Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Ini 4 Maqbarah Ulama yang Bisa Diziarahi

Makam buyut Gus Dur KH Usman di kawasan Tambakberas Jombang. Foto Istimewa
Makam buyut Gus Dur, KH Usman, di kawasan Tambakberas Jombang. (Foto _ Istimewa)
banner 468x60

BOROBUDURCHANEL.CHANEL.COM – JOMBANG – Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, bukan hanya menjadi pusat pendidikan Islam yang telah melahirkan banyak ulama. Pesantren dengan sejarah panjang sejak abad ke-19 ini juga menyimpan jejak perjuangan para masyayikh yang memiliki hubungan erat dengan sejarah Nahdlatul Ulama (NU) dan perkembangan pesantren di Jawa Timur.

Di tengah rangkaian Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Bahrul Ulum, para muktamirin maupun pengunjung dapat menyempatkan diri melakukan wisata religi dengan berziarah ke sejumlah maqbarah tokoh penting.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Sedikitnya ada empat maqbarah yang dapat dikunjungi, yakni makam KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Abdul Fattah Hasyim, KH Abdul Hamid Chasbullah, dan KH Usman.

Keempat tokoh tersebut memiliki perjalanan hidup, kiprah keilmuan, serta hubungan kekerabatan yang memperlihatkan kesinambungan tradisi keilmuan dan kepesantrenan di Tambakberas dari generasi ke generasi.

1. Maqbarah KH Abdul Wahab Chasbullah

Nama KH Abdul Wahab Chasbullah tidak dapat dipisahkan dari sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum maupun NU.

Pahlawan Nasional tersebut lahir di lingkungan Pesantren Tambakberas, Jombang, pada 17 Oktober 1887. Mbah Wahab merupakan putra sulung KH Chasbullah Said dan Nyai Lathifah.

Dari keluarga tersebut kemudian lahir sejumlah tokoh pesantren yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan Islam di Indonesia.

Mbah Wahab dikenal sebagai salah satu tokoh sentral dalam pendirian dan penggerakan NU. Kiprahnya tidak hanya berlangsung di lingkungan pesantren, tetapi juga mencakup pendidikan, sosial, kebangsaan, dan perjuangan organisasi.

Menjelang Muktamar NU ke-35, tradisi ziarah ke makam Mbah Wahab kembali menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

Pada 26 Agustus 2026, misalnya, KH Ma’ruf Amin juga berziarah ke makam Mbah Wahab di Pondok Pesantren Bahrul Ulum sebagai bagian dari rangkaian pra-Muktamar.

2. Maqbarah KH Abdul Fattah Hasyim

Maqbarah berikutnya adalah makam KH Abdul Fattah Hasyim, salah seorang masyayikh penting dalam perkembangan pendidikan di Bahrul Ulum.

KH Abdul Fattah Hasyim lahir di Kapas, Jombang, pada 1911. Ia merupakan putra KH Hasyim Idris dan Nyai Fathimah Hasbullah.

Dari jalur ibunya, Kiai Fattah memiliki hubungan keluarga dengan KH Abdul Wahab Chasbullah.

Kiai Fattah dikenal sebagai sosok yang istiqamah dalam mengajar. Dedikasinya terhadap pendidikan membuatnya dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan pendidikan pesantren di Tambakberas.

Selain mengajar para santri, Kiai Fattah juga dekat dengan masyarakat.

Pada 1964, ia mengadakan pengajian rutin yang dilaksanakan secara bergiliran dari satu langgar ke langgar lainnya. Tradisi pengajian tersebut bahkan terus berlangsung setelah Kiai Fattah wafat.

Kiai Fattah wafat pada 27 April 1977 dan dimakamkan di Tambakberas.

Kompleks makamnya menjadi salah satu maqbarah yang dapat dikunjungi untuk mengenang sosok ulama yang memberikan perhatian besar terhadap pendidikan dan kehidupan masyarakat.

