Cerpen Aris Munandar: MEMILIH MEMATIKAN HAPE. TITIK.

1001317069
ilustrasi gambar
banner 468x60

Begitulah. Dari sawah pindah ke ruang redaksi. Dari lumpur pindah ke layar hape

BOROBUDURCHANEL – Mbah Roso memilih mematikan hape.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Bukan karena baterainya habis. Bukan pula karena hape itu rusak atau tidak mampu membeli pulsa. Hape itu masih baik-baik saja. Bahkan sesekali masih berfungsi sebagaimana mestinya, meskipun dunia di dalamnya belakangan terasa seperti sebuah pasar yang tidak pernah tutup. Semua orang bicara. Semua orang merasa paling tahu. Semua orang ingin didengar. Dan entah mengapa, semakin banyak orang bicara, semakin sulit menemukan sesuatu yang masuk akal.

Maka Mbah Roso memilih mematikan hape.

Titik.

Pagi-pagi, selepas Subuh, ia sudah bersiap menuju sawah. Pukul enam, ketika matahari baru mulai mengintip dari balik pepohonan, Mbah Roso sudah berada di antara tanaman padinya. Sampai pukul sepuluh pagi, ada saja yang dikerjakan.

Mencangkul, matun, menanam, membersihkan rumput, brongkosi jagung, mengejar tikus, ngemes, memberi pupuk, menyemprot pestisida, atau menyemprot pupuk daun. Kadang memperbaiki saluran air. Kadang justru membuang air yang terlalu banyak menggenangi sawah.

Sawah seluas 1.300 meter persegi itu rupanya mempunyai pekerjaan yang tidak pernah selesai.

Kalau bukan rumput, ya tikus. Kalau bukan tikus, ya air. Kalau bukan air, ya pupuk. Pupuknya terlalu banyak, tanaman bisa bermasalah. Kurang pupuk, tanaman juga tidak tumbuh sebagaimana mestinya. Kadang daun menguning, kadang tanaman seperti asam-asaman. Entah tanahnya terlalu sehat atau justru sedang sakit.

Petani memang harus pandai membaca sesuatu yang tidak bisa berbicara.

Pukul sepuluh, Mbah Roso pulang. Mandi, sarapan, lalu pekerjaan berikutnya menunggu. Kali ini bukan mencangkul, melainkan membuka hape.

Ia mengelola media online. Pekerjaan pagi yang menjadi rutinitasnya adalah mengunggah berita. Kadang mengambil bahan dari media lain, menyeleksi, menyalin, menyunting seperlunya, kemudian mengunggahnya. Jika berita sedang ramai dan pembaruan datang bertubi-tubi, dalam waktu singkat empat berita bisa langsung tayang.

Minimal lima berita setiap pagi harus masuk ke media online yang dikelolanya.

Begitulah. Dari sawah pindah ke ruang redaksi. Dari lumpur pindah ke layar hape. Tidak perlu mengenakan seragam wartawan, tidak perlu pula duduk di kantor berpendingin udara. Kadang pekerjaan itu diselesaikan dengan dada telanjang, setelah mandi dan sarapan.

Tetapi setelah urusan berita selesai, pekerjaan petani kembali memanggil.

Di halaman rumah, Mbah Roso menggelar karpet plastik untuk menjemur jagung atau gabah. Ia harus menunggui hasil panen itu sampai kering. Bukan pekerjaan yang bisa ditinggal begitu saja. Ayam tetangga kadang datang tanpa diundang, mematuki jagung yang dijemur. Seekor ayam bisa menjadi tamu yang sangat merepotkan ketika berhadapan dengan hasil panen.

Sampai pukul tiga sore, ia masih berada di halaman. Menunggu matahari bergeser dan sinarnya tidak lagi menyentuh tempat penjemuran. Setelah jagung atau gabah dimasukkan ke karung, ia bersiap kembali ke sawah.

Sore hari adalah waktu yang lebih menyenangkan. Udara tidak lagi menyengat. Kadang ia melanjutkan mencangkul. Kadang hanya duduk di pematang, menyeruput teh, lalu melinting tembakau yang dibawanya dari rumah.

Tidak ada rapat. Tidak ada perdebatan. Tidak ada orang yang merasa perlu memenangkan percakapan.

Hanya suara angin, air di saluran sawah, dan sesekali bunyi burung yang entah sedang mencari makan atau sedang mengomentari pekerjaan manusia.

Menjelang Magrib, sekitar pukul 17.30 WIB, Mbah Roso berkemas. Ia pulang ketika azan mulai terdengar. Sampai rumah, ia menunaikan salat Magrib, duduk sebentar di atas sajadah, kemudian membuka Al-Qur’an.

