
BOROBUDURCHANEL – MAGELANG – Pemerintah Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, kembali menggelar Saparan Desa Borobudur 2026, sebuah tradisi budaya tahunan yang menjadi wujud rasa syukur masyarakat sekaligus upaya melestarikan warisan leluhur. Mengusung tema “Saparan Borobudur, Tradisi Lestari, Desa Harmoni”, rangkaian kegiatan akan berlangsung mulai 18 hingga 25 Juli 2026 dengan menghadirkan agenda keagamaan, ritual adat, kirab budaya, hingga pertunjukan wayang kulit.
Saparan merupakan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Borobudur. Setiap tahunnya, tradisi ini menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan warga, memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta melestarikan budaya lokal yang telah menjadi bagian dari identitas Desa Borobudur.
- Manuskrip daun lontar berusia ratusan tahun di Dusun Kedakan, Pakis, Magelang, masih menyimpan misteri
- Ribuan Umat Buddha Padati Candi Mendut, Ikuti Kirab Asalha Mahapuja 2570 BE Menuju Candi Borobudur
- Polisi Amankan 8 Pelajar Diduga Terlibat Tawuran dan Membawa Sajam di Magelang, Dipicu Saling Tantang di Medsos

Selain memiliki nilai spiritual dan budaya, Saparan juga menjadi daya tarik wisata yang mampu menghadirkan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang datang ke kawasan Borobudur. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal di tengah perkembangan sektor pariwisata yang semakin pesat.
Berdasarkan jadwal yang dirilis Pemerintah Desa Borobudur, rangkaian kegiatan akan diawali pada Sabtu, 18 Juli 2026, melalui Pengajian Akbar yang dimulai pukul 19.00 WIB hingga selesai. Kegiatan tersebut menjadi pembuka seluruh rangkaian Saparan sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan.
Pengajian akbar diperkirakan akan dihadiri ratusan hingga ribuan jamaah dari Desa Borobudur maupun wilayah sekitarnya. Selain menjadi sarana dakwah, kegiatan ini juga menjadi doa bersama agar masyarakat diberikan keselamatan, kesehatan, serta keberkahan dalam menjalani kehidupan.
Memasuki agenda berikutnya, pada Kamis, 23 Juli 2026, akan digelar Kirab Ritual Tumpeng Saparan mulai pukul 07.30 WIB. Tradisi ini menjadi salah satu rangkaian paling sakral dalam pelaksanaan Saparan karena melibatkan prosesi membawa tumpeng hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas limpahan rezeki dan hasil pertanian yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.
Kirab tersebut juga menjadi simbol penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai budaya kepada masyarakat Borobudur. Dalam prosesi tersebut, masyarakat biasanya mengenakan pakaian adat Jawa sambil mengarak berbagai hasil bumi dan tumpeng yang nantinya didoakan bersama sebelum dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol keberkahan.
Puncak perayaan Saparan Desa Borobudur 2026 akan berlangsung pada Sabtu, 25 Juli 2026 melalui Kirab Budaya Warisan Leluhur Borobudur yang dilanjutkan dengan Pentas Wayang Kulit mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai.
Kirab budaya akan menampilkan berbagai kesenian tradisional, busana adat, serta atraksi budaya yang menggambarkan kekayaan tradisi masyarakat Borobudur. Berbagai kelompok seni dan pelaku budaya diperkirakan akan ikut ambil bagian untuk menampilkan kekayaan budaya yang telah diwariskan selama ratusan tahun.
Sementara itu, pertunjukan wayang kulit menjadi penutup rangkaian kegiatan Saparan. Kesenian tradisional tersebut dipilih karena memiliki nilai filosofi yang kuat serta menjadi bagian penting dari budaya Jawa yang hingga kini masih terus dilestarikan oleh masyarakat.
Kepala Desa Borobudur melalui informasi yang dipublikasikan Pemerintah Desa mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menyukseskan rangkaian kegiatan Saparan 2026. Partisipasi masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan tradisi yang telah menjadi identitas Desa Borobudur.
Selain menjadi agenda budaya, Saparan juga diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat. Kehadiran wisatawan selama rangkaian acara diperkirakan akan meningkatkan aktivitas pelaku usaha mikro, pedagang kuliner, pengrajin suvenir, jasa transportasi wisata, hingga pelaku ekonomi kreatif di kawasan Borobudur.
Penyelenggaraan Saparan Desa Borobudur 2026 turut mendapat dukungan dari berbagai pihak, di antaranya Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Magelang, pelaku usaha, BUMDes, serta sejumlah mitra yang selama ini mendukung pengembangan pariwisata berbasis budaya di Borobudur.
Melalui kolaborasi tersebut, Pemerintah Desa Borobudur berharap Saparan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi media edukasi budaya bagi generasi muda sekaligus sarana promosi destinasi wisata berbasis budaya yang dimiliki Kabupaten Magelang.
Dengan perpaduan kegiatan religius, ritual adat, kirab budaya, dan pertunjukan seni tradisional, Saparan Desa Borobudur 2026 diharapkan kembali menjadi salah satu agenda budaya unggulan di Kabupaten Magelang. Tradisi ini membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pengembangan pariwisata, sehingga nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap terjaga sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. (tajumena)









