GUS IPANG DAN NU YANG BELUM SELESAI BERBICARA

1001175498
gus Ipang, pengurus PBNU 2026-2031 (foto: borobudurchanel)
banner 468x60

Kadang ia hanya berarti mencuci kaca agar wajah lama dapat terlihat lebih jelas

BOROBUDURCHANEL – Ada organisasi yang mempunyai banyak cerita tetapi kesulitan menceritakannya.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Nahdlatul Ulama barangkali salah satunya.

NU mempunyai pesantren, kiai, santri, madrasah, perguruan tinggi, rumah sakit, koperasi, lembaga sosial, tradisi, kebudayaan dan jaringan warga yang membentang dari kota sampai desa. Tetapi di zaman ketika sesuatu yang tidak muncul di layar telepon dianggap hampir tidak ada, kekayaan sebesar itu kadang terdengar seperti suara orang tua di ruang sebelah.

Kita tahu ia sedang berbicara.

Anak-anak muda tidak.

Di situlah nama Gus Ipang Wahid menjadi menarik.

Dalam kepengurusan PBNU masa khidmah 2026-2031, Irfan Asy’ari Sudirman Wahid, atau Gus Ipang, dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Digital Native, Teknologi, Budaya, dan Komunikasi.

Saya kira ini bukan sekadar soal penempatan seorang praktisi komunikasi ke sebuah bidang yang bernama komunikasi.

Ada sesuatu yang lebih besar.

Gus Ipang datang dari dunia yang pekerjaannya memang mengurusi bagaimana sesuatu dilihat, dirasakan dan diingat orang.

Ia berpengalaman di industri kreatif, periklanan, strategi komunikasi dan komunikasi politik. Dalam sebuah kesempatan, ia bahkan mengatakan lebih suka disebut perception engineer daripada pakar komunikasi politik. Sebab, menurutnya, pekerjaan itu bukan hanya menjual pesan politik, tetapi juga menyangkut rebranding, personal branding dan pertumbuhan digital.

Istilah itu menarik.

Sebab persepsi adalah barang yang aneh.

Ia tidak kelihatan, tetapi menentukan bagaimana orang melihat sesuatu.

Gunung yang sama dapat terlihat sebagai tempat keramat, tempat wisata, tanah kosong, atau lokasi tambang. Tergantung siapa yang bercerita.

Pesantren juga begitu.

Bagi santri, pesantren adalah rumah. Bagi orang luar, mungkin hanya bangunan dengan pagar tinggi, kitab-kitab tua dan suara pengajian dari pengeras suara.

Padahal di dalamnya ada manusia.

Ada kegelisahan.

Ada ilmu.

Ada humor.

Ada cinta.

Ada perdebatan.

Ada teknologi yang diam-diam sudah digunakan.

Ada anak muda yang setelah mengaji kitab kemudian membuka laptop dan membuat desain, mengedit video, menjalankan toko daring, membuat aplikasi, atau bermain dengan kecerdasan buatan.

Persoalannya, dunia luar belum tentu mengetahui itu.

Mungkin karena selama ini NU terlalu sibuk menjadi dirinya sendiri sehingga lupa memperkenalkan dirinya kepada orang lain.

Padahal zaman telah berubah.

Dulu orang bertanya kepada kiai.

Sekarang orang bertanya kepada Google.

Kemudian kepada YouTube.

Lalu TikTok.

Sekarang bahkan kepada mesin yang bisa menjawab pertanyaan dalam hitungan detik.

Bukan berarti kiai menjadi tidak penting. Justru sebaliknya. Tetapi cara manusia mencari pengetahuan telah berubah.

Di sinilah gagasan Gus Ipang tentang technosantri menjadi penting untuk diperhatikan.

Ia ingin melahirkan santri yang kuat dalam turats dan adab, tetapi sekaligus cakap menggunakan teknologi. Ia juga mendorong pesantren yang siap untuk menjadi percontohan pembelajaran AI, large language model, literasi digital dan keamanan digital.

Saya kira ini bukan gagasan untuk membuat pesantren menjadi Silicon Valley versi bersarung.

Bukan itu.

Teknologi hanyalah alat.

Yang lebih penting adalah siapa yang memegang alat tersebut dan untuk apa.

Santri tidak harus kehilangan sarungnya agar bisa memegang laptop.

Kiai tidak harus meninggalkan kitab kuning agar bisa memahami kecerdasan buatan.

Pesantren tidak perlu mengubah dirinya menjadi perusahaan teknologi agar dianggap modern.

Yang diperlukan adalah kemampuan menerjemahkan nilai lama ke dalam bahasa baru.

Dulu orang berdakwah dari mimbar.

Sekarang mimbar itu bisa berada di layar telepon.

Dulu seorang kiai mempunyai jamaah yang datang ke pengajian.

Sekarang seorang ustaz muda bisa mempunyai jutaan penonton yang tidak pernah datang ke pesantrennya.

Dulu sebuah pesantren cukup mempunyai papan nama di pinggir jalan.

Sekarang ia juga membutuhkan identitas digital.

Persoalannya kemudian menjadi sederhana tetapi tidak mudah:

Apakah NU mampu hadir di tempat anak-anak muda berada tanpa kehilangan dirinya sendiri?

Gus Ipang tampaknya memahami pertanyaan itu.

Sehari setelah susunan PBNU diumumkan, ia berbicara tentang rebranding media NU dan penggunaan budaya pop untuk memperluas dakwah dan syiar, terutama kepada generasi Z dan Alpha.

Ini penting.

Sebab rebranding tidak selalu berarti mengganti wajah.

Kadang ia hanya berarti mencuci kaca agar wajah lama dapat terlihat lebih jelas.

NU tidak perlu menjadi organisasi lain.

NU hanya perlu membuat orang lain dapat melihat apa yang selama ini sudah dimilikinya.

Dan NU mempunyai bahan yang luar biasa.

Pesantren.

Kiai.

Santri.

Tradisi.

Seni.

Sastra.

Musik.

Kuliner.

Arsitektur.

Sejarah.

Humor.

Bahkan cara orang NU menghadapi persoalan sehari-hari sebenarnya adalah bahan kebudayaan yang sangat kaya.

Tetapi semua itu akan menjadi sia-sia jika hanya disimpan dalam lemari.

Budaya yang tidak diceritakan akan perlahan menjadi arsip.

Tradisi yang tidak diterjemahkan akan menjadi tontonan.

Dan nilai yang tidak dikomunikasikan akan kalah oleh nilai lain yang lebih pandai bercerita.

Di sini saya kira pekerjaan Gus Ipang akan jauh lebih berat daripada sekadar membuat akun media sosial NU tampak lebih muda.

Sebab anak muda tidak dapat dibujuk hanya dengan desain yang bagus.

Mereka juga tidak bisa dipaksa mencintai NU hanya karena NU mempunyai sejarah panjang.

Generasi baru ingin tahu: apa gunanya NU bagi hidup saya?

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan sejarah saja.

Harus ada pengalaman.

Harus ada ruang.

Harus ada kesempatan.

Harus ada bahasa yang mereka pahami.

Dan mungkin yang paling penting: harus ada orang-orang muda yang merasa bahwa NU juga merupakan rumah mereka.

Karena itu saya justru berharap technosantri tidak berhenti sebagai istilah yang bagus untuk seminar.

Carilah santri yang pandai membuat film.

Cari yang pandai membuat aplikasi.

Cari yang menguasai AI.

Cari yang mengerti fotografi.

Cari yang bisa membuat podcast.

Cari yang bisa menulis dengan baik.

Cari yang mengerti algoritma.

Cari pula yang bisa mengubah cerita seorang kiai di desa menjadi cerita yang bisa ditonton anak muda di kota.

Mereka sudah ada.

Hanya saja mungkin belum ditemukan.

Atau sudah ditemukan tetapi belum diberi kursi.

NU mempunyai jaringan sampai ke pelosok. Di sebuah pesantren kecil mungkin ada anak yang lebih memahami dunia digital daripada pejabat yang sehari-hari berbicara tentang transformasi digital.

Jangan-jangan masa depan NU memang sedang duduk di sebuah kamar pesantren, dengan laptop murah dan sambungan internet yang putus-nyambung.

Ia hanya menunggu seseorang mengetuk pintunya.

Tetapi ada satu hal yang menurut saya perlu dijaga.

Jangan sampai branding lebih besar daripada substansi.

Sebab manusia boleh tertarik karena kemasan, tetapi ia akan tinggal karena isi.

Perception engineering dapat membuat orang mau melihat.

Tetapi yang membuat orang percaya adalah kenyataan.

Dalam dunia politik, kita telah melihat bagaimana kata “gemoy”, misalnya, dapat menjadi bagian dari komunikasi politik yang kuat. Gus Ipang sendiri pernah menjelaskan bagaimana pendekatan tersebut dikembangkan dalam komunikasi Prabowo-Gibran. Lagu “Oke Gas” karya Richard Jersey kemudian diadopsi oleh tim kampanye dalam ekosistem komunikasi tersebut.

Tetapi NU bukan produk.

NU bukan calon presiden.

NU bukan minuman ringan yang membutuhkan slogan agar laku.

NU adalah organisasi keagamaan, kebudayaan dan kemasyarakatan yang memiliki sejarah panjang.

Karena itu, pekerjaan membangun persepsi NU mempunyai tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Yang dijual bukan sekadar citra.

Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan.

Jangan sampai NU menjadi tampak muda tetapi kehilangan kedalaman.

Jangan sampai pesantren menjadi viral tetapi kehilangan kesunyian yang selama berabad-abad menjadi tempat ilmu tumbuh.

Jangan sampai santri pandai membuat konten tetapi lupa mengapa ia belajar.

Teknologi harus menjadi kendaraan.

Tradisi menjadi akar.

Dan nilai menjadi kompas.

Barangkali di situlah letak tantangan sebenarnya bagi Gus Ipang.

Bukan membuat NU menjadi modern.

NU sudah hidup di zaman modern.

Bukan pula membuat NU menjadi digital.

NU sudah mempunyai jutaan warga yang setiap hari menggunakan telepon pintar.

Tugas yang lebih sulit adalah membuat kekayaan NU dapat berbicara dengan bahasa zaman tanpa kehilangan suara asalnya.

Sebab generasi muda sebenarnya tidak sedang menunggu NU menjadi sesuatu yang lain.

Mereka mungkin hanya sedang menunggu NU berbicara dengan bahasa yang mereka mengerti.

Dan kalau Gus Ipang benar-benar mampu membuka pintu itu, maka yang terjadi bukan sekadar rebranding.

Yang terjadi adalah penerjemahan.

Kitab lama diterjemahkan ke dalam bahasa baru.

Pesantren diterjemahkan ke dalam ruang digital.

Kearifan kiai diterjemahkan ke dalam percakapan anak muda.

Dan nilai-nilai NU diterjemahkan ke dalam kehidupan yang terus berubah.

Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan apakah NU bisa masuk TikTok, YouTube, Instagram atau dunia AI.

Itu soal teknis.

Persoalan sebenarnya adalah:

Apakah NU masih mampu membuat generasi baru merasa bahwa nilai-nilai yang diwariskan para pendahulunya masih mempunyai tempat di masa depan?

Kalau jawabannya iya, maka pekerjaan Gus Ipang bukan membuat NU menjadi kekinian.

Ia hanya membantu NU menemukan kembali cara berbicara.

Sebab dunia sudah berubah.

Anak-anak muda sudah berjalan jauh.

Dan NU, dengan sejarahnya yang panjang itu, tidak boleh hanya berdiri di belakang mereka sambil berkata:

“Dulu kami pernah…”

NU harus bisa mengatakan:

“Mari kita berjalan bersama.”

Selamat bertugas, Gus Ipang.

Barangkali memang sudah waktunya seorang perception engineer membantu sebuah organisasi besar memperbaiki bukan hanya persepsinya, tetapi juga cara ia berbicara kepada zaman.

Sebab zaman tidak pernah berhenti mendengar.

Yang sering terjadi hanyalah kita yang berhenti berbicara dengan bahasa yang dipahaminya.

Aris Munandar, santri dan petani kampung

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *