BOROBUDURCHANEL.COM – MAGELANG – Program Blonjo Warung Tonggo yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Magelang mulai menunjukkan dampak positif terhadap perputaran ekonomi masyarakat. Dalam waktu sekitar dua bulan pelaksanaan di tiga desa percontohan, program tersebut berhasil mencatat 5.483 transaksi dengan nilai mencapai Rp203.706.948.
Namun, di tengah capaian tersebut, Bupati Magelang Grengseng Pamuji memilih belum memperluas program ke seluruh wilayah. Ia menegaskan bahwa penyempurnaan mekanisme pelaksanaan dan standar operasional prosedur (SOP) menjadi prioritas sebelum program direplikasi ke desa-desa lain.
Pernyataan itu disampaikan Grengseng saat memimpin rapat evaluasi Program Blonjo Warung Tonggo di Ruang Cemerlang, Setda Kabupaten Magelang, Kamis (6/8/2026).
“Saya memang meminta jangan diperluas dulu. Pastikan tiga desa percontohan ini SOP-nya benar-benar berjalan. Semua kendala kita rumuskan, semua solusi kita siapkan. Kalau sudah terbukti berhasil, baru kita duplikasi ke wilayah lain,” tegas Grengseng.
Saat ini, Blonjo Warung Tonggo diterapkan di Kelurahan Sawitan, Desa Mendut, dan Desa Deyangan sebagai proyek percontohan. Menurutnya, ketiga wilayah tersebut harus menjadi model implementasi yang matang sebelum diterapkan di seluruh Kabupaten Magelang.
Data Jadi Dasar Pengambilan Keputusan
Dalam evaluasi tersebut, Grengseng mengapresiasi penyusunan laporan yang berbasis data dan capaian terukur. Ia menilai keberhasilan sebuah program tidak cukup dinilai dari narasi, tetapi harus dibuktikan melalui angka yang jelas.
Berdasarkan laporan yang dipaparkan, transaksi program terus mengalami peningkatan. Pada tahap awal nilai transaksi berada di kisaran Rp18 juta, kemudian meningkat menjadi sekitar Rp73 juta, hingga akhirnya mencapai akumulasi Rp203,7 juta dalam dua bulan 10 hari pelaksanaan.
“Ini menurut saya luar biasa. Mengabaikan semua kendala yang masih ada, angkanya sudah menunjukkan hasil. Ini baru melibatkan sekitar 1.400 ASN. Artinya, potensinya masih sangat besar,” ujarnya.
Potensi Perputaran Ekonomi Masih Sangat Besar
Grengseng menilai peluang pengembangan program masih terbuka lebar apabila seluruh aparatur sipil negara (ASN) secara konsisten mengalihkan sebagian belanja rutinnya ke warung di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Menurut perhitungannya, apabila setiap ASN membelanjakan sekitar Rp80 ribu setiap bulan di warung sekitar rumah, maka akan tercipta perputaran uang hingga ratusan juta rupiah yang langsung dinikmati pelaku usaha kecil.
“Kalau ini bisa dioptimalkan, perputaran uangnya bisa berkali-kali lipat. Dampaknya langsung dirasakan pelaku usaha kecil di desa,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Blonjo Warung Tonggo bukan sekadar program belanja ASN, melainkan strategi menggerakkan ekonomi lokal melalui perubahan pola konsumsi aparatur pemerintah. Program tersebut juga diharapkan membangun citra ASN sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
Evaluasi Sebelum Diterapkan di 21 Kecamatan
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Magelang, Edi Wasono, menjelaskan bahwa Program Blonjo Warung Tonggo resmi diluncurkan pada 20 Mei 2026 dan hingga kini masih difokuskan di tiga desa percontohan.
Menurut Edi, evaluasi dilakukan atas arahan Bupati Magelang sebelum program diperluas ke 21 kecamatan.
“Tujuan evaluasi ini untuk memastikan pelaksanaan di tiga desa benar-benar siap. Kalau semua sudah baik, baru program diperluas sehingga implementasinya lebih efektif,” jelasnya.
Selama dua bulan 10 hari pelaksanaan efektif, sistem mencatat 5.483 transaksi dengan total nilai lebih dari Rp203,7 juta. Capaian tersebut dinilai menjadi sinyal positif bahwa ASN maupun masyarakat mulai memberikan respons terhadap gerakan tersebut.
Edi optimistis, setelah seluruh mekanisme dan SOP disempurnakan, Blonjo Warung Tonggo dapat berkembang menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan warung tradisional dan UMKM di seluruh Kabupaten Magelang.***