Ia membaca dari surah Al-Baqarah, lalu meneruskan bacaan sesuai kemampuannya. Tidak harus selesai dalam sehari. Untuk mengkhatamkan seluruh Al-Qur’an diperlukan beberapa hari. Yang penting, setidaknya satu jam setiap hari ia sempatkan duduk bersama kitab suci itu.

Sesudahnya makan malam.

Kadang ada tamu datang. Kadang ia keluar rumah sekadar melihat tetangga yang sedang duduk di luar. Tidak ada agenda khusus. Tidak ada kepentingan yang harus disampaikan. Hanya memastikan bahwa kehidupan di sekitar rumah masih berlangsung sebagaimana biasanya.

Lalu malam datang. Tidur.

Besok pagi, selepas Subuh, semuanya dimulai lagi.

Orang mungkin bertanya, mengapa Mbah Roso sampai mematikan hape? Bukankah ia mengelola media online? Bukankah pekerjaannya berhubungan dengan berita, informasi, dan perkembangan keadaan?

Justru karena itulah.

Ia merasa terlalu banyak waktu habis untuk menyaksikan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa ia kendalikan. Situasi politik yang tidak karuan, perdebatan yang semakin gaduh, orang-orang yang saling mencurigai, berita yang belum tentu benar, dan komentar yang kadang lebih berisik daripada peristiwa itu sendiri.

Setiap hari ada saja yang membuat kepala panas.

Satu orang mengatakan A, orang lain membantah dengan B. Besoknya keduanya berubah menjadi C. Yang kemarin menjadi kawan hari ini menjadi lawan. Yang kemarin membela, hari ini mencela. Yang kemarin mencela, hari ini duduk satu meja.

Mbah Roso tidak tahu siapa yang sebenarnya sedang bekerja untuk rakyat dan siapa yang sekadar sedang bekerja untuk dirinya sendiri.

Akhirnya ia mengambil keputusan sederhana: mematikan hape.

Bukan berarti berhenti membaca berita. Bukan pula meninggalkan media online. Hape tetap dibuka ketika ada pekerjaan yang perlu diselesaikan. Ia masih mengunggah berita, sesekali menulis cerpen, dan menuangkan pikiran yang terus berputar di kepalanya.

Namun ia tidak ingin lagi menjadi tawanan layar kecil yang setiap menit menawarkan kegaduhan baru.

Umurnya sudah lebih dari enam puluh tahun. Tetapi ia merasa tubuh dan pikirannya masih seperti orang berumur empat puluh. Barangkali karena setiap hari ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Barangkali karena ia masih mau belajar, masih suka menulis, masih tertarik membaca, dan masih punya rasa ingin tahu terhadap kehidupan.

Orang bilang, supaya tidak pikun, otak harus terus digunakan.

Mbah Roso menggunakannya untuk memikirkan pupuk, membaca berita, menulis cerpen, mengamati politik, dan sesekali memikirkan mengapa tikus lebih menyukai jagung miliknya daripada jagung tetangga.

Ia tidak tahu apakah semua itu bisa mencegah kepikunan. Tetapi setidaknya ia tidak kekurangan kesibukan.

Ada satu hal yang belakangan semakin ia pahami. Tidak semua yang terjadi di dunia harus diketahui. Tidak semua perdebatan harus diikuti. Tidak semua orang perlu ditanggapi. Dan tidak semua kabar harus membuat seseorang kehilangan ketenangan.

Dunia akan tetap berputar meskipun hape dimatikan.

Presiden akan tetap bekerja, para menteri akan tetap berpidato, para politisi akan tetap berdebat, dan orang-orang di media sosial akan tetap saling mengoreksi kehidupan orang lain.

Sementara itu, padi di sawah Mbah Roso tidak pernah membaca berita politik. Ia hanya membutuhkan air, pupuk, matahari, dan seseorang yang bersedia merawatnya.

Malam itu Mbah Roso memeriksa hape sebentar. Ada beberapa pemberitahuan masuk. Ia tidak membukanya. Layar kemudian menjadi gelap.

Ia meletakkan hape di atas meja.

Besok pagi, ia harus kembali ke sawah. Ada beberapa rumpun padi yang perlu diperiksa. Ada saluran air yang harus dibersihkan. Ada kemungkinan tikus datang lagi.

Dan ada sesuatu yang lebih penting daripada mengetahui siapa sedang bertengkar dengan siapa.

Mbah Roso harus memastikan padinya tidak kekurangan air.

Sebab, kalau politik gagal menghasilkan apa-apa, setidaknya sawah masih bisa menghasilkan beras.

Ia lalu tidur.

Di luar rumah, dunia masih gaduh. Di dalam rumah, sebuah hape terbaring tanpa suara.

Pagi nanti, yang pertama kali menyala bukan layar hape.

Melainkan matahari.

Aris Munandar, seorang petani tinggal di Magelang.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *