Cerpen Aris Munandar LONDO IRENG

1001167877
ilustrasi cerpen (foto: borobudurchanel)
banner 468x60

Sebuah cerita tentang perang yang tidak pernah selesai

BOROBUDURCHANEL – Malam itu Pangeran Diponegoro tidak tidur. Bukan karena suara meriam. Meriam sudah biasa.
Yang membuatnya tidak bisa tidur adalah suara orang-orang yang berbisik di luar pendapa.
Mereka membicarakan pengkhianatan. Ada seorang lurah yang menjual informasi kepada Belanda.
Ada seorang bangsawan yang mengirim surat diam-diam ke Batavia.
Ada seorang saudagar yang menyimpan beras untuk tentara Belanda sementara rakyat mulai makan gaplek.
Ada pula orang-orang yang tidak berperang, tetapi tahu kapan harus berpihak.
Diponegoro berdiri di ambang pintu. Langit Yogyakarta hitam.
Bulan seperti uang logam yang sudah lama dipakai.
“Siapa yang disebut Londo Ireng?” tanyanya. Tidak ada yang menjawab.
Seorang lelaki tua akhirnya berkata, “Yang memakai kulit kita, Gusti.”
Diponegoro menoleh.
“Belanda?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Yang lebih sulit dilawan daripada Belanda.”
Perang Jawa berlangsung dari 1825 sampai 1830. Lima tahun.
Lima tahun adalah waktu yang panjang untuk sebuah perang, tetapi mungkin terlalu pendek untuk sebuah dendam.
Belanda datang dengan senapan.
Rakyat melawan dengan tombak, pedang, doa, dan keyakinan bahwa tanah bukan sekadar tanah.
Perang itu akhirnya tidak hanya menjadi perang antara dua pasukan.
Ia menjadi perang tentang siapa yang berhak menentukan harga tanah, siapa yang boleh mengambil hasil bumi, siapa yang berhak memerintah, dan siapa yang harus menundukkan kepala.
Ketika perang tidak bisa dimenangkan dengan peluru, Belanda membangun benteng.
Benteng demi benteng. Sedikit demi sedikit. Seperti sekarang orang membangun kantor.
Seperti sekarang orang membangun pagar. Seperti sekarang orang membuat peraturan. Semua tampak untuk keamanan.
Tetapi rakyat selalu tahu: pagar juga bisa dibuat untuk mengurung.
Pada suatu malam, seorang pengintai datang membawa berita.
“Belanda merekrut orang-orang dari Afrika.”
Diponegoro diam.
“Untuk menjadi serdadu.”
Diam lagi.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Zaa re”Mereka akan mengenakan seragam Belanda.”

Diponegoro memandang api.

Jadi itulah yang kelak disebut orang sebagai Londo Ireng.

Belanda Hitam.

Orang-orang Afrika yang direkrut menjadi bagian dari tentara kolonial Belanda.

Sejarah mencatat mereka.

Sebagian ditempatkan di Jawa.

Sebagian meninggalkan keturunan.

Sebagian jejaknya masih dapat ditemukan di Purworejo.

Tetapi sejarah ternyata punya cara aneh untuk memperpanjang umur sebuah istilah.

Bertahun-tahun kemudian, Londo Ireng tidak lagi hanya menunjuk kepada serdadu berkulit hitam yang memakai seragam Belanda.

Ia berubah menjadi sebuah perumpamaan.

Seseorang bisa tetap berkulit Jawa.

Bisa lahir di desa.

Bisa bicara bahasa Jawa.

Bisa makan nasi pecel.

Bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Tetapi kalau pikirannya sudah merasa bahwa kepentingan orang lain lebih penting daripada rakyatnya sendiri, orang mulai memanggilnya:

Londo Ireng.

Dua ratus tahun kemudian, seorang lelaki bernama Jaka menemukan kata itu di sebuah buku tua.

Jaka bukan sejarawan.

Ia wartawan.

Ia tinggal di kota kecil di Jawa Tengah dan mempunyai kebiasaan buruk: terlalu banyak bertanya.

Atasannya pernah mengatakan,

“Jaka, kalau semua hal kau tanyakan, kapan kau bekerja?”

Jaka menjawab,

“Justru karena saya bekerja, saya bertanya.”

Atasannya menggeleng.

“Kau ini wartawan atau Diponegoro?”

Jaka tertawa.

Tetapi sejak malam itu ia mulai memikirkan Diponegoro.

Bukan tentang perang.

Tentang pengkhianatan.

Pada suatu pagi Jaka membaca berita tentang seorang pejabat yang ditangkap karena korupsi.

Siangnya pejabat lain.

Malamnya orang lain lagi.

Ada proyek.

Ada suap.

Ada gratifikasi.

Ada pengadaan.

Ada fee.

Ada orang yang menyebutnya uang terima kasih.

Ada yang menyebutnya uang rokok.

Ada yang menyebutnya komitmen.

Kata-kata selalu bisa dicuci.

Uang juga.

Tetapi korupsi, rupanya, tidak mudah dicuci.

Jaka menulis di buku catatannya:

Apakah mereka Londo Ireng?

Ia berhenti.

Kemudian mencoret kalimat itu.

Menulis lagi:

Atau kita hanya membutuhkan nama untuk menjelaskan rasa kecewa kita?

Ia berhenti lagi.

Pada malam berikutnya Jaka bermimpi.

Ia berada di sebuah hutan.

Kabut turun.

Dari kejauhan terdengar suara kuda.

Seorang lelaki berjubah putih datang.

Jaka mengenal wajah itu meskipun belum pernah bertemu.

“Pangeran?”

Lelaki itu tidak menjawab.

“Apakah Anda Diponegoro?”

“Siapa namamu?”

“Jaka.”

“Pejuang?”

Jaka tersenyum.

“Wartawan.”

Diponegoro mengerutkan kening.

“Itu jenis pasukan apa?”

“Pasukan yang tidak membawa senjata.”

“Bagaimana berperang?”

“Dengan kata-kata.”

Diponegoro memandangnya lama.

“Berarti kau membawa senjata yang lebih tua daripada pedang.”

Jaka terdiam.

“Apa?”

“Pertanyaan.”

Jaka kemudian bertanya:

“Siapa Londo Ireng hari ini?”

Diponegoro tidak langsung menjawab.

Ia menunjuk ke arah sebuah kota yang tiba-tiba muncul di balik kabut.

Gedung-gedung tinggi.

Lampu.

Mobil.

Spanduk.

Kamera televisi.

Orang-orang berseragam.

Orang-orang berdasi.

Orang-orang membawa map.

Orang-orang membawa koper.

“Yang mana?” tanya Jaka.

Diponegoro berkata,

“Carilah sendiri.”

“Bagaimana caranya?”

“Jangan lihat warna kulitnya.”

Jaka memandang kota.

“Jangan lihat bajunya.”

Kota semakin terang.

“Jangan lihat jabatannya.”

Suara mesin terdengar.

“Jangan lihat pidatonya.”

Suara tepuk tangan.

“Lihat ke mana tangannya pergi ketika rakyat sedang tidak melihat.”

Jaka terbangun.

Keringat membasahi lehernya.

Jam menunjukkan pukul tiga pagi.

Di luar, suara ayam terdengar seperti orang yang sedang salah mengeja sejarah.

Beberapa hari kemudian Jaka menghadiri konferensi pers.

Seorang pejabat sedang berbicara tentang pembangunan.

Katanya pembangunan untuk rakyat.

Katanya anggaran untuk rakyat.

Katanya semua dilakukan demi rakyat.

Jaka melihat tangannya.

Tidak ada apa-apa.

Tangan itu bersih.

Kuku rapi.

Jam mahal.

Tidak tampak seperti tangan seorang pencuri.

Jaka tiba-tiba teringat Diponegoro.

“Jangan lihat tangannya ketika berbicara,” kata suara dalam kepalanya.

“Lihat ketika rakyat tidak melihat.”

Malamnya Jaka bertemu seorang pensiunan pegawai negeri.

“Pak, apakah pejabat korup itu Londo Ireng?”

Orang tua itu tertawa.

“Kau masih muda.”

“Itu bukan jawaban.”

“Justru itu jawabannya.”

“Kenapa?”

“Karena istilah itu terlalu mudah.”

“Korupsi tidak mudah.”

“Korupsi memang tidak mudah. Tetapi menuduh orang Londo Ireng sangat mudah.”

Jaka diam.

Orang tua itu menyalakan rokok.

“Asal-usul istilah harus dihormati. Sejarah jangan dipakai seenaknya.”

“Lalu bagaimana dengan pengkhianat?”

“Pengkhianat tetap pengkhianat.”

“Tanpa disebut Londo Ireng?”

“Kalau ada bukti, sebut perbuatannya.”

Jaka mengangguk.

“Jadi?”

“Kalau mencuri, katakan mencuri.”

“Kalau menerima suap?”

“Katakan menerima suap.”

“Kalau menjual kepentingan rakyat?”

“Carilah buktinya.”

Orang tua itu tersenyum.

“Jangan biarkan kemarahan membuatmu malas mencari bukti.”

Pagi berikutnya Jaka menulis sebuah kalimat:

Bangsa ini tidak kekurangan orang yang mengaku mencintai tanah air. Yang kurang adalah orang yang bersedia kehilangan sesuatu karena mempertahankan tanah air.

Ia membaca kembali kalimat itu.

Kemudian menghapusnya.

Terlalu bagus.

Terlalu mudah menjadi slogan.

Ia menulis lagi:

Sejarah tidak pernah bertanya siapa yang paling keras meneriakkan kemerdekaan. Sejarah bertanya siapa yang mengambil apa ketika semua orang sedang bertepuk tangan.

Kali ini ia membiarkannya.

Di Magelang, pada 28 Maret 1830, Diponegoro datang untuk sebuah perundingan.

Ia mengira datang untuk berbicara.

Belanda menganggapnya kesempatan untuk menangkap.

Sejarah kemudian menyebutnya sebagai penangkapan Diponegoro.

Ada yang menyebut tipu daya.

Ada yang menyebut strategi.

Ada yang menyebut diplomasi.

Kata-kata kembali melakukan pekerjaan mereka.

Seorang manusia ditangkap.

Sebuah perang berakhir.

Tetapi perang tidak selalu berakhir ketika seorang panglima ditangkap.

Kadang perang hanya berganti bentuk.

Dulu senapan.

Kemudian surat.

Kemudian kontrak.

Kemudian stempel.

Kemudian tanda tangan.

Kemudian rekening.

Kemudian sebuah proyek yang nilainya seribu tetapi dilaporkan seribu lima ratus.

Jaka kembali bermimpi.

Diponegoro berdiri di tengah sawah.

Tidak ada pasukan.

Tidak ada kuda.

Tidak ada senapan.

Hanya padi.

“Apakah perang sudah selesai?” tanya Jaka.

Diponegoro melihat sawah.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena rakyat masih bertanya siapa yang memiliki negeri ini.”

“Jawabannya?”

Diponegoro menunjuk padi.

“Padi tidak pernah bertanya siapa pejabatnya.”

Jaka bingung.

“Padi hanya tumbuh.”

“Dan siapa yang memakan hasilnya?”

Jaka terdiam.

Diponegoro tersenyum tipis.

“Itulah politik.”

Ketika Jaka terbangun, matahari sudah muncul.

Ia membuka laptop.

Berita pagi memenuhi layar.

Ada pejabat.

Ada proyek.

Ada partai.

Ada penyidik.

Ada konferensi pers.

Ada pembelaan.

Ada bantahan.

Ada kalimat:

Saya tidak tahu.

Ada lagi:

Saya hanya menjalankan perintah.

Ada lagi:

Ini fitnah.

Ada lagi:

Kami menghormati proses hukum.

Jaka menatap semuanya.

Kemudian ia membuka buku sejarah.

Pada satu halaman tertulis:

1825–1830.

Ia menambahkan dengan pensil:

Perang Jawa.

Di bawahnya ia menulis:

2026.

Lalu berhenti.

Tidak tahu harus menulis apa.

Perang apa?

Perang melawan korupsi?

Perang melawan keserakahan?

Perang melawan kekuasaan?

Atau perang melawan diri sendiri?

Jaka menutup buku.

Dari luar terdengar suara tukang sayur.

“Sayur… sayur…”

Kehidupan berjalan seperti biasa.

Dan mungkin justru itu yang paling mengerikan.

Sebab sebuah negeri tidak selalu hancur ketika perang datang.

Kadang sebuah negeri perlahan habis ketika semua orang tetap pergi bekerja, tetap membayar pajak, tetap membeli beras, tetap menonton berita, lalu mematikan televisi sebelum bertanya:

Siapa sebenarnya yang sedang memenangkan perang?

Di kejauhan, suara kuda terdengar.

Jaka menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya jalan raya.

Hanya sepeda motor.

Hanya seorang pejabat yang lewat dengan mobil hitam.

Jaka melihat kaca mobil itu.

Di dalamnya seseorang sedang tersenyum.

Jaka tidak tahu siapa dia.

Dan untuk pertama kalinya Jaka merasa lega.

Sebab ia sadar:

Londo Ireng bukan nama seseorang.

Ia adalah pertanyaan.

Dan selama sebuah bangsa masih berani bertanya, perang itu belum selesai.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *