BOROBUDURCHANEL.COM – Nama Kyai Ageng Gribig memiliki tempat istimewa dalam sejarah perkembangan Islam di Pulau Jawa. Sosok ulama kharismatik yang hidup pada masa Kesultanan Mataram itu dikenal luas karena pendekatan dakwahnya yang damai, bijaksana, dan mampu menyatu dengan kehidupan masyarakat.
Hingga kini, jejak perjuangan Kyai Ageng Gribig masih dapat dijumpai di Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kompleks makam beserta masjid kuno peninggalannya menjadi salah satu destinasi wisata religi yang ramai didatangi peziarah dari berbagai daerah.
Tak hanya untuk berziarah, masyarakat juga datang mengenang jasa sang ulama yang dinilai berperan besar dalam memperkuat syiar Islam di wilayah Jawa bagian tengah. Kawasan tersebut menjadi simbol perjalanan dakwah yang mengedepankan keteladanan, kebersamaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Salah satu warisan budaya paling dikenal dari Kyai Ageng Gribig adalah tradisi Yaa Qowiyyu, sebuah perayaan yang identik dengan pembagian ribuan apem kepada masyarakat.
Tradisi tersebut berawal ketika Kyai Ageng Gribig kembali dari Tanah Suci dengan membawa kue apem sebagai buah tangan. Karena jumlah apem yang dibawa tidak mencukupi untuk seluruh warga, beliau kemudian membuat apem dalam jumlah yang lebih banyak agar dapat dibagikan kepada masyarakat secara merata.
Sejak saat itu, pembagian apem menjadi simbol sedekah, rasa syukur, kebersamaan, serta saling memaafkan. Nilai-nilai tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga menjadi tradisi yang tetap lestari sampai sekarang.
Setiap penyelenggaraan Yaa Qowiyyu, kawasan Jatinom selalu dipadati ribuan peziarah dan wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka datang bukan hanya untuk mendapatkan apem yang diyakini membawa keberkahan, tetapi juga menyaksikan prosesi budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Tradisi ini menjadi perpaduan harmonis antara nilai keagamaan, sejarah, dan budaya lokal yang terus dijaga oleh masyarakat Jatinom. Kehadirannya juga memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata religi dan perekonomian masyarakat setempat.
Warisan Kyai Ageng Gribig tidak berhenti pada peninggalan fisik berupa makam dan masjid kuno. Lebih dari itu, beliau meninggalkan teladan tentang pentingnya berdakwah dengan kelembutan, menguatkan persaudaraan, serta menumbuhkan kepedulian sosial melalui tindakan nyata.
Di tengah perkembangan zaman, nilai-nilai yang diwariskan Kyai Ageng Gribig tetap relevan. Semangat berbagi, keikhlasan, dan dakwah yang menebarkan kedamaian menjadi pesan yang terus hidup melalui tradisi **Yaa Qowiyyu**, menjadikan Jatinom sebagai salah satu pusat wisata religi dan budaya yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Jawa maupun umat Islam di Indonesia.***










