BOROBUDURCHANEL.COM – Final Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan pertarungan dua raksasa sepak bola dunia, Spanyol dan Argentina, tetapi juga menyuguhkan kisah menarik di balik duel dua pelatih yang memiliki hubungan istimewa sebagai guru dan murid.
Pelatih Timnas Spanyol, Luis de la Fuente, dijadwalkan menghadapi pelatih Argentina, Lionel Scaloni, pada partai puncak yang berlangsung di Stadion New York–New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7/2026) malam WIB.
Pertandingan ini menjadi sorotan bukan semata karena memperebutkan trofi paling bergengsi di dunia sepak bola, tetapi juga karena perjalanan panjang kedua pelatih yang pernah dipertemukan dalam ruang kelas kepelatihan.
Berawal dari Kursus Lisensi UEFA Pro
Hubungan keduanya bermula pada November 2017 ketika Lionel Scaloni mengikuti kursus lisensi UEFA Pro di La Ciudad del Fútbol, Las Rozas, Madrid.
Saat itu, Scaloni yang masih menjadi asisten pelatih Sevilla mengikuti pendidikan kepelatihan bersama sejumlah mantan pesepak bola ternama Argentina, seperti Javier Saviola dan Fernando Redondo.
Salah satu instruktur dalam program tersebut adalah Luis de la Fuente, yang kala itu menangani Timnas Spanyol U-19 sekaligus menjadi pengajar di Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF).
Menjelang semifinal Piala Dunia 2026, Scaloni mengenang sosok mantan instrukturnya tersebut.
“Dia adalah profesor saya, Luis de la Fuente, di kursus kepelatihan,” ujar Scaloni seperti dikutip CBS Sports.
Pelatih Argentina itu mengaku banyak mendapatkan ilmu dan dukungan dari De la Fuente selama mengikuti pendidikan kepelatihan.
“Dia banyak membantu kami. Dia orang yang hebat. Saya telah beberapa kali berbicara dengannya dan saya mendoakan yang terbaik untuknya,” kata Scaloni.
Hubungan emosional Scaloni dengan Spanyol juga cukup kuat. Selain pernah berkarier di sejumlah klub La Liga, istrinya, Elisa Montero, merupakan warga negara Spanyol.
De la Fuente Bangga Melihat Muridnya Bersinar
Luis de la Fuente pun tak menutupi rasa bangganya melihat salah satu mantan muridnya berkembang menjadi pelatih elite yang sukses membawa Argentina bersaing di level tertinggi sepak bola dunia.
“Saya cukup beruntung bisa mengajar berbagai kursus kepelatihan. Bintang-bintang sepak bola yang sekarang ingin menjadi pelatih, dan saya beruntung bisa melatih Lionel Scaloni di antara mereka,” ujar De la Fuente.
Ia mengaku terus mengikuti perkembangan karier Scaloni sejak dipercaya menangani Argentina.
“Kami memiliki hubungan yang luar biasa. Dia adalah juara dunia. Tentu, dia cukup dipertanyakan pada awalnya karena dia datang dengan sedikit pengalaman,” katanya.
Pertarungan Dua Generasi Pelatih
Final ini juga mempertemukan dua generasi pelatih dengan perjalanan karier yang berbeda.
Luis de la Fuente membangun reputasinya melalui pembinaan usia muda dan sistem kepelatihan sepak bola Spanyol selama puluhan tahun sebelum akhirnya dipercaya menangani tim senior.
Di sisi lain, Lionel Scaloni menjalani transisi yang relatif cepat dari mantan pemain menjadi pelatih tim nasional Argentina sejak dipercaya memimpin Albiceleste pada 2018.
Kini, keduanya berdiri sejajar di panggung terbesar sepak bola dunia dengan satu tujuan yang sama, membawa negaranya menjadi juara dunia.
Bagi Scaloni, kemenangan akan menjadi pembuktian bahwa dirinya mampu membawa Argentina kembali meraih supremasi sepak bola dunia sekaligus mengalahkan sosok yang pernah menjadi mentornya.
Sementara bagi De la Fuente, laga ini menjadi kesempatan menyempurnakan perjalanan panjangnya di dunia kepelatihan dengan mempersembahkan gelar Piala Dunia bagi Spanyol.
Terlepas dari siapa yang keluar sebagai pemenang, final Spanyol kontra Argentina dipastikan menghadirkan kisah yang melampaui sekadar persaingan taktik di lapangan. Pertemuan guru dan murid di partai puncak menjadi narasi yang memberi warna tersendiri bagi salah satu laga paling bergengsi dalam sejarah sepak bola.(*)









