasan Ring Road ditargetkan dimulai pada 2027.
Peningkatan volume kendaraan menjadi salah satu pertimbangan dalam percepatan pembangunan akses tersebut.
Volume kendaraan diperkirakan mencapai sekitar 12.000 unit tahun ini dan meningkat menjadi sekitar 20.000 unit pada tahun depan.
Karena itu, Jasa Marga menargetkan akses vital tersebut dapat difungsikan pada momentum Lebaran 2027.
“Mudah-mudahan bisa digunakan fungsional untuk Lebaran 2027, mengantisipasi Lebaran 2028,” ujar Rivan.
Konektivitas antara jalan tol, jalan provinsi, jalan kabupaten, dan akses menuju kawasan wisata dinilai menjadi kunci agar pembangunan infrastruktur transportasi di DIY memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan perekonomian daerah. (Gk)










