Warga Lereng Merapi Gelar Saparan, Bawa 50 Ingkung sebagai Wujud Syukur

Warga Lereng Merapi Gelar Saparan Bawa 50 Ingkung sebagai Wujud Syukur
Warga Lereng Merapi Gelar Saparan, Bawa 50 Ingkung sebagai Wujud Syukur. (Foto, Istimewa)
banner 468x60

BOROBUDURCHANEL.COM. – MAGELANG – Warga Dusun Trayem, Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, kembali menggelar tradisi Merti Dusun Saparan sebagai wujud syukur atas hasil panen, keselamatan, dan keberkahan yang diterima sepanjang tahun.

Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini digelar setiap bulan Sapar dalam penanggalan Jawa. Tahun ini, Saparan berlangsung pada Rabu Wage, Rabu (5/8/2026), dengan melibatkan puluhan warga yang membawa 50 ingkung ayam kampung untuk kenduri bersama.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Rangkaian acara diawali dari rumah Kepala Dusun Trayem, Giyanto, kemudian dilanjutkan prosesi doa bersama yang dipimpin Kiai Suwandi di lokasi kenduri.

Bawa 50 Ingkung Ayam Kampung

Suasana kenduri berlangsung khidmat. Setiap keluarga membawa satu ingkung ayam kampung sebagai sajian utama yang kemudian didoakan bersama.

Tokoh masyarakat Dusun Trayem, Browsuwarno, mengatakan sebelum pelaksanaan Saparan, seluruh warga terlebih dahulu menyembelih ayam di rumah masing-masing untuk dibuat menjadi ingkung.

“Sebelum merti dusun Saparan, warga menyembelih ayam sendiri untuk dibuat ingkung. Tahun ini ada sekitar 50 ayam yang disembelih,” kata Browsuwarno.

Usai doa bersama, seluruh ingkung dibawa pulang kembali untuk disantap bersama keluarga sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Menurutnya, setiap keluarga membawa satu ingkung ke lokasi kenduri, sementara di rumah mereka juga menyiapkan beberapa ingkung lainnya untuk disajikan kepada keluarga besar maupun kerabat yang datang bersilaturahmi.

“Yang dibawa ke kenduri satu ingkung setiap keluarga. Di rumah masih ada tiga sampai lima ingkung untuk dinikmati bersama keluarga,” ujarnya.

Jaga Tradisi dan Gotong Royong

Selain menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tradisi Saparan juga menjadi momentum mempererat tali silaturahmi dan memperkuat nilai gotong royong antarwarga.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap adat warisan leluhur, masyarakat Dusun Trayem bahkan menghentikan aktivitas bertani selama dua hari selama rangkaian Saparan berlangsung.

“Tradisi ini bukan sekadar acara tahunan, tetapi juga menjadi sarana menjaga kebersamaan warga dan melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur,” tutur Browsuwarno.

Ditutup Pentas Brodut Bregodo Muda

Setelah prosesi adat dan kenduri selesai, warga menikmati hiburan rakyat berupa pertunjukan Brodut Bregodo Muda dari Kecamatan Srumbung.

Kesenian tersebut menjadi penutup rangkaian Merti Dusun Saparan yang berlangsung meriah dan penuh kebersamaan, sekaligus menjadi daya tarik bagi masyarakat sekitar yang turut menyaksikan jalannya tradisi di lereng Gunung Merapi. (*)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *