Dari Tiga Sahabat Gus Dur hingga Tokoh Nasional, Awal Kedekatan Gus Yahya, Cak Imin, dan Gus Ipul

KH. Yahya Cholil Staquf Gus Yahya Muhaimin Iskandar Cak Imin Saaefulloh Yusuf Gus Ipul. foto Collage 1
KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Muhaimin Iskandar ( Cak Imin), Saaefulloh Yusuf (Gus Ipul). (foto Collage)
banner 468x60

BOROBUDURCHANEL.COM – Di balik dinamika hubungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan pemerintahan, tersimpan kisah panjang tiga tokoh yang pernah tumbuh dalam lingkungan yang sama, dibimbing oleh guru yang sama, dan mengawali perjalanan sebagai kader muda Nahdlatul Ulama (NU). Mereka adalah KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, dan Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.

Saat ini, ketiganya menempati posisi strategis di panggung nasional. Gus Yahya memimpin PBNU sebagai Ketua Umum, Cak Imin memimpin PKB sekaligus menjabat Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, sedangkan Gus Ipul dipercaya sebagai Menteri Sosial Republik Indonesia.

Namun jauh sebelum dikenal sebagai tokoh nasional, mereka adalah tiga sahabat yang sama-sama tumbuh dalam tradisi pesantren, aktif di organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan NU, serta belajar langsung dari Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Perjalanan mereka menjadi potret bagaimana satu generasi kader NU berkembang menjadi pemimpin dengan medan pengabdian yang berbeda. Ada yang memilih jalur organisasi, ada yang mengabdikan diri di dunia politik, dan ada pula yang meniti karier di pemerintahan.

Berasal dari Keluarga Besar Nahdlatul Ulama

Kesamaan pertama yang dimiliki ketiganya adalah berasal dari keluarga yang memiliki akar kuat di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Gus Yahya lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 16 Februari 1966. Ia merupakan putra KH Muhammad Cholil Bisri, seorang ulama kharismatik yang dikenal luas di kalangan NU. Keluarga Besar KH Cholil Bisri memiliki peran penting dalam perkembangan pendidikan pesantren di Rembang.

Dari keluarga inilah lahir sejumlah tokoh nasional, termasuk almarhum KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah yang merupakan kakak kandung Gus Yahya.

Lingkungan pesantren membentuk karakter Gus Yahya sejak kecil. Ia tumbuh di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Perpaduan pendidikan pesantren dan perguruan tinggi membuat Gus Yahya dikenal sebagai sosok yang memiliki perhatian besar terhadap isu kebangsaan, demokrasi, hingga dialog lintas agama.

Sementara itu, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 24 September 1966. Ia berasal dari keluarga pesantren yang juga memiliki hubungan erat dengan tradisi Nahdlatul Ulama.

Ayahnya, KH Muhammad Iskandar, dikenal sebagai pengasuh pesantren, sedangkan ibunya, Muhasonah, juga berasal dari keluarga kiai. Sejak kecil, Cak Imin menempuh pendidikan di lingkungan pesantren sebelum melanjutkan kuliah di Universitas Gadjah Mada.

Selama menjadi mahasiswa, Cak Imin aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dari organisasi inilah kemampuan kepemimpinan dan jaringan organisasinya mulai terbentuk.

Adapun Saifullah Yusuf atau Gus Ipul lahir di Pasuruan, Jawa Timur, pada 28 Agustus 1964. Ia berasal dari keluarga besar KH Bisri Syansuri, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus Rais Aam PBNU.

Hubungan keluarga tersebut menjadikan Gus Ipul memiliki kedekatan dengan Gus Dur yang juga merupakan cucu KH Bisri Syansuri.

Sejak muda, Gus Ipul aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan NU. Kemampuannya dalam memimpin organisasi membuatnya dipercaya mengemban berbagai amanah, termasuk di Gerakan Pemuda Ansor.

Dipertemukan dalam Gerakan Kaderisasi NU

Meski berasal dari daerah yang berbeda, perjalanan Gus Yahya, Cak Imin, dan Gus Ipul mulai bertemu pada penghujung dekade 1980-an hingga awal 1990-an.

Saat itu NU sedang mengalami perubahan besar setelah kembali ke Khittah 1926. Di bawah kepemimpinan Gus Dur, NU tidak hanya berkembang sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga menjadi ruang lahirnya kader-kader muda yang aktif dalam gerakan intelektual, demokrasi, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan masyarakat sipil.

Berbagai forum diskusi, pelatihan kader, seminar, hingga kegiatan organisasi menjadi tempat bertemunya para aktivis muda NU dari berbagai daerah.

Di lingkungan itulah Gus Yahya, Cak Imin, dan Gus Ipul membangun hubungan persahabatan.

