BOROBUDURCHANEL.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang memanfaatkan momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 untuk menanamkan budaya sadar bencana kepada peserta didik baru. Selama sepekan, mulai 13 hingga 17 Juli 2026, tim BPBD memberikan edukasi kebencanaan di berbagai sekolah dengan mengusung tema “Siap untuk Selamat”.
Program tersebut bertujuan membangun kesadaran, kepedulian, dan kesiapsiagaan peserta didik terhadap berbagai potensi bencana yang dapat terjadi di lingkungan sekitar. Melalui metode penyampaian yang interaktif, para siswa diajak memahami langkah-langkah penyelamatan diri sekaligus berlatih menghadapi situasi darurat.
Selama lima hari pelaksanaan, BPBD Kabupaten Magelang menyelenggarakan edukasi di 17 satuan pendidikan, mulai jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dan pondok pesantren. Sekolah yang menjadi lokasi kegiatan antara lain SD Tanjungsari Borobudur, SMP Syubbanul Wathon, SD Pabelan 3, SMP Negeri 1 Tegalrejo, SD Zaid bin Tsabit 3, SD Somokaton 2, SMA Negeri 1 Kota Mungkid, SD Negeri Sumber, SMP Ma’arif Borobudur, SMA Negeri 2 Grabag, Pondok Pesantren MTs MA Al Iman Muntilan, MAN 1 Kabupaten Magelang, SMA Negeri 1 Mertoyudan, SMP Islam Terpadu Harapan Insan Sawangan, SD Rambeanak 1, dan SD Paripurno Salaman.
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh materi mengenai berbagai jenis bencana yang berpotensi terjadi di Kabupaten Magelang, langkah-langkah mitigasi, kesiapsiagaan, hingga simulasi gempa bumi yang dilanjutkan dengan praktik evakuasi menuju titik kumpul yang aman.
Melalui pendekatan teori dan praktik secara langsung, BPBD berharap peserta didik tidak hanya memahami konsep kebencanaan, tetapi juga memiliki keterampilan mengambil keputusan dengan cepat dan tepat ketika menghadapi kondisi darurat.
Program edukasi ini juga menjadi bagian dari dukungan BPBD Kabupaten Magelang terhadap implementasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Program SPAB menitikberatkan pada tiga aspek utama, yakni tersedianya fasilitas sekolah yang aman, pengelolaan risiko bencana yang terencana, serta pendidikan kebencanaan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Dengan penerapan konsep tersebut, sekolah diharapkan mampu menjadi lingkungan belajar yang aman sekaligus memiliki sistem perlindungan bagi seluruh warga sekolah ketika terjadi bencana.
Kepala SD Zaid bin Tsabit 3, Siti Muslimah, mengapresiasi kegiatan edukasi yang diberikan BPBD kepada peserta didiknya.
“Semuanya nampak antusias dari proses sosialisasi hingga simulasi, semoga anak-anak bisa menerapkan di kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
BPBD Kabupaten Magelang menilai meningkatnya permintaan sosialisasi kebencanaan dari berbagai sekolah menjadi indikator tumbuhnya kesadaran akan pentingnya pengurangan risiko bencana sejak usia dini. Kondisi tersebut sekaligus menjadi dorongan bagi BPBD untuk terus memperluas jangkauan edukasi kebencanaan di lingkungan pendidikan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Bambang Hermanto, mengatakan pendidikan kebencanaan merupakan investasi jangka panjang dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.
Menurutnya, anak-anak memiliki peran penting sebagai agen perubahan yang dapat menyebarluaskan pengetahuan mengenai kesiapsiagaan kepada keluarga maupun masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap peserta didik mampu mengenali potensi ancaman bencana di sekitarnya, memahami langkah mitigasi dan penyelamatan diri, serta menjadi agen penyebarluasan budaya sadar bencana di lingkungan keluarga maupun masyarakat,” kata Bambang.
Ia berharap semangat “Siap untuk Selamat” tidak berhenti selama pelaksanaan MPLS, tetapi terus menjadi budaya di lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, akan lahir generasi muda Kabupaten Magelang yang lebih siap, tangguh, dan mampu mengurangi risiko bencana sejak dini.(*)










