Pompa Air Mengancam Lahan Pertanian Banokeling di Musim Kering

1001115188
Ketua TMI Banokeling bersama petani kakau Banokeling (foto: rit/borobudurchanel)
banner 468x60

Jadi sudah dua bulan ini tanah dibiarkan nganggur karena nggak ada air

BANYUMAS, BOROBUDURCHSNEL – Persoalan air kembali menjadi keluhan petani di wilayah Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, yang merupakan pusat Komunitas Adat Banokeling. Memasuki musim kering, sejumlah lahan pertanian tadah hujan terpaksa dibiarkan tidak ditanami karena petani kesulitan mendapatkan sumber air.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Data penggunaan lahan Desa Pekuncen menunjukkan kawasan ini memiliki basis pertanian yang cukup luas. Data Kecamatan Jatilawang mencatat sekitar 65 hektare sawah di Pekuncen, seluruhnya berstatus sawah tadah hujan. Selain itu terdapat sekitar 313 hektare tegal/kebun.

Data profil desa juga mencatat luas persawahan sekitar 83,83 hektare. Perbedaan angka tersebut menunjukkan adanya perbedaan tahun dan klasifikasi dalam sumber data, sehingga angka luasan perlu dibaca sesuai sumber dan periode pencatatannya.

Kondisi tersebut membuat ketersediaan air menjadi persoalan penting bagi petani, terutama ketika hujan berhenti dalam waktu cukup panjang.

Ketua Yayasan Dharma Putra Banokeling, Ritam, mengatakan sebagian lahan pertanian masyarakat bahkan sudah sekitar dua bulan tidak digarap karena tidak tersedia air.

“Jadi sudah dua bulan ini tanah dibiarkan nganggur karena nggak ada air. Sempat kemarin ditanam kacang hijau, tetapi hasilnya nggak bagus,” kata Ritam.

Menurut dia, kondisi tanah di wilayah Banokeling tidak selalu cocok untuk ditanami kacang hijau ketika ketersediaan air terbatas.

“Istilahnya tidak rekomendasi untuk kacang hijau ditanam di tanah Banokeling. Meskipun daunnya rimbun, tetapi buahnya sangat jarang sekali,” ujarnya.

Persoalan air itu tidak hanya dirasakan pada sawah tadah hujan. Dalam kunjungan lapangan yang dilakukan Ketua TMI Wilayah Adat Banokeling Aris Munandar, kondisi serupa ditemukan pada sejumlah lahan perkebunan masyarakat yang ditanami cabai maupun tembakau.

Petani, kata Aris, membutuhkan tambahan titik sumber air agar lahan pertanian tidak berhenti berproduksi ketika memasuki musim kemarau.

“Karena kami masih membutuhkan beberapa titik untuk pompa air pertanian,” katanya.

Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting karena sebagian besar lahan pertanian Pekuncen memang bergantung pada air hujan. Data profil wilayah yang pernah dihimpun pemerintah dan penelitian mengenai Pekuncen menunjukkan karakter pertanian desa ini didominasi lahan kering dan sawah tadah hujan.

Aris mengatakan bantuan pompa air sebenarnya sudah beberapa kali diterima. Namun, menurut dia, persoalan muncul karena bantuan tersebut belum sepenuhnya menjangkau lahan yang dikelola dan dimanfaatkan masyarakat secara umum.

“Memang ada beberapa kali bantuan pompa air, tetapi jatuhnya bukan ke masyarakat. Hanya sampai ke tanah pribadi, bukan ke masyarakat umum,” katanya.

Kondisi tersebut membuat masyarakat adat Banokeling berharap adanya perhatian lebih terhadap pembangunan sarana pengairan yang dapat digunakan bersama.

Aris mengaku sudah beberapa kali menyampaikan kebutuhan tersebut kepada pihak yang berwenang. Namun hingga kini, menurut dia, belum ada hasil yang diharapkan masyarakat.

“Saya sudah beberapa kali meminta bantuan kepada pihak yang berwenang, tetapi hasilnya nihil,” ujar Aris.

Ia bahkan berharap persoalan tersebut dapat mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pertanian.

“Mungkin kalau Bapak Amran Sulaiman, Menteri Pertanian, berkenan hadir, baru ada bantuan pompa air,” kata Aris.

Bagi masyarakat Banokeling, persoalan pompa air bukan semata soal infrastruktur pertanian. Air menentukan apakah lahan dapat kembali ditanami atau harus dibiarkan kosong.

Di tengah musim kering, satu pompa air bagi petani bukan sekadar mesin. Ia dapat menjadi pembeda antara lahan yang tetap menghasilkan dengan tanah yang hanya menunggu datangnya hujan.

Karena itu, masyarakat berharap program bantuan pompa air tidak berhenti pada penyaluran alat, tetapi benar-benar diarahkan pada titik-titik lahan yang membutuhkan dan dapat dimanfaatkan secara bersama oleh petani.

Dengan luas lahan sawah dan kebun yang menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat Pekuncen, persoalan air pada akhirnya bukan hanya persoalan musim. Ia menyangkut keberlanjutan produksi pertanian dan penghidupan masyarakat desa. (rist)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *