Yogyakarta, BOROBUDURCHANEL – Kabar duka datang dari keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU), khususnya Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi). Seniman sekaligus budayawan Nasirun wafat pada Sabtu (1/8/2026) pukul 05.58 WIB di Yogyakarta.
Informasi wafatnya perupa kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, 1 Oktober 1965 itu cepat menyebar di kalangan seniman dan pegiat budaya, termasuk melalui jaringan Lesbumi DIY. Jenazah almarhum disemayamkan di Rumah Sakit Asri Medical Center (AMC), Yogyakarta sebelum dimakamkan pada Sabtu pukul 14.00 WIB di Pemakaman Seniman Bantul.
Putri almarhum, Ima, membenarkan kabar duka tersebut.
“Benar, ayah saya akan dimakamkan hari ini,” ujarnya.
Bagi keluarga besar NU, Nasirun bukan hanya dikenal sebagai perupa dengan karya-karya yang mendunia, tetapi juga sebagai budayawan yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian kebudayaan Nusantara. Melalui berbagai forum kebudayaan yang digelar Lesbumi, ia kerap menyuarakan pentingnya merawat tradisi, merangkul keberagaman, serta menjadikan seni sebagai jalan menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
Dalam program Menjadi Indonesia yang ditayangkan NU Online pada 12 Juni 2026, Nasirun pernah menceritakan awal perjalanannya menempuh pendidikan seni di Yogyakarta. Ia mengaku memilih jurusan kriya karena terinspirasi lahirnya batik kontemporer Indonesia yang dipelopori Bambang Kuntoro.
“Saya masuk Jogja, sebelumnya bukan seni yang memantik saya, melainkan salah satunya lahirnya batik kontemporer Indonesia oleh Bambang Kuntoro. Jadi pilihan saya berubah, saya mengambil kriya. Kriya bukan sebagai jurusan yang kurang kritis, melainkan menuntut ketekunan dalam berkarya,” kenangnya.
Sepanjang hayatnya, Nasirun dikenal menghadirkan karya-karya yang memadukan nilai religius, tradisi Jawa, khazanah Islam Nusantara, serta pesan-pesan kemanusiaan. Baginya, seni bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan juga media dakwah kebudayaan yang memperkuat persaudaraan dan penghormatan terhadap akar tradisi bangsa.
Kepergian Nasirun menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi dunia seni rupa Indonesia, tetapi juga bagi keluarga besar Lesbumi dan Nahdlatul Ulama yang selama ini mengenalnya sebagai sosok seniman yang istiqamah merawat kebudayaan sebagai bagian dari ikhtiar membangun peradaban.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Al-Fatihah. (Nur Sidiq)