Ketiganya dikenal sebagai kader muda yang aktif berdiskusi mengenai masa depan NU, perkembangan demokrasi di Indonesia, hingga berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

PMII Menjadi Laboratorium Kepemimpinan

Salah satu ruang kaderisasi yang memiliki pengaruh besar terhadap perjalanan mereka adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Pada masa itu PMII menjadi organisasi kemahasiswaan yang banyak melahirkan pemimpin nasional dari kalangan nahdliyin. Di organisasi tersebut para kader ditempa untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, komunikasi, dan kepekaan terhadap persoalan sosial.

Walaupun latar aktivitas organisasi mereka tidak sepenuhnya sama, ketiganya berada dalam atmosfer intelektual yang sama.

Diskusi mengenai demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme, pemberdayaan masyarakat, ekonomi kerakyatan, hingga masa depan Islam Indonesia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para aktivis muda NU pada dekade 1990-an.

Pengalaman inilah yang kemudian membentuk karakter kepemimpinan masing-masing ketika memasuki dunia organisasi, politik, maupun pemerintahan.

Belajar Langsung dari Gus Dur

Salah satu benang merah yang mempererat hubungan Gus Yahya, Cak Imin, dan Gus Ipul adalah kedekatan mereka dengan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Sebagai Ketua Umum PBNU saat itu, Gus Dur dikenal memberikan ruang yang luas kepada kader-kader muda untuk berkembang.

Ia tidak hanya mengajarkan ilmu keislaman, tetapi juga nilai-nilai demokrasi, toleransi, kemanusiaan, dan pentingnya menjaga persatuan bangsa.

Cak Imin dan Gus Ipul memiliki hubungan kekeluargaan dengan Gus Dur melalui trah KH Bisri Syansuri.

Sementara itu, Gus Yahya dikenal sebagai salah satu kader intelektual yang mendapatkan kepercayaan besar dari Gus Dur dalam berbagai forum pemikiran dan kebangsaan. Kepercayaan itu kemudian berlanjut ketika Gus Dur menjadi Presiden RI dan menunjuk Gus Yahya sebagai Juru Bicara Presiden.

Kedekatan dengan Gus Dur membuat ketiganya sering bertemu dalam berbagai kegiatan organisasi maupun diskusi kebangsaan.

Banyak tokoh NU menyebut generasi tersebut sebagai salah satu generasi emas kader muda yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin di masa depan.

Kisah Bus Bungurasih yang Selalu Dikenang

Salah satu cerita yang menggambarkan eratnya hubungan mereka datang dari tulisan Gus Yahya yang diunggah melalui media sosial pada Juli 2019.

Dalam tulisan tersebut, Gus Yahya mengenang perjalanan bersama Cak Imin dan Gus Ipul menggunakan bus dari Terminal Bungurasih, Surabaya, menuju Rembang.

Saat itu mereka belum menjadi pejabat, belum dikenal masyarakat luas, dan masih menjalani kehidupan sederhana sebagai aktivis muda NU.

Mereka menempuh perjalanan panjang dengan kendaraan umum, berdiskusi sepanjang jalan, membicarakan masa depan NU, serta cita-cita membangun Indonesia.

Dalam tulisan tersebut, Gus Yahya bahkan menyebut Cak Imin dan Gus Ipul sebagai “dua orang kesayangan saya.”

Ungkapan itu menunjukkan bahwa hubungan mereka bukan sekadar hubungan organisasi, tetapi juga persahabatan yang tumbuh melalui perjalanan panjang sebagai sesama kader muda NU.

Persahabatan yang Kelak Diuji Waktu

Tidak ada yang menyangka bahwa tiga sahabat yang pernah bepergian menggunakan bus antarkota itu kelak akan menjadi tokoh penting di Indonesia.

Sejarah membawa mereka memasuki jalan pengabdian yang berbeda. Gus Yahya lebih banyak mengabdikan diri pada penguatan organisasi dan diplomasi keagamaan. Cak Imin memilih jalur politik melalui PKB, sedangkan Gus Ipul berkiprah di pemerintahan sebelum kembali dipercaya mengemban amanah di lingkungan NU dan kabinet.

Perbedaan pilihan tersebut pada akhirnya menghadirkan dinamika baru dalam hubungan mereka. Dalam beberapa momentum, ketiganya berada dalam posisi yang berbeda ketika menyikapi persoalan organisasi maupun politik nasional.

Meski demikian, sejarah mencatat bahwa sebelum berbagai dinamika itu terjadi, Gus Yahya, Cak Imin, dan Gus Ipul pernah berjalan dalam satu barisan sebagai kader muda Nahdlatul Ulama yang sama-sama belajar dari Gus Dur dan memiliki cita-cita besar untuk mengabdi kepada agama, organisasi, dan bangsa. (arief)

Bersambung ke Bagian II: Reformasi 1998 Ubah Jalan Tiga Sahabat, Begini Perjalanan Gus Yahya, Cak Imin, dan Gus Ipul.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *