BOROBUDURCHANEL.COM – MAGELANG – Tradisi Saparan di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, kembali digelar meriah pada Rabu (29/7/2026). Demi mempertahankan tradisi warisan leluhur, setiap kepala keluarga (KK) rela mengeluarkan biaya rata-rata hingga Rp5 juta untuk kenduri dan menjamu ribuan tamu yang datang bersilaturahmi.
Rangkaian Saparan diawali dengan kirab budaya yang membawa ingkung, tumpeng, serta tiga gunungan berisi sayuran dan hasil bumi. Arak-arakan dimulai dari ujung dusun menuju rumah Kepala Dusun Mantran Wetan, Handoko, yang menjadi lokasi kenduri bersama.
Sepanjang perjalanan, warga membawa ingkung dan tumpeng dari rumah masing-masing. Prosesi berlangsung khidmat sekaligus meriah dengan antusiasme masyarakat yang mengikuti kirab hingga selesai.
Persiapan Dilakukan Tiga Bulan
Salah seorang warga, Giyanto (40), mengatakan persiapan Saparan telah dimulai sekitar tiga bulan sebelum pelaksanaan.
Selain menanam berbagai jenis sayuran untuk gunungan, warga juga bergotong royong membersihkan lingkungan, menyiapkan kenduri, hingga membuat berbagai instalasi pendukung acara.
“Persiapan dilakukan minimal tiga bulan sebelumnya. Selain berkebun dan menanam sayuran, warga juga menyiapkan kenduri, pemuda membuat instalasi, hingga kerja bakti,” ujar Giyanto.
Menurutnya, biaya yang dikeluarkan setiap keluarga rata-rata mencapai Rp5 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk iuran dusun, kebutuhan kenduri, hingga menjamu sanak saudara yang datang berkunjung.
Sembelih Lima Ekor Ayam
Giyanto mengaku menyembelih lima ekor ayam jago untuk menyambut Saparan. Satu ekor dijadikan ingkung untuk kenduri bersama, sedangkan empat ekor lainnya disiapkan sebagai hidangan bagi tamu.
“Per ekor harganya sekitar Rp150 ribu sampai Rp200 ribu. Yang paling banyak memang untuk menjamu sanak saudara yang datang,” katanya.
Warisan Leluhur yang Terus Dijaga
Kepala Dusun Mantran Wetan, Handoko, mengatakan tradisi Saparan terus dipertahankan sebagai bentuk pelestarian budaya leluhur.
Saparan di Mantran Wetan secara turun-temurun selalu dilaksanakan pada Rabu Pahing, yang diyakini sebagai hari terbaik berdasarkan ilmu titen atau pengalaman para leluhur.
Setiap keluarga diwajibkan membawa satu ingkung untuk kenduri bersama. Sementara jumlah ayam yang disembelih di rumah disesuaikan dengan kemampuan masing-masing keluarga.
Dusun Mantran Wetan dihuni sekitar 163 kepala keluarga. Menurut Handoko, kemeriahan Saparan bahkan melebihi suasana Lebaran karena seluruh warga dan sanak saudara berkumpul dalam satu hari.
Selain kenduri dan kirab budaya, perayaan juga dimeriahkan berbagai kesenian tradisional seperti wayang, jaran kepang papat, dan pertunjukan seni rakyat lainnya. (*)










