BOROBUDURCHANEL – MAGELANG – Gagasan tentang kemandirian ekonomi Nahdlatul Ulama (NU) yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren API Asri Tegalrejo, Magelang, KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) terus menjadi perbincangan di kalangan warga Nahdliyin. Di tengah beragam tanggapan yang muncul, pesan utama yang ingin disampaikan dinilai perlu dipahami secara utuh dan tidak disederhanakan hanya pada ilustrasi mengenai sarung.
Bagi Gus Yusuf, contoh sarung yang pernah disampaikan bukanlah ajakan agar NU berubah menjadi organisasi dagang atau produsen berbagai produk. Sarung hanya digunakan sebagai ilustrasi sederhana untuk menjelaskan pentingnya membangun kemandirian ekonomi umat melalui ekosistem yang saling menguatkan.
Sarung Hanya Ilustrasi, Bukan Tujuan
Menurut Gus Yusuf, substansi yang ingin dibangun bukanlah aktivitas jual beli sarung, melainkan kesadaran bahwa organisasi sebesar NU memiliki potensi ekonomi yang luar biasa jika mampu dikelola secara bersama.
Dengan jutaan warga Nahdliyin, ribuan pesantren, koperasi, pelaku UMKM, hingga jaringan pengusaha yang tersebar di seluruh Indonesia, NU memiliki modal sosial yang sangat besar untuk memperkuat kesejahteraan umat.
Karena itu, perdebatan mengenai “NU jualan sarung” dinilai justru mengaburkan gagasan yang lebih besar, yakni bagaimana membangun kemandirian ekonomi warga Nahdliyin secara berkelanjutan.
Membangun Ekosistem, Bukan Mengambil Alih Usaha Jamaah
Gus Yusuf menegaskan bahwa NU tetap merupakan jam’iyah diniyah ijtima’iyah, bukan perusahaan ataupun holding company.
Peran utama organisasi adalah melayani, membimbing, dan memberdayakan umat.
Namun, sebagai organisasi besar, NU juga memiliki tanggung jawab untuk memikirkan masa depan ekonomi warganya.
Karena itu, NU tidak harus menjadi produsen semua produk ataupun masuk ke seluruh sektor usaha.
Sebaliknya, NU dapat mengambil peran sebagai penghubung antar pelaku usaha Nahdliyin, membangun jaringan distribusi, membuka akses pasar, memperkuat kualitas produk, menyediakan sertifikasi, hingga meningkatkan daya saing usaha warga.
Model seperti itu justru akan memperkuat pelaku usaha yang sudah ada, bukan menjadi pesaing mereka.
Menghubungkan Potensi Menjadi Kekuatan Bersama
Dalam pandangan Gus Yusuf, tantangan terbesar bukan terletak pada minimnya potensi ekonomi warga NU, melainkan bagaimana potensi tersebut dikonsolidasikan menjadi kekuatan bersama.
Selama ini, jutaan warga Nahdliyin bergerak di berbagai sektor usaha secara mandiri. Bila seluruh potensi tersebut dapat dipertemukan dalam satu ekosistem yang saling mendukung, nilai ekonomi yang dihasilkan diyakini akan jauh lebih besar.
Konsep itu dapat diwujudkan melalui penguatan koperasi, digitalisasi pemasaran, peningkatan kualitas produk UMKM, pengembangan jaringan distribusi antarpesantren, hingga kemitraan dengan sektor industri dan lembaga keuangan syariah.
Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan oleh individu pelaku usaha, tetapi juga menguatkan kemandirian organisasi dan kesejahteraan masyarakat.
Kritik Tetap Menjadi Pengingat
Gus Yusuf juga berpandangan bahwa pelaksanaan konsep kemandirian ekonomi harus dirancang secara hati-hati.
Apabila organisasi justru mengambil alih ruang usaha warga dan menjadikan jamaah hanya sebagai pasar, kritik tentu menjadi sesuatu yang wajar.
Namun apabila NU hadir sebagai fasilitator yang mempertemukan pelaku usaha, membuka peluang pasar, meningkatkan standar mutu, memperkuat sertifikasi produk, serta memperluas akses pembiayaan, maka organisasi justru sedang menjalankan fungsi pemberdayaan umat.
Model inilah yang dinilai sejalan dengan semangat khidmah NU sejak awal berdirinya.
Menuju NU yang Mandiri dan Berdaya
Gus Yusuf menegaskan bahwa NU tidak dibesarkan oleh produk yang dijual, melainkan oleh jutaan warga yang selama puluhan tahun berkhidmah melalui dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, dan pengabdian kepada masyarakat.
Namun, jutaan warga yang berkhidmah itu juga memiliki kekuatan ekonomi yang sangat besar.
“Tugas organisasi bukan mengambil alih potensi ekonomi warga, tetapi menghubungkan, memperkuat, dan memberdayakannya agar manfaatnya kembali kepada jamaah,” demikian esensi gagasan yang terus disampaikan Gus Yusuf.
Karena itu, perdebatan mengenai sarung sesungguhnya bukanlah perdebatan tentang selembar kain. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana NU membangun sistem ekonomi yang mampu memperkuat jamaah tanpa kehilangan jati dirinya sebagai khadimul ummah atau pelayan umat.
Dengan membangun ekosistem usaha yang sehat, memperkuat jaringan ekonomi warga Nahdliyin, dan meningkatkan daya saing pelaku UMKM, gagasan kemandirian ekonomi NU diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi gerakan nyata yang membawa manfaat bagi umat, bangsa, dan Indonesia. (arief)










