BOROBUDURCHANEL.COM – MAGELANG – Toleransi atau tasamuh merupakan salah satu prinsip utama dalam ajaran Nahdlatul Ulama (NU) yang terus dijaga dan diwariskan sebagai fondasi kehidupan beragama di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Nilai tersebut tidak hanya menjadi konsep keagamaan, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari oleh para tokoh NU.
Salah satu sosok yang dikenal konsisten mengamalkan nilai tersebut adalah KH Yusuf Chudzori atau yang akrab disapa Gus Yusuf. Sebagai penerus perjuangan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam merawat keberagaman, Gus Yusuf dikenal memiliki hubungan baik dengan berbagai tokoh lintas agama.
Salah satunya adalah kedekatan Gus Yusuf adalah dengan tokoh agama Buddha, Bhante Sri Pannavaro Mahathera. Keduanya kerap berdialog mengenai nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, serta pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama di Indonesia.
Dalam pandangan Nahdlatul Ulama, tasamuh berarti memiliki sikap toleran, lapang dada, serta menghormati perbedaan pandangan, baik dalam persoalan keagamaan, sosial, maupun budaya. Sikap tersebut dijalankan tanpa mengurangi keyakinan terhadap ajaran agama yang dianut masing-masing.
Prinsip tasamuh juga diwujudkan dengan memberikan kebebasan kepada pemeluk agama lain untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya. Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat dapat berlangsung harmonis di tengah berbagai perbedaan.
Bagi NU, toleransi bukan sekadar menghargai perbedaan, tetapi juga menjadi perekat tiga bentuk persaudaraan, yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah Basyariyah (persaudaraan kemanusiaan).
Nilai tasamuh berjalan beriringan dengan prinsip tawasuth (bersikap moderat) dan tawazun (menjaga keseimbangan), sehingga umat Islam diajak untuk bersikap bijaksana dalam menyikapi keberagaman yang menjadi bagian dari kehidupan bangsa Indonesia.
Melalui semangat tersebut, perbedaan tidak dipandang sebagai alasan untuk saling menjauh, melainkan menjadi kesempatan untuk saling mengenal, memahami, dan membangun persaudaraan.
Agama boleh berbeda, namun nilai kemanusiaan menjadi rumah bersama. Ketika hati dipenuhi kasih sayang, maka yang tumbuh bukanlah kebencian, melainkan rasa persaudaraan yang mampu memperkuat persatuan bangsa.
Semangat inilah yang terus diwariskan oleh para ulama NU sebagai bagian dari ikhtiar menjaga Indonesia tetap damai, rukun, dan harmonis. Sebab, kedamaian tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan setiap orang untuk saling menghormati, saling mendengar, dan saling mendoakan dalam kebaikan. (kangjeep)










