BOROBUDURCHANEL.COM – REMBANG – Sebanyak 101 siswa dan guru SMP Negeri 5 Rembang, Jawa Tengah, diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa tersebut kini masih dalam penyelidikan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang untuk memastikan penyebabnya.
Program MBG di SMPN 5 Rembang melayani 764 penerima manfaat yang terdiri atas siswa dan guru. Menu yang dibagikan saat itu meliputi telur balado, oseng tempe, lalapan, semangka, dan susu.
Sehari setelah makanan didistribusikan, puluhan siswa mulai mengeluhkan sakit perut dan diare.
Berdasarkan data sekolah, 94 siswa tidak masuk sekolah karena mengalami gangguan kesehatan. Selain itu, 42 siswa yang sempat mengikuti kegiatan belajar mengajar terpaksa dipulangkan lebih awal setelah kondisi kesehatannya memburuk.
Gangguan serupa juga dialami tenaga pendidik. Sebanyak tujuh guru dilaporkan mengalami gejala yang sama, terdiri atas dua guru yang tidak masuk sejak pagi dan lima guru lainnya pulang lebih awal karena sakit.
Kepala SMP Negeri 5 Rembang, Menik Mustikatun, membenarkan jumlah warga sekolah yang mengalami gangguan kesehatan. Namun, ia menegaskan penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
“Mohon maaf, menunggu hasil cek DKK dari SPPG. Fakta jumlah betul, tetapi penyebab masih menunggu hasil cek dari DKK,” ujar Menik.
Dinkes Langsung Sidak Dapur MBG
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mondoteko 3 Rembang, yang memproduksi makanan untuk SMPN 5 Rembang.
Subkoordinator Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Kesehatan Olahraga Dinkes Rembang, Al Furqon, mengatakan pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh mulai dari bahan baku, proses pengolahan hingga penyajian makanan.
“Hari ini tugas kami melihat secara keseluruhan, mulai dari bahan sampai proses kemudian bagaimana itu kita lihat semua,” katanya.
Petugas juga mengamankan sampel makanan dan air minum yang disajikan kepada para siswa untuk diperiksa di laboratorium di Semarang.
Menurut Al Furqon, hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan baru akan diketahui dalam waktu satu hingga dua pekan.
“Hasilnya karena ada beberapa sampel yang harus diperiksakan di Semarang, jadi antara satu sampai dua mingguan baru keluar,” jelasnya.
Ditemukan Catatan Penerapan SOP
Meski belum menyimpulkan penyebab dugaan keracunan, Dinkes menemukan sejumlah catatan dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP) di dapur SPPG.
Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain kedisiplinan relawan dalam menerapkan prosedur keamanan pangan serta sistem penyimpanan bahan makanan yang dinilai masih perlu ditingkatkan.
“Tingkat kedisiplinan para relawan perlu ditingkatkan, dan juga cara penyimpanan bahan masih harus ditingkatkan lagi supaya lebih aman,” ujar Al Furqon.
Dinkes meminta seluruh relawan lebih disiplin mencuci tangan sesuai prosedur, menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker dan penutup kepala, serta membatasi akses orang luar ke area dapur demi menjaga higienitas makanan.
Sementara itu, Koordinator Wilayah SPPG Rembang, Aprilia Qoulan Syakila, belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Pemerintah memastikan investigasi akan terus dilakukan untuk menjamin keamanan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Rembang. (Aris Munandar)










