Gus Yusuf: Kekuatan Ekonomi NU Ada di Kebutuhan 90 Juta Warga Nahdliyin, Bukan Hanya Tambang

Gus Yusuf Pengasuh Ponpok Pesantren API Tegalrejo Magelang Jawa Tengah. forocollage
Gus Yusuf Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang Jawa Tengah. (foro,collage)
banner 468x60

BOROBUDURCHANEL – MAGELANG – Salah satu calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Yusuf Chudlori atau yang akrab disapa Gus Yusuf, menegaskan bahwa kekuatan ekonomi Nahdlatul Ulama (NU) sesungguhnya terletak pada besarnya jumlah warga Nahdliyin yang mencapai sekitar 90 juta jiwa. Menurutnya, apabila kebutuhan dasar warga dikelola secara bersama, NU akan memiliki kekuatan ekonomi yang mampu menggerakkan kesejahteraan umat dari akar rumput.

Gus Yusuf mengatakan, sebelum berbicara mengenai pengelolaan aset berskala besar seperti tambang, NU perlu lebih dahulu mengoptimalkan potensi ekonomi riil yang berasal dari kebutuhan sehari-hari warganya sendiri.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Anggota NU mencapai sekitar 90 juta orang. Semua warga NU memiliki kebutuhan yang bisa dikelola bersama. Di situlah sesungguhnya kekuatan ekonomi NU berada,” ujar Gus Yusuf.

Kebutuhan Warga Menjadi Pondasi Ekonomi NU

Menurut Gus Yusuf, setiap hari jutaan warga Nahdliyin membutuhkan berbagai kebutuhan pokok, seperti beras, minyak goreng, gula, pakaian, layanan pendidikan, kesehatan, hingga berbagai kebutuhan usaha mikro.

Apabila kebutuhan tersebut dipenuhi melalui jaringan usaha yang dibangun oleh warga NU sendiri, maka akan tercipta perputaran ekonomi dalam jumlah yang sangat besar.

“Potensi ekonomi itu dimulai dari hal-hal sederhana yang menjadi kebutuhan warga Nahdliyin. Jika kebutuhan tersebut dikelola dan dikoordinasikan bersama, akan lahir kekuatan ekonomi yang luar biasa,” katanya.

Ia menilai konsep tersebut merupakan bentuk nyata ekonomi kerakyatan yang berpijak pada kekuatan jamaah, bukan hanya mengandalkan investasi besar.

NU Harus Bermitra dengan Pelaku Usaha

Gus Yusuf menegaskan, NU tidak perlu berjalan sendiri dalam membangun kemandirian ekonomi. Organisasi ini justru perlu memperkuat kemitraan dengan pelaku usaha, koperasi, UMKM, pesantren, hingga dunia industri.

Menurutnya, besarnya jumlah warga NU merupakan pasar yang sangat potensial sehingga mampu menarik kerja sama bisnis yang saling menguntungkan.

“NU harus bekerja sama dengan pelaku usaha karena NU mempunyai pasar yang luar biasa besar. Jika dikelola dengan baik, manfaatnya akan kembali kepada warga Nahdliyin,” ujarnya.

Ia berharap kolaborasi tersebut mampu melahirkan ekosistem ekonomi NU yang kuat, mulai dari sektor produksi, distribusi, hingga konsumsi.

Kemandirian Dimulai dari Tingkat Ranting

Menurut Gus Yusuf, penguatan ekonomi NU harus dimulai dari tingkat paling bawah, yakni ranting, pesantren, majelis taklim, koperasi, hingga komunitas warga.

Dengan demikian, manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, sekaligus memperkuat posisi NU sebagai organisasi keagamaan yang tidak hanya berperan dalam bidang dakwah dan pendidikan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi umat.

“Kalau kebutuhan warga dikelola oleh warga sendiri, maka keuntungan ekonominya juga akan kembali kepada warga. Inilah yang harus menjadi gerakan bersama NU ke depan,” katanya.

Profil Singkat Gus Yusuf

KH. Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf merupakan Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, salah satu pesantren besar yang memiliki ribuan santri dari berbagai daerah di Indonesia.

Selain dikenal sebagai ulama dan pendidik, Gus Yusuf aktif mendorong penguatan ekonomi pesantren, pemberdayaan UMKM, pengembangan koperasi, serta penguatan kemandirian masyarakat berbasis nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Dalam dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, nama Gus Yusuf masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Berbagai gagasan yang diusungnya berfokus pada penguatan organisasi, peningkatan kualitas pendidikan pesantren, pengembangan ekonomi umat, transformasi digital, serta penguatan persatuan warga Nahdliyin.

Bagi Gus Yusuf, NU memiliki modal sosial yang sangat besar berupa jaringan pesantren, jutaan jamaah, ribuan masjid, lembaga pendidikan, hingga komunitas usaha yang tersebar di seluruh Indonesia. Potensi tersebut, menurutnya, harus disinergikan agar mampu menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga. (arief)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *