Setahun Jadi Menkeu, Ini Jejak Kebijakan dan Pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa

Purbaya Yudhi Sadewa mengakhiri masa jabatan sebagai Menkeu setelah setahun. Sejumlah kebijakan dan pernyataannya sempat menjadi sorotan
Purbaya Yudhi Sadewa mengakhiri masa jabatan sebagai Menkeu setelah setahun. Sejumlah kebijakan dan pernyataannya sempat menjadi sorotan. (dok istimewa)
banner 468x60

BOROBUDURCHANEL.COM — Masa jabatan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia berakhir setelah Presiden Prabowo Subianto menggantinya dengan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara pada Senin, 14 September 2026.

Purbaya sebelumnya dipercaya menggantikan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan pada September 2025. Namun, genap setahun menjalankan tugas sebagai Bendahara Negara, Purbaya tidak melanjutkan masa jabatannya.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Pergantian tersebut sekaligus mengakhiri periode yang cukup menarik perhatian publik. Selama menjadi Menteri Keuangan, Purbaya tidak hanya dikenal melalui sejumlah kebijakan ekonomi, tetapi juga gaya komunikasinya yang terbuka dan kerap menuai perbincangan di ruang publik.

Salah satu karakter yang melekat pada Purbaya adalah gaya berbicaranya yang ceplas-ceplos ketika menyampaikan pandangan mengenai persoalan ekonomi dan kebijakan pemerintah.

Gaya Bicara ‘Koboi’ Purbaya

Sejak awal menjabat, Purbaya menunjukkan karakter komunikasi yang berbeda dibandingkan pendahulunya, Sri Mulyani.

Jika Sri Mulyani dikenal dengan penyampaian kebijakan fiskal yang relatif formal dan terukur, Purbaya lebih sering menyampaikan pandangannya secara langsung dengan gaya bahasa yang lebih santai.

Gaya tersebut beberapa kali menjadi perhatian publik. Bahkan, Purbaya sendiri sempat mengibaratkan gaya komunikasinya sebagai gaya seorang ‘koboi’.

Pernyataan itu disampaikan Purbaya pada 29 September 2025, tidak lama setelah dirinya menduduki jabatan Menteri Keuangan.

“Jadi saya kelihatannya gayanya kan selonongan kan sembarangan, tapi enggak,” ujar Purbaya.

Ia kemudian menambahkan, “Kita hitung dengan benar, jadi koboinya pistolnya banyak.”

Pernyataan tersebut menggambarkan upayanya menjelaskan bahwa gaya komunikasi yang terlihat spontan tidak berarti kebijakan yang diambil tanpa perhitungan.

Menempatkan Rp200 Triliun ke Himbara

Selain gaya komunikasi, salah satu kebijakan Purbaya yang cukup mendapat perhatian adalah keputusan menempatkan dana pemerintah sebesar  Rp200 triliun  pada bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Dana tersebut ditempatkan dengan tujuan memperkuat likuiditas perbankan dan mendorong peningkatan penyaluran kredit ke sektor produktif.

Purbaya menjelaskan kebijakan tersebut dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2025 di Jakarta pada 28 Oktober 2025.

“Bukan mau gaya-gayaan. Saya taruh Rp200 triliun, sebetulnya untuk membangun ekspektasi (ekonomi) yang positif,” kata Purbaya.

Kebijakan tersebut kemudian menjadi perhatian karena menyangkut dana pemerintah dalam jumlah besar.

Purbaya juga memberikan arahan kepada bank penerima agar dana tersebut tidak digunakan untuk pembiayaan kepada kelompok konglomerasi maupun aktivitas yang dinilai dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Sebetulnya kita minta ke perbankan yang terima dana itu, jangan Anda kasih ke konglomerat itu dan nggak boleh beli dolar, karena kalau nggak rupiahnya akan diperlemahkan,” ujarnya.

Pernyataan soal Rp120 Triliun Danantara

Menjelang berakhirnya masa jabatan, Purbaya kembali menjadi sorotan karena pernyataannya mengenai rencana setoran dana sebesar  Rp120 triliun  dari Danantara kepada pemerintah.

Pernyataan itu disampaikan Purbaya dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026 di Jakarta pada 3 September 2026.

“Ah dia katanya bilang, saya (Danantara) nggak tahu,” kata Purbaya ketika membahas informasi tersebut.

Pernyataan tersebut kemudian berkembang menjadi polemik setelah pimpinan Danantara menyampaikan bantahan mengenai adanya kesepakatan setoran sebagaimana yang disebutkan.

Perbedaan informasi tersebut membuat isu setoran Rp120 triliun menjadi salah satu pembicaraan yang mengemuka menjelang pergantian Menteri Keuangan.

Setahun yang Penuh Sorotan

Pergantian Purbaya oleh Suahasil Nazara menandai berakhirnya satu periode kepemimpinan di Kementerian Keuangan.

Dalam waktu sekitar satu tahun, Purbaya meninggalkan sejumlah catatan, mulai dari gaya komunikasi yang berbeda, kebijakan penempatan dana pemerintah di Himbara, hingga pernyataan mengenai Danantara yang kemudian menjadi polemik.

Kini, Suahasil Nazara dipercaya melanjutkan tugas sebagai Menteri Keuangan. Pergantian tersebut sekaligus membawa arah baru dalam pengelolaan fiskal dan keuangan negara di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Bagi Purbaya, perjalanan sebagai Menteri Keuangan berakhir setelah satu tahun. Namun, sejumlah kebijakan dan pernyataannya selama menjabat masih menjadi bagian dari catatan publik mengenai dinamika pengelolaan ekonomi Indonesia.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *