BOROBUDURCHANEL.COM – MAGELANG – Sebuah manuskrip daun lontar yang diperkirakan berusia ratusan tahun masih tersimpan rapi di Dusun Kedakan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Hingga kini, isi tulisan pada naskah kuno tersebut masih menjadi misteri karena belum ada pihak yang benar-benar mampu membaca maupun menerjemahkannya.
Naskah kuno itu disimpan dengan sangat hati-hati menggunakan kain mori dan diletakkan di dalam kotak wayang jimat di rumah Mbah Dalang, Ki Supoyo. Keberadaannya menjadi salah satu warisan budaya yang diyakini memiliki nilai sejarah tinggi.
Dusun Kedakan sendiri merupakan salah satu dusun tertinggi di Kabupaten Magelang dengan ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut. Lokasinya berada di jalur pendakian Gunung Merbabu dan dikenal sebagai kawasan yang menyimpan berbagai cerita sejarah, termasuk keberadaan Padepokan Ki Hajar Doko.
Kepala Desa Kenalan, Joko Santoso, mengatakan hingga saat ini isi manuskrip tersebut masih belum dapat dipastikan.
“Yang mana dari isi tulisan yang tertera di daun lontar ini sampai dengan saat ini belum bisa ada yang menerjemahkan ataupun bahkan membaca,” kata Joko Santoso, Minggu (26/7/2026).
Menurutnya, sejumlah peneliti dari berbagai perguruan tinggi pernah melakukan penelitian terhadap manuskrip tersebut. Namun hasil pembacaan yang diperoleh justru selalu berubah.
“Dulu pernah ada beberapa mahasiswa dari UI, UGM, dan IPB mengadakan penelitian. Ketika tahun berikutnya dibaca, hasilnya sudah berbeda-beda lagi. Ganti tahun, ganti tahun artinya sudah berbeda-beda,” ujarnya.
Keunikan lain terdapat pada bentuk fisik manuskrip. Daun lontar tersebut memiliki lebar sekitar 4–5 sentimeter dengan panjang kurang lebih 30 sentimeter.
Tulisan yang diperkirakan menggunakan aksara Jawa-Buddha itu bukan ditulis menggunakan tinta, melainkan diukir langsung pada permukaan daun lontar.
“Istimewanya, tulisan itu berupa ukiran. Padahal daun lontarnya sangat tipis, tetapi ukiran tersebut tidak sampai tembus ke sisi belakang,” jelas Joko.
Temuan terbaru datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Awal Juli 2026, tim peneliti BRIN datang langsung ke Dusun Kedakan untuk membandingkan manuskrip tersebut dengan koleksi naskah kuno yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas).
Hasil pengecekan awal menunjukkan adanya kemiripan yang cukup kuat.
“Dari BRIN ketika sampai Kedakan, ternyata ketika dilihat dari tulisannya cocok dengan yang berada di Perpusnas Jakarta,” kata Joko.
Menurutnya, sebagian koleksi naskah di Perpusnas telah berhasil diteliti dan dibaca. Dari sekitar 1.486 naskah yang terdokumentasi, terdapat indikasi kuat bahwa asal-usulnya berkaitan dengan Dusun Kedakan.
“Berdasarkan penelitian ternyata semua bersumber dari Dusun Kedakan. Yang mana bisa diketahui dari Kedakan semua tertera nama Simbah Ki Hajar Doko,” ungkapnya.
Temuan tersebut membuka peluang baru bagi penelitian sejarah dan filologi Nusantara. Jika penelitian lanjutan berhasil mengungkap isi manuskrip tersebut, bukan tidak mungkin Dusun Kedakan akan menjadi salah satu pusat penting dalam sejarah naskah kuno di Indonesia. (*)










