BOROBUDURCHANEL.COM – TEMANGGUNG – Tradisi Sadranan Gunung Sindoro kembali digelar sebagai wujud rasa syukur masyarakat lereng Gunung Sindoro atas limpahan hasil bumi sekaligus penghormatan kepada para leluhur.
Tradisi yang dipusatkan di Desa Mranggen Kidul, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, ini menjadi warisan budaya yang terus dijaga sebagai bagian dari identitas masyarakat pegunungan.
Setiap tahun, Sadranan Gunung Sindoro tidak hanya diikuti warga setempat, tetapi juga menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah hingga wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung kekayaan budaya lereng Gunung Sindoro.
Tradisi ini menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Bagi masyarakat agraris di kawasan lereng Sindoro, hasil panen merupakan anugerah yang patut disyukuri. Karena itu, tradisi sedekah bumi ini terus dipertahankan sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai kehidupan dan kearifan lokal.
Kirab Budaya Angkat Hasil Bumi
Rangkaian Sadranan Gunung Sindoro diawali dengan kirab budaya yang membawa berbagai hasil bumi sebagai simbol rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian. Gunungan berisi aneka sayuran, buah-buahan, hingga komoditas unggulan khas lereng Gunung Sindoro diarak bersama berbagai kelompok kesenian tradisional.
Sepanjang perjalanan kirab, masyarakat memadati lokasi kegiatan untuk menyaksikan prosesi yang berlangsung meriah. Warga mengenakan pakaian adat dan busana tradisional, menambah semarak suasana sekaligus memperkuat nuansa budaya Jawa yang masih terjaga hingga kini.
Tari Blendrong Meriahkan Sadranan
Suasana semakin hidup dengan penampilan Tari Blendrong, salah satu kesenian tradisional yang menjadi daya tarik utama dalam pelaksanaan Sadranan Gunung Sindoro.
Selain Tari Blendrong, sejumlah pertunjukan seni tradisional lainnya juga ditampilkan sebagai upaya melestarikan kesenian daerah sekaligus mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda maupun wisatawan yang hadir.
Doa Bersama dan Makan Tumpeng
Usai kirab budaya, masyarakat mengikuti doa bersama yang dipimpin tokoh agama dan tokoh adat setempat. Doa dipanjatkan sebagai permohonan keselamatan, keberkahan, kemakmuran, serta hasil panen yang melimpah pada musim berikutnya.
Puncak acara ditandai dengan makan tumpeng bersama. Tradisi tersebut melambangkan semangat gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat lereng Gunung Sindoro.
Momentum makan bersama juga menjadi ajang silaturahmi yang mempererat hubungan antarwarga dari berbagai dusun dan kalangan.
Digelar pada Bulan Suro
Sadranan Gunung Sindoro umumnya diselenggarakan pada bulan Suro atau Tahun Baru Jawa, maupun pada hari-hari yang dianggap sakral berdasarkan kesepakatan tokoh adat dan masyarakat setempat.
Penentuan waktu pelaksanaan dilakukan melalui musyawarah sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang masih dipegang teguh oleh masyarakat lereng Gunung Sindoro.
Dipadukan dengan Pelestarian Lingkungan
Dalam perkembangannya, Sadranan Gunung Sindoro tidak hanya berfokus pada pelestarian tradisi leluhur. Berbagai kegiatan pendukung turut digelar, seperti Festival Wiwit Kopi, promosi produk pertanian lokal, hingga sedekah pelestarian lingkungan.
Kolaborasi tersebut menjadi upaya memperkenalkan potensi budaya dan pertanian Temanggung sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian alam di kawasan lereng Gunung Sindoro.
Pelestarian budaya dan lingkungan dinilai saling berkaitan karena kehidupan masyarakat setempat sangat bergantung pada keberlanjutan sumber daya alam yang ada.
Melalui tradisi yang terus dijaga dari generasi ke generasi, masyarakat berharap nilai gotong royong, rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, serta kepedulian terhadap budaya dan lingkungan tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Selain menjadi warisan budaya, Sadranan Gunung Sindoro juga terus berkembang sebagai salah satu daya tarik wisata budaya Kabupaten Temanggung yang memperkuat identitas daerah sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.(*)









