BOROBUDURCHANEL.COM – JOMBANG — Setiap kali sejarah Nahdlatul Ulama (NU) ditulis ulang, nama KH Abdul Wahab Hasbullah atau Mbah Wahab selalu berada di salah satu titik paling awal perjalanan organisasi tersebut.
Lahir di Tambakberas, Jombang, pada 31 Maret 1888, Mbah Wahab merupakan putra KH Hasbullah Said dan Nyai Latifah, pengasuh Pesantren Tambakberas. Ia tumbuh dalam tradisi pesantren sebelum melanjutkan pendidikan ke Tanah Suci Mekah.
Jejak Mbah Wahab dalam sejarah NU bukan hanya sebagai salah satu pendiri. Ia juga meninggalkan gagasan tentang bagaimana keberagamaan, kebangsaan, kaderisasi, dan organisasi dapat berjalan beriringan.
Merintis Organisasi Sebelum NU Berdiri
Jauh sebelum NU lahir pada 1926, Mbah Wahab telah merintis sejumlah organisasi yang kemudian menjadi embrio gerakan NU.
Pada 1916, ia bersama sejumlah tokoh muda, termasuk Mas Mansur, mendirikan Nahdlatul Wathan atau Kebangkitan Bangsa.
Organisasi tersebut menjadi ruang pendidikan sekaligus pembangkitan semangat kebangsaan dan nasionalisme di kalangan generasi muda.
Pada tahun yang sama, Mbah Wahab juga menciptakan lagu Yalal Wathan yang kemudian populer dengan sebutan Syubbanul Wathan.
Lagu tersebut awalnya dinyanyikan para santri sebelum kegiatan belajar di madrasah. Tujuannya menumbuhkan semangat cinta tanah air.
Hingga kini, Yalal Wathan masih kerap dikumandangkan dalam berbagai kegiatan warga Nahdliyin sebagai salah satu simbol perjuangan kebangsaan Mbah Wahab.
Dua tahun kemudian, pada 1918, Mbah Wahab mendirikan Nahdlatul Tujjar atau Kebangkitan Kaum Pedagang bersama KH Hasyim Asy’ari.
Organisasi tersebut menghimpun para pedagang dan pengusaha di sekitar Surabaya, Jombang, dan Kediri. Selain kegiatan ekonomi, Nahdlatul Tujjar juga menjadi salah satu pusat penggalangan dana untuk pengembangan Islam dan perjuangan kemerdekaan.
Mbah Wahab kemudian melanjutkan gagasannya melalui Tashwirul Afkar di Surabaya. Forum ini menjadi ruang diskusi yang mempertemukan kalangan modernis dan pesantren untuk membahas persoalan keagamaan dan kemasyarakatan.
Dari Komite Hijaz Menuju Lahirnya NU
Titik penting perjalanan Mbah Wahab terjadi ketika dunia Islam menghadapi perubahan politik di kawasan Hijaz pada pertengahan 1920-an.
Ekspansi gerakan Wahabi dari Najed menguasai wilayah Hijaz, termasuk Mekah dan Madinah. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai keberlangsungan tradisi dan kebebasan bermazhab di Tanah Suci.
Atas izin gurunya, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab menjadi salah satu penggerak utama yang mengundang para kiai untuk membahas persoalan tersebut.
Pertemuan itu kemudian melahirkan Komite Hijaz. Delegasi tersebut dibentuk untuk menyampaikan aspirasi para ulama, termasuk meminta jaminan kebebasan menjalankan tradisi dan bermazhab di Tanah Suci.
Dari kebutuhan mengirim utusan atas nama sebuah organisasi itulah para kiai kemudian sepakat mendirikan jam’iyah baru bernama Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926.
KH Hasyim Asy’ari dipercaya menjadi pemimpin NU. Sementara itu, Mbah Wahab ikut merancang struktur kepemimpinan organisasi dengan membagi dua badan utama, yakni Syuriyah dan Tanfidziyah.
Struktur tersebut menjadi upaya untuk mempertemukan otoritas keagamaan para ulama senior dengan kerja organisasi dan eksekutif generasi muda.
Kebangsaan dan Hubbul Wathan Minal Iman
Setelah NU berdiri, Mbah Wahab terus berperan dalam memperkuat organisasi agar tidak berhenti sebagai perkumpulan ulama.
Ia ikut mendorong terbentuknya jaringan, kaderisasi, serta kemampuan organisasi untuk bergerak di tengah masyarakat.
Kemampuan berkomunikasi dan membangun hubungan antarkiai menjadi salah satu kekuatan Mbah Wahab. Ia juga dikenal mampu menjembatani persoalan keagamaan dengan kepentingan kebangsaan.
Bagi Mbah Wahab, nasionalisme tidak harus dipertentangkan dengan agama.
Pandangan tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi penting pemikiran kebangsaan NU yang dikenal luas melalui prinsip hubbul wathan minal iman, yakni cinta tanah air merupakan bagian dari iman.
Gagasan tersebut tidak berhenti pada semboyan. Ketika Indonesia menghadapi ancaman kembalinya penjajahan setelah Proklamasi Kemerdekaan, Mbah Wahab bersama para ulama NU turut berada dalam barisan perjuangan mempertahankan republik.
Peran dalam Resolusi Jihad
Salah satu momentum penting terjadi pada Oktober 1945 ketika para ulama NU mengeluarkan Resolusi Jihad.
Resolusi tersebut menegaskan kewajiban mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia dari ancaman pasukan Sekutu dan Belanda.
Seruan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membangkitkan perlawanan masyarakat, terutama para santri dan ulama, menjelang Pertempuran Surabaya.
Bagi Mbah Wahab, perjuangan mempertahankan kemerdekaan menjadi bentuk konkret dari gagasan bahwa kecintaan terhadap bangsa dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab keagamaan.
Terbuka terhadap Modernitas, Tetap Merawat Tradisi
Mbah Wahab juga dikenal memiliki pandangan yang rasional dan visioner dalam menghadapi perubahan zaman.
Ia tidak menolak pembaruan secara mentah, tetapi juga tidak meninggalkan tradisi pesantren yang telah menjadi fondasi kehidupan masyarakat.
Sikap tersebut membuat pemikiran Mbah Wahab tetap relevan. Modernitas diterima dengan pertimbangan, sementara tradisi tetap dirawat selama memiliki kemaslahatan bagi masyarakat.
Mbah Wahab dan Lahirnya ISHARI
Jejak Mbah Wahab juga tercatat dalam perkembangan seni hadrah yang kemudian terorganisasi melalui Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI).
Tradisi hadrah telah berkembang di Pasuruan melalui Jam’iyyah Hadrah yang dirintis KH Abdurrahim jauh sebelum ISHARI berdiri.
Ketika kelompok-kelompok hadrah semakin berkembang, Mbah Wahab melihat perlunya wadah yang dapat menghimpun dan mengorganisasikannya.
Atas inisiatif Mbah Wahab, pada 1959 berbagai kelompok hadrah tersebut diarahkan menjadi organisasi bernama Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (ISHARI).
Peran Mbah Wahab tidak hanya sebatas memberi nama atau merestui. Ia ikut mendorong tradisi hadrah yang telah hidup di tengah masyarakat menjadi sebuah jam’iyyah yang lebih terorganisasi dan memiliki hubungan kelembagaan dengan NU.
Atas peran tersebut, ISHARI menganugerahkan gelar “Bapak ISHARI Nahdlatul Ulama” kepada KH Abdul Wahab Hasbullah.
Gelar tersebut diberikan pada 20 Agustus 2026 dalam rangkaian malam Istighotsah dan Doa Bersama untuk kesuksesan Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Menjadi Rais Aam hingga Akhir Hayat
Pada fase akhir pengabdiannya, Mbah Wahab tetap menjadi salah satu figur sentral dalam kepemimpinan NU.
Ia dipercaya sebagai Rais Aam hingga akhir hayatnya. Dalam Muktamar NU ke-25 di Surabaya pada Desember 1971, amanah tersebut kembali diberikan kepadanya.
Namun, hanya beberapa hari setelah muktamar, Mbah Wahab wafat pada 29 Desember 1971 dalam usia 83 tahun.
Atas jasa dan perjuangannya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada KH Abdul Wahab Hasbullah pada 7 November 2014.
Jejak Mbah Wahab membentang dari pendidikan, koperasi dagang, forum diskusi, struktur organisasi, perjuangan kemerdekaan, hingga gagasan tentang hubungan agama dan kebangsaan.
Warisan terbesarnya bukan hanya organisasi yang pernah ia rintis, tetapi cara berpikir bahwa persatuan dan kedaulatan bangsa harus diwujudkan melalui kerja panjang, kaderisasi, tradisi, komunikasi, dan kemaslahatan masyarakat.











