BOROBUDURCHANEL.COM – Gelombang Reformasi 1998 menjadi titik balik perjalanan banyak tokoh bangsa, termasuk tiga sahabat yang tumbuh dari lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), yakni KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Muhaimin Iskandar (Cak Imin), dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul).
Jika pada dekade 1990-an mereka dikenal sebagai kader muda yang aktif berdiskusi, mengikuti kaderisasi, dan belajar langsung kepada KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), maka setelah Reformasi ketiganya mulai menempuh jalan pengabdian yang berbeda. Ada yang memilih jalur politik, organisasi kemasyarakatan, hingga pemerintahan.
Perbedaan pilihan itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Semuanya berawal dari perubahan besar yang dialami Indonesia setelah berakhirnya pemerintahan Orde Baru.
Reformasi Membuka Babak Baru
Lengsernya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 membuka ruang demokrasi yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia.
Organisasi kemasyarakatan, kelompok mahasiswa, hingga tokoh-tokoh agama mulai mengambil peran dalam membangun sistem politik yang lebih demokratis.
Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Gus Dur menjadi salah satu tokoh sentral yang ikut mendorong proses transisi demokrasi. Bersama para kiai sepuh NU, ia memberikan ruang kepada kader-kader muda untuk ikut berkontribusi membangun kehidupan politik nasional.
Momentum inilah yang kemudian mengubah perjalanan Gus Yahya, Cak Imin, dan Gus Ipul.
Lahirnya PKB, Cak Imin Memilih Jalur Politik
Salah satu peristiwa penting pasca-Reformasi adalah lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada 23 Juli 1998.
PKB didirikan atas prakarsa sejumlah ulama NU sebagai wadah politik bagi aspirasi warga nahdliyin, meskipun secara kelembagaan NU tetap berpegang pada Khittah 1926 sebagai organisasi kemasyarakatan keagamaan yang tidak berafiliasi dengan partai politik.
Di tengah proses pendirian partai tersebut, Muhaimin Iskandar menjadi salah satu kader muda yang aktif membangun organisasi sejak awal.
Berbekal pengalaman sebagai aktivis PMII dan jaringan yang luas di kalangan pemuda NU, Cak Imin perlahan menapaki karier politik di PKB.
Namanya mulai dikenal ketika dipercaya menjadi anggota DPR RI. Dari sana, karier politiknya terus meningkat hingga akhirnya dipercaya memimpin PKB sebagai Ketua Umum.
Di bawah kepemimpinannya, PKB berkembang menjadi salah satu partai besar di Indonesia dengan basis utama warga nahdliyin.
Gus Yahya Tetap Mengabdi di Jalur Pemikiran
Berbeda dengan Cak Imin yang memilih dunia politik praktis, Gus Yahya lebih banyak mengabdikan diri di bidang pemikiran, organisasi, dan diplomasi.
Ketika Gus Dur terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia pada 1999, Gus Yahya dipercaya menjadi Juru Bicara Presiden.
Jabatan tersebut membuatnya terlibat langsung dalam berbagai agenda kenegaraan, termasuk menyampaikan pandangan Presiden kepada publik serta mengikuti sejumlah misi diplomasi internasional.
Setelah masa pemerintahan Gus Dur berakhir, Gus Yahya tidak langsung terjun ke politik elektoral.
Ia lebih banyak aktif dalam berbagai forum internasional yang membahas perdamaian dunia, dialog antaragama, serta pengembangan pemikiran Islam yang moderat.
Kiprah tersebut membuat namanya dikenal tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai forum internasional.
Di lingkungan NU, Gus Yahya juga aktif dalam proses kaderisasi, pendidikan, dan penguatan organisasi hingga akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-34 NU di Lampung pada Desember 2021.
Gus Ipul Meniti Karier di Pemerintahan
Sementara itu, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengambil jalan yang berbeda.
Ia lebih memilih berkiprah melalui pemerintahan dan organisasi kepemudaan.
Karier organisasinya berkembang ketika dipercaya memimpin Gerakan Pemuda Ansor. Dari organisasi kepemudaan NU tersebut, Gus Ipul dikenal sebagai salah satu tokoh muda yang memiliki kemampuan komunikasi dan manajemen organisasi.
Karier politik dan pemerintahannya dimulai ketika dipercaya menjadi Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal pada Kabinet Indonesia Bersatu.
Setelah itu, ia menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur selama dua periode mendampingi Gubernur Soekarwo.
Usai menyelesaikan masa tugas di Jawa Timur, Gus Ipul terpilih sebagai Wali Kota Pasuruan.
Di lingkungan NU, ia kemudian dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal PBNU sebelum akhirnya mendapat amanah sebagai Menteri Sosial Republik Indonesia.
Tiga Jalan Pengabdian
Memasuki dekade 2000-an, semakin terlihat bahwa ketiga sahabat tersebut memilih medan pengabdian yang berbeda.
Gus Yahya lebih fokus membangun organisasi Nahdlatul Ulama dan memperkuat diplomasi keagamaan di tingkat internasional.
Cak Imin berkonsentrasi membesarkan PKB sebagai partai politik yang memiliki basis kuat di kalangan warga NU.
Sedangkan Gus Ipul memadukan pengalaman organisasi dengan pengabdian di pemerintahan, mulai dari kementerian, pemerintah daerah, hingga akhirnya kembali dipercaya menjadi menteri.
Meskipun berbeda jalan, komunikasi di antara mereka tetap terjalin dengan baik.
Dalam berbagai kesempatan, ketiganya masih kerap bertemu dalam forum-forum NU maupun kegiatan kebangsaan.
Persahabatan yang Tetap Terjaga
Perbedaan pilihan karier tidak serta-merta menghilangkan kedekatan yang telah terbangun sejak muda.
Gus Yahya pernah mengenang bahwa dirinya, Cak Imin, dan Gus Ipul merupakan bagian dari generasi yang ditempa langsung oleh Gus Dur untuk berpikir terbuka, menghargai perbedaan, dan tetap mengutamakan persaudaraan.
Semangat itulah yang membuat hubungan mereka tetap berjalan baik meskipun masing-masing memiliki tanggung jawab yang berbeda.
Namun, memasuki pertengahan dekade 2000-an hingga setelah Gus Yahya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada 2021, dinamika hubungan antara organisasi NU dan PKB mulai mengalami perubahan.
Perbedaan pandangan mengenai relasi NU dan PKB, ditambah dinamika politik nasional, membuat ketiga tokoh tersebut beberapa kali berada pada posisi yang berbeda dalam menyikapi berbagai persoalan.
Perjalanan yang semula dipenuhi kisah persahabatan perlahan memasuki fase baru yang lebih kompleks. Hubungan antara organisasi, politik, dan pemerintahan mulai saling bersinggungan, menghadirkan dinamika yang menjadi perhatian publik. (arief)
Bersambung ke Bagian III: Dari Sahabat hingga Berbeda Sikap, Begini Dinamika Hubungan Gus Yahya, Cak Imin, dan Gus Ipul.