3. Maqbarah KH Abdul Hamid Chasbullah

Tidak jauh dari jejak keluarga besar Mbah Wahab, terdapat maqbarah KH Abdul Hamid Chasbullah.

Kiai Hamid merupakan putra kedua dari delapan bersaudara pasangan KH Chasbullah Said dan Nyai Lathifah. Dengan demikian, ia merupakan adik kandung KH Abdul Wahab Chasbullah.

Dalam keluarga tersebut juga terdapat Nyai Khadijah yang kemudian menjadi istri KH Bisri Syansuri, salah satu pendiri NU sekaligus pendiri Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar.

Kiai Hamid menempuh pendidikan di sejumlah pesantren, antara lain Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Langitan, Tebuireng, dan Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH Munawwir.

Perjalanan keilmuannya kemudian berlanjut hingga Makkah.

Kiai Hamid wafat pada 18 April 1956. Semasa hidup, ia dikenal sebagai sosok yang zuhud, wara’, sederhana, dan istiqamah dalam berkhidmat kepada pesantren.

Ia juga memiliki perhatian besar terhadap Al-Qur’an. Salah satu peninggalannya adalah mushaf Al-Qur’an 30 juz yang ditulis dengan tangan sendiri.

Maqbarah Kiai Hamid menjadi salah satu tempat yang memperlihatkan eratnya hubungan sejarah keluarga besar Tambakberas, tradisi keilmuan pesantren, dan perjalanan awal NU.

4. Maqbarah KH Usman, Leluhur Keluarga Besar Pesantren

Maqbarah keempat adalah makam KH Usman, salah seorang tokoh dalam mata rantai sejarah pesantren di Tambakberas dan Gedang.

Kiai Usman merupakan menantu KH Abdussalam atau Mbah Shoichah, salah satu perintis awal pesantren di kawasan Tambakberas.

Kiai Usman menikah dengan Nyai Layyinah, putri KH Abdussalam. Dari pernikahan tersebut lahir Nyai Halimah atau Winih.

Nyai Halimah kemudian menikah dengan KH Asy’ari. Dari pasangan inilah lahir KH Hasyim Asy’ari, ulama besar yang kelak mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng dan menjadi salah satu pendiri NU.

Dengan demikian, KH Usman merupakan kakek KH Hasyim Asy’ari.

Garis keturunan tersebut kemudian berlanjut hingga KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Karena KH Hasyim Asy’ari merupakan kakek Gus Dur, KH Usman berada pada garis leluhur Gus Dur sebagai kakek buyut atau canggah dari Presiden keempat Republik Indonesia tersebut.

Kiai Usman dikenal memiliki perhatian besar terhadap tasawuf. Kiprahnya juga menjadi bagian dari mata rantai keilmuan yang menghubungkan sejarah Tambakberas dan Tebuireng.

Ziarah Sambil Mengenal Sejarah Tambakberas

Keberadaan empat maqbarah tersebut menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Bahrul Ulum bukan hanya tempat berlangsungnya pendidikan pesantren.

Di dalam kawasan tersebut tersimpan jejak panjang perjalanan ulama, keluarga pesantren, pendidikan Islam, hingga perjuangan kebangsaan.

Karena itu, di tengah kesibukan mengikuti Muktamar NU ke-35, para muktamirin maupun pengunjung dapat menyempatkan waktu untuk wisata religi dan berziarah ke sejumlah maqbarah tersebut.

Ziarah bukan sekadar mengunjungi makam. Tradisi ini juga menjadi kesempatan untuk mengenang jasa para ulama, mendoakan para masyayikh, sekaligus menelusuri kembali nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari Tambakberas, pengunjung dapat melihat bagaimana tradisi pesantren dan perjalanan panjang Nahdlatul Ulama tumbuh dari perjuangan para ulama yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu, umat, dan bangsa.

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *