MAGELANG, BOROBUDURCHANEL – Nama Kyai Nur Muhammad atau yang akrab dikenal masyarakat sebagai Mbah Nur Muhammad merupakan sosok ulama kharismatik yang memiliki peran besar dalam perkembangan Islam di wilayah Salaman, Kabupaten Magelang, dan kawasan Lereng Menoreh. Hingga kini, keteladanan, perjuangan, serta karomah beliau masih dikenang melalui tradisi ziarah yang terus hidup di tengah masyarakat.
Dalam berbagai kisah tutur yang berkembang secara turun-temurun, Mbah Nur Muhammad dikenal sebagai seorang guru hikmah, pendakwah, sekaligus waliyullah yang mengabdikan hidupnya untuk menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan yang santun dan penuh kebijaksanaan.
Jejak Perjuangan Dakwah
Perjalanan dakwah Mbah Nur Muhammad berpusat di wilayah Ngadiwongso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Pada masa itu, kawasan lereng perbukitan Menoreh masih menjadi daerah yang membutuhkan penguatan ajaran Islam.
Melalui keteladanan, pendidikan agama, serta pendekatan yang humanis kepada masyarakat, beliau berhasil menanamkan nilai-nilai Islam hingga berkembang menjadi tradisi keagamaan yang tetap terjaga sampai sekarang.
Selain dikenal sebagai pendakwah, Mbah Nur Muhammad juga diyakini memiliki kedalaman ilmu hikmah dan tasawuf sehingga banyak santri maupun masyarakat datang untuk menimba ilmu dan meminta nasihat.
Guru Spiritual Pangeran Diponegoro
Dalam tradisi lisan yang berkembang di masyarakat Magelang, Kyai Nur Muhammad juga disebut memiliki hubungan erat dengan perjuangan Perang Jawa (1825–1830). Beliau dipercaya menjadi salah satu guru spiritual sekaligus penasihat bagi Pangeran Diponegoro dalam menghadapi perjuangan melawan penjajahan.
Peran tersebut menunjukkan bahwa perjuangan ulama pada masa itu tidak hanya dilakukan melalui dakwah, tetapi juga memberikan bimbingan moral dan spiritual kepada para pejuang bangsa.
Meski demikian, sebagian kisah tersebut lebih banyak diwariskan melalui tradisi tutur masyarakat dan belum seluruhnya terdokumentasi dalam sumber sejarah akademik.
Kisah Pertemuan dengan KH Ahmad Dalhar
Salah satu kisah yang paling dikenal masyarakat adalah pertemuan Mbah Nur Muhammad dengan ulama besar Watucongol, KH. Ahmad Dalhar.
Diceritakan, keduanya pertama kali bertemu saat sama-sama menunaikan ibadah haji di Makkah. Setelah saling berkenalan, mereka terkejut mengetahui bahwa keduanya berasal dari wilayah Magelang.
Sejak kepulangan dari Tanah Suci, hubungan persaudaraan dan silaturahmi spiritual kedua ulama tersebut terus terjalin dan diwariskan kepada generasi penerus hingga sekarang.
Makam yang Tak Pernah Sepi Peziarah
Kompleks makam Mbah Nur Muhammad berada di Desa Ngadiwongso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Hingga kini, lokasi tersebut menjadi salah satu tujuan wisata religi yang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Pulau Jawa maupun luar Jawa.
Setiap hari, rombongan peziarah datang menggunakan kendaraan pribadi maupun bus untuk bertawasul dan mendoakan sang ulama. Aktivitas ziarah semakin meningkat menjelang bulan-bulan tertentu dalam kalender Hijriah.
Pengelolaan kompleks makam dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat tanpa memberlakukan tiket masuk, sehingga siapa pun dapat berziarah dengan nyaman.
Haul dan Warisan Keteladanan
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa beliau, masyarakat bersama para santri rutin menggelar haul setiap tahun yang diisi dengan pembacaan selawat, pengajian, doa bersama, serta berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
Tradisi tersebut bukan sekadar mengenang sosok Mbah Nur Muhammad, tetapi juga menjadi sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah dan meneladani nilai-nilai perjuangan, keikhlasan, serta pengabdian beliau dalam menyebarkan ajaran Islam.
Hingga kini, nama Kyai Nur Muhammad tetap hidup di hati masyarakat Magelang sebagai ulama kharismatik yang meninggalkan jejak dakwah mendalam. Keteladanan beliau menjadi inspirasi bahwa penyebaran Islam dilakukan melalui ilmu, akhlak, dan kasih sayang kepada sesama.
Catatan : Beberapa bagian, seperti hubungan Kyai Nur Muhammad dengan Pangeran Diponegoro dan kisah pertemuan dengan KH Ahmad Dalhar, merupakan tradisi tutur yang hidup di masyarakat dan perlu dibedakan dari fakta sejarah yang telah terdokumentasi secara akademik. (nur sidiq)







